JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (06/4) ditutup melemah 26,90 poin ke posisi 6.792,7. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 3,49 poin ke posisi 937,2. Pelemahan kali ini dipimpin oleh saham sektor teknologi.
“IHSG dan bursa regional Asia cenderung melemah yang tampaknya terpengaruh rilis data aktivitas industri jasa Amerika Serikat (AS), yang mana dalam rilisnya US ISM Services Index turun dari sebelumnya 55,1 menjadi 51,2,” tulis Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (06/4).
US ISM Services Index meskipun masih di zona ekspansi, namun pasar khawatir sebagai tanda-tanda ekonomi Negeri Paman Sam melambat, sehingga bisa memberikan dampak resesi dan saat yang sama The Fed masih terus menggunakan kebijakan moneter yang ketat untuk melawan inflasi.
Sebelumnya, Presiden The Fed Cleveland yaitu Loretta Mester mengatakan bahwa suku bunga di AS akan tetap naik, meskipun ada pelemahan pertumbuhan ekonomi, serta menyarankan suku bunga akan tetap berada di atas level 5 persen untuk waktu lebih lama.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih nyaman bergerak di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, satu sektor menguat yaitu sektor keuangan yang naik 0,12 persen.
Sedangkan, sepuluh sektor melemah dipimpin sektor teknologi yang turun 1,51 persen, diikuti sektor kesehatan dan sektor energi yang masing-masing turun 1,36 persen dan 0,95 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu NASI, KJEN, HOMI, WAPO, dan AXIO. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni HILL, WSBP, HATM, BSML dan SAGE.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.304.424 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 21,51 miliar lembar saham senilai Rp21,50 triliun. Sebanyak 204 saham naik, 323 saham menurun, dan 200 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 340,70 poin atau 1,22 persen ke 27.472,6, indeks Hang Seng naik 56,60 poin atau 0,28 persen ke 20.331,1, indeks Shanghai menguat 0,07 poin atau 0,00 persen ke 3.312,6, dan indeks Strait Times melemah 17,68 poin atau 0,53 persen ke 3.301,1.
Rupiah Menguat
Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup naik 20 poin atau 0,13 persen ke posisi Rp14.912 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya, yaitu Rp14.932 per dolar AS.

“Pasar masih menunggu data penggajian non-pertanian atau non-farm payrolls AS yang ekspektasinya akan lebih rendah,” ungkap Ekonom Senior Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto seperti dilansir Antara.
Selain itu, ia menuturkan Rupiah juga saat ini dipengaruhi oleh publikasi data ketenagakerjaan nasional Automatic Data Processing (ADP) AS yang lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan.
Laporan itu pada Rabu (5/4) mencatat pekerjaan swasta meningkat sebanyak 145 ribu pada bulan lalu, sedangkan para ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan pekerjaan swasta meningkat 200 ribu.
Data muncul setelah laporan Selasa (4/4) yang menunjukkan penurunan dalam lowongan pekerjaan untuk Februari dan setelah survei manufaktur AS yang lemah pada Senin (3/4) dari Institute for Supply Management (ISM), yang juga menunjukkan komponen ketenagakerjaan yang lemah.
Laporan lain pada Rabu (5/4) juga mengindikasikan berlanjutnya pelemahan ekonomi, kali ini di sektor jasa-jasa. Industri itu melambat lebih dari yang diharapkan pada Maret karena permintaan mendingin, sementara ukuran harga yang dibayarkan oleh bisnis jasa-jasa turun ke level terendah dalam hampir tiga tahun.
Indeks non-manufaktur ISM turun menjadi 51,2 bulan lalu dari 55,1 pada Februari, sementara komponen harga yang dibayar turun menjadi 59,5 dari 65,6 pada Februari, dengan indikator ketenagakerjaan sektor jasa-jasa juga turun menjadi 45,8 dari 47,6 pada Februari.
Dengan demikian, Rully menyebutkan nilai tukar rupiah cenderung dipengaruhi sentimen global lantaran data ekonomi di dalam negeri masih minim.
Rupiah pada pagi hari dibuka menurun 33 poin atau 0,22 persen ke posisi Rp14.965 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak dalam rentang Rp14.912 per dolar AS hingga Rp14.968 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis melemah ke posisi Rp14.943 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.933 per dolar AS./







































