www.bisnistoday.co.id
Saturday , 28 January 2023
Home LIFESTYLE INDEF : Medsos Jadi Ajang Pertempuran Popularitas
LIFESTYLEPolitik & KeamananTrends & Mode

INDEF : Medsos Jadi Ajang Pertempuran Popularitas

MEDIA SOSIAL : Ilustrasi pemanfaatan media sosial dalam berbagai kegiatan masyarakat, belum lama ini.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pengamat Media dan Demokrasi dari LP3ES (Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) menyatakan platform media sosial (medos) menjadi ajang pertemuan memperebutkan popularitas dalam politik. Bagi si pemenang pencitraan di medsos akan lebih berpeluang menang dalam pesta demokrasi. 

Hal ini diungkapkanWijayanto, Direktur Pusat Studi Media dan Demokrasi LP3ES, saat diskusi yang diprakarsai Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) tentang Kaleodoskop Kabinet Indonesia Maju 2022 bertajuk “Sepak Terjang Kebijakan Kabinet Indonesia Maju dan Respon Masyarakat Melalui Pendekatan Big Data” pada Jumat (23/12).

Ia mengatakan, survei Centre for Strategic and International Studies.(CSIS), Pemilu 2024 diisi hampir 60% oleh generasi Z dan Gen Milenial. Sosok Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil dan Erick Thohir menjadi popular di generasi ini. “Hal itu karena figure-figur tersebut memanfaatkan media sosial tiktok, dan lain-lain sebagai alat mendongkrak kepopuleran,” terangnya. 

Wijayanto mengatakan, kenapa politisi repot-repot bermain di medsos tiktok dan lain-lain, karena politisi tahu betul, siapa yang memenangkan medsos maka dia kemungkinan besar adalah pemenang pemilu. Ditambah, elit cenderung melakukan manipulasi opini untuk memenangkan suara publik. Bagi yang paham, akan mengerti bahwa pertarungannya sebenarnya memang ada di media sosial.

Kemunduran Demokrasi

Didalam empat tahun terakhir, lanjut Wijayanto,  LP3ES mengadakan outlook berupa refleksi atas situasi demokrasi di Indonesia yang mengalami kemunduran sejak 2019-2022 dan mungkin 2023. Salah satu outlook LP3ES dilaksanakan dengan diskusi 136 tokoh ilmuwan politik dan 20 di antaranya dari luar negeri. 

“Mereka semuanya sepakat tentang adanya kemunduran demokrasi di Indonesia yang dirangkum dalam satu judu buku: “Demokrasi tanpa Demos” katanya.

Demokrasi memang ada, tetapi dalam kebijakan-kebijakan politiknya mengingkari aspirasi publik, mengingkari Demos. Sistemnya demokrasi, ada pemilu dan sebagainya, tetapi praktiknya meninggalkan aspirasi warga. “Tidak heran jika kebijakan-kebijakan yang popular selama 2022 adalah kebijakan yang justru merugikan publik, misalnya kelangkaan minyak goreng.”

Wijayanto mengutarakan, dalam ilmu politik menurut Thomas R Dye (1978) kebijakan politik adalah :“Public Policy is whatever a government choses to do or even not to do”, apapun yang dilakukan pemerintah entah dilakukan ataupun tidak dilakukan, itu adalah kebijakan. Jadi apabila minyak goreng langka adalah karena pemerintah memilih untuk membiarkan kelangkaan minyak goreng. 

Ia menambahkan, riset Drone Emprit, KTLV dan LP3ES, misalnya pada kebijakan revisi UU KPK 2019, meski yang kontra kebijakan tersebut tinggi, namun tetap menjadi kebijakan. Ada juga manipulasi opini publik seperti tagar-tagar KPK Taliban, KPK patuh aturan dsb. Berdasarkan riset LP3ES isu itu diciptakan oleh buzzersRp., yang bekerja karena dibayar. Hal lainnya adalah UU Omnibus Law 2020 yang juga resistensinya tinggi, dan MK sudah menyatakan UU tersebut cacat formal dan procedural.

Medsos Menteri Lebih Populer

Wijayanto mengatakan, menteri-menteri paling popular menjelang tahun politik ternyata tokoh lebih popular daripada Kementeriannya. Hal itu menunjukkan budaya politik Indonesia secara umum, bahwa politik nasional masih berkutat pada tokoh, pada individu. 

“Ketika Anies Baswedan sebagai capres ratingnya naik, ternyata kemudian berpengaruh pada Partai Nasdem yang mendukungnya. Jokowi juga berpengaruh pada PDIP meski naik turun ratingnya. Juga dulu tokoh SBY mendongkrak elektabilitas Partai Demokrat,” terangnya. 

Figure-figur tersebut, menurut Wijayanto,orang yang selalu masuk dalam survei. Sejauh ini yang paling popular adalah Menhan Prabowo, meski tren nya menurun namun masih di papan atas. Machfud MD menyusul dan diisukan disiapkan jadi wapres. Juga Erick Thohir, dan SMI. 

“Mereka popular karena kinerjanya bagus atau tidak? Itu yang jadi pertanyaan. tetapi meamng, nama-nama itu secara volume dan perbincangan konsisten ada di top of mind perbincangan publik medsos,” terangnya.

Terkait temuan INDEF, menurut Wijayanto, figure menteri jauh lebih popular ketimbang Kementeriannya. Itu menjadi catatan tersendiri. Mestinya seimbang antara lembaga dan menterinya. Walaupun ditinjau dari masa depan demokrasi dan masa depan pertumbuhan ekonomi suatu negara apalagi di negara maju, maka siapapun pejabatnya, sistemnya atau negaranya akan konsisten prestasinya dalam sisi demokrasi juga ekonomi.

“Jadi tidak mengandalkan pada tokoh. Pada sisi lain itu merefleksikan bangunan sistem yang masih kurang terbentuk,” ujarnya. 

“Masalah kita hari ini : ada tokoh-tokoh yang cukup popular, ada mereka yang mendominasi percakapan di medsos atau di survei. tapi pertanyaanya mereka popular dalam hal apa? apakah punya pikiran-pikiran yang progresif untuk mengatasi aneka problem sosial ekonomi politik dan budaya di Indonesia, atau hanya orang-orang yang pandai membuat konten, tapi kurang dalam gagasan,” tuturnya./

Archives

Bisnistoday - Inspire Your Business

Pertamina is The Energy

Semangat Bangkit

PT Waskita Karya Tbk

Terserah Kamu

Sorotan Bisnistoday

Bisnistoday - Inspire Your Business

Jasa Marga Raih Emiten Terbaik Dalam Ajang Bisnis Indonesia Award 2022

Related Articles

LIFESTYLETrends & Mode

Bee Gees Inspirasi Utama Album Band Jonas Brothers

JAKARTA, Bisnistoday - Gaya musik Bee Gees yakni grup lawas yang tenar...

LIFESTYLERona & Film

Aindo Hospitality Gelar “Service Attitude Training” Di Bogor

BOGOR,Bisnistoday- Berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor dan Dinas...

LIFESTYLESport

Kapoksahli Pangdam Jaya Buka Turnamen Catur Internasional

TANGERANG, Bisnistoday- Dalam rangka Ulang Tahun ke-3, Benteng Kelapa Dua (BKD) Chess...

LIFESTYLEWisata & Kuliner

Pemenang Barista Innovation Challenge Dikirim ke Itali

JAKARTA, Bisnistoday – Pemenang Barista Innovation Challenge (BIC) atau kompetisi meracik kopi...