JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabunagan (IHSG) pada perdagangan Rabu (2/2) ditutup menguat mengikuti pergerakan bursa Amerika Serikat dan bursa regional Asia yang bergerak menguat.
IHSG ditutup menguat 76,5 poin ke posisi 6.707,65. Sementara indeks LQ 45 naik 8,26 poin ke posisi 947,89.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, pergerakan IHSG yang menguat cenderung mengikuti dengan pergerakan bursa AS dan regional Asia yang juga bergerak menguat. Bursa AS menguat didorong oleh sektor energi dan IHSG didorong oleh penguatan dari sektor teknologi.
Dari dalam negeri, data inflasi Indonesia yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2022 mencapai 2,18 persen (yoy). Herditya menilai angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar seiring dengan adanya pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Sementara itu, analis Indo Premier Sekuritas, Mino seperti dilansir Antara mengatakan, menguatnya IHSG ditopang oleh meningkatnya inflasi inti pada Januari 2022 yang mencapai 1,84 persen.
“Inflasi inti yang kembali mencatatkan kenaikan menandakan mulai pulihnya daya beli masyarakat,” ujar Mino.
Selain itu, indeks manufaktur Januari yang tetap ekspansif juga turut menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG hari ini.
Berdasarkan survei IHS Markit, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Januari 2022 berada di level 53,7
Capaian tersebut naik dibanding Desember tahun lalu yang mencapai 53,5. Indeks di atas 50 menandakan bahwa industri manufaktur dalam tahap ekspansif.
Dibuka menguat, IHSG nyaman bergerak di zona hijau hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih terus berada di teritori positif sampai penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor meningkat dimana sektor teknologi naik paling tinggi yaitu 4,64 persen, diikuti sektor barang konsumen non primer dan sektor transportasi masing-masing 2,37 persen dan 2,2 persen. Sedangkan satu sektor terkoreksi yaitu sektor energi sebesar minus 1,2 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing di seluruh pasar yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau “net foreign buy” di seluruh pasar sebesar Rp326,73 miliar. Sedangkan di pasar reguler tercatat aksi beli asing dengan jumlah beli bersih Rp448,27 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.521.465 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 27,19 miliar lembar saham senilai Rp12,55 triliun. Sebanyak 325 saham naik, 204 saham menurun, dan 156 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 455,12 poin atau 1,68 persen ke 27.533,6. Sedangkan bursa saham Hong Kong dan Singapura masih tutup karena libur Tahun Baru Imlek.
Rupiah Menguat
Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat 22 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp14.358 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.380 per dolar AS.
“Penguatan didukung oleh optimisme pasar terhadap pemulihan ekonomi di tengah pandemi sehingga pelaku pasar masuk ke aset berisiko untuk mengambil peluang,” kata pengamat pasar uang, Ariston Tjendra.
Tapi, di sisi lain, lanjut Ariston, pelaku pasar masih mewaspadai sentimen kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral AS The Fed yang lebih agresif yang bisa mendorong penguatan dolar AS kembali.
“Kondisi inflasi AS yang meninggi dan situasi ketenagakerjaan AS yang membaik mendukung kebijakan pengetatan moneter AS yang agresif,” ujar Ariston.
Sentimen domestik lainnya yaitu Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat inflasi Januari 2022 sebesar 0,56 persen yang dipicu oleh kenaikan harga sejumlah bahan makanan.
Dengan terjadinya inflasi Januari 2022 sebesar 0,56 persen, maka inflasi tahun kalender tercatat 0,56 persen dan secara tahunan (yoy) 2,18 persen.
Menurut Ariston, kenaikan inflasi tersebut bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, tren kenaikan inflasi bisa menganggu pemulihan ekonomi karena daya beli masyarakat bisa tertekan sehingga bisa menekan rupiah.
“Tapi dari sisi moneter, ini bisa menjadi alasan Bank Indonesia untuk mulai mengetatkan kebijakan moneternya yang bisa menjaga perbedaan yield rupiah dengan dolar AS terjaga sehingga membantu menjaga nilai tukar rupiah bertahan terhadap dolar AS,” ujar Ariston./









































