JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah diminta menghintung secara terbuka harga keenomian BBM bersubsidi khususnya Pertelite (RON 90). Hal tersebut sangat penting untuk menjaga transparansi subsisi BBM ditengah kondisi ekonomi global yang kritis.
“Semua masih belum jelas, bagaimana menghintung harga sekarang atau rerata,” ungkap Ketua Bidang Kebijakan Publik DPN Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Achmad Nur Hidayat, dalam keteranganya, di Jakarta, Sabtu (26/8).
Sementara, berdasarkan pantauan redaksi, masih ada SPBU swasta yang menjual BBM jenis RON (89) dengan harga Rp9.200 per liter, serta SPBU lainnya menjual dengan harga Rp17.200 an (RON 92) sekelas Pertamax. Sedangkan, harga keekonomian Pertamax (RON 92) sebesar Rp19.900 pere liter.
Dengan RON 92 yang sama, swasta mampu menjual Rp17.000-an per liter, sedangkan harga keekonomian Pertamax (RON92), sebesar Rp19.900 per liter. Sepertinya, swasta tidak menjual RON 92 dibawah harga keenomiian, alias merugi, apa benar?
Sementara, untuk harga Pertalite menurut keterangan pemerintah memiliki harga keekonomian Rp17.200 per liter. Sementara, SPBU swasta mampu menjual RON 89 seharga Rp9.200 an per liter, dan ini pelaku usaha sudah mendapatkan keuntungan dari penjualan ini.
Madnur sapanya, mengatakan, harga keekonomian harus dihitung dengan menggunakan metode yang benar. Terlebih, sekarang ini harga minyak dunia juga sudah menurun. “Harga minyak sekarang ini sedang turun,” ujarnya./


