JAKARTA, BisnisToday – Aroma takdir seringkali hadir dalam sketsa sejarah. Dalam gelanggang sepak bola, Indonesia baru saja menorehkan babak yang memiliki resonansi magis, bahkan getir, dengan masa lalu tim raksasa Asia, Jepang.
Sebuah kemiripan historis yang mengejutkan menyeruak di tengah hiruk pikuk ambisi Merah Putih menuju pentas global. Sejarah menunjukkan kemiripan nyata; Jepang pernah melewati fase kritis sebelum akhirnya bangkit dan menjadi kiblat sepak bola Asia kini.
Pengamat Olahraga Sepak Bola, Syaiful Amri menilai kegagalan Timnas Indonesia lawan Irak di Jazirah Arab mirip fase krisis Jepang dulu.“Indonesia memiliki kemiripan yang begitu presisi dengan kondisi Jepang. Yang membedakan hanya tahunnya saja,” ungkap mantan wartawan Jawa Pos Group ini, menukilkan filosofi tentang waktu yang berputar.
Tragedi Doha dan Echo di Riyadh
Ya, kemiripan itu terletak pada kegagalan pahit di Kualifikasi Piala Dunia.Pada bulan Oktober 1993, di tanah Arab, Jepang harus menelan pil pahit.Samurai Biru, yang kala itu dipimpin oleh pelatih asal Belanda, Hans Ooft, takluk dari Irak di detik-detik akhir sebuah drama yang dikenal sebagai “Tragedi Doha”.
Kekalahan itu mengubur mimpi emas mereka menuju Piala Dunia 1994.Syaiful menggambarkan fans timnas Jepang mengekspresikan kekecewaan dengan berdiam diri massal di rumah, menunjukkan sepak bola jadi denyut bangsa.
Fast forward ke era modern. Indonesia, sambung pria asal Kota Bandar Lampung ini, mengalami nasib serupa, juga di kualifikasi Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Arab Saudi.
Setelah kalah tipis 2-3 dari tuan rumah Arab Saudi laga yang diselimuti kontroversi penunjukan tuan rumah oleh AFC Garuda kembali takluk 0-1 atas Irak. Kekalahan di laga kedua ini menjadi penentu pahit.
Wasit asal China mengabaikan sejumlah pelanggaran mencolok, bahkan di kotak penalti, sehingga keputusannya di lapangan menuai kontroversi besar. Kartu merah memang keluar untuk pemain Irak, tapi tidak ada penalti. Keputusan itu sangat memukul mental Skuad Garuda yang dikomandoi Jay Noah Idzes.
Kegagalan yang sama di Tangan Irak:
Ironisnya, kegagalan yang menggagalkan langkah Indonesia ini juga datang dari Irak.Garuda dibesut oleh pelatih asal Belanda, Patrick Kluivert.
Sejarah seolah berulang dengan detail yang sangat mirip, dari lokasi, lawan, hingga kebangsaan sang Meneer di kursi kepelatihan.“Faktanya demikian ya, Indonesia dan Jepang memiliki kemiripan. Kegagalan di Jazerah Arab,” ucapnya
JFA Century Vision: Fondasi dari Akar Rumput
Syaiful Amri menjelaskan bahwa setelah Tragedi Doha ’93, Jepang tidak memilih jalan ratapan, tetapi jalan perbaikan total dan revolusioner.“Mereka memahami, kekalahan adalah guru terbaik, asal mau berkaca,” tandasnya.
Jepang terus berbenah dengan memperbaiki liganya, membangun proyek jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek.Titik balik utama, sambung Syaiful Amri, adalah kelahiran J.League pada tahun 1993, sebuah entitas yang benar-benar mengubah atmosfer sepak bola mereka dari semi-profesional menjadi industri modern.
Federasi Sepak Bola Jepang (Japan Football Association atau JFA) memprioritaskan pembangunan fondasi dari akar rumput. Kerangka kerja filosofis ini tertuang dalam konsep ambisius “JFA Century Vision”. Pria yang pernah berkarier di berbagai media itu menegaskan JFA merancang konsep 100 tahun kebangkitan sepak bola Jepang dunia.
JFA Century Vision Piramida Kokoh:
Prioritas JFA memaksimalkan peran pendidikan, terutama Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), untuk menumbuhkan bibit unggul dari pelosok desa.“Mereka percaya, karakter pemain ada di bangku sekolah,” ujarnya.
Konsep JFA Century Vision:
- Liga Berjenjang yang Terstruktur: JFA menciptakan ekosistem kompetisi yang tiada putus dari bawah ke atas.
- Tingkat Remaja/Sekolah: Kompetisi Antar-SMA (All Japan High School Soccer Tournament), sebagai kawah candradimuka pertama.
- Tingkat Mahasiswa: Kompetisi liga mahasiswa (di bawah naungan Japan University Football Association/JUFA), sebuah jalur alternatif vital bagi pemain yang tidak masuk akademi profesional.
- Tingkat Profesional: Liga Profesional J.League yang berjenjang (J1, J2, J3 League), ditopang oleh liga semi-profesional seperti Japan Football League (JFL) dan liga regional lainnya, memastikan setiap talenta memiliki panggung yang kompetitif.
Pemerintah pusat dan daerah membuktikan lewat reformasi fondasi bahwa sepak bola menjadi proyek kebangsaan, bukan sekadar proyek federasi.
Waktunya Indonesia Bercermin
Hasilnya sungguh nyata. Setelah membangun kembali dari puing-puing kegagalan 1994, Jepang menjelma menjadi kekuatan tak terbantahkan di Asia.
“Puncaknya, pada tahun 1998, Jepang berhasil lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dan sejak saat itu, mereka tak pernah absen,” ungkapnya.
Syaiful Amri menekankan bahwa Indonesia, dengan kesamaan sejarah yang begitu presisi, memiliki peluang emas untuk mencontoh dan mengadopsi filosofi kebangkitan Jepang.“Kepada Ketua Umum PSSI Pak Erick Thohir, dan Presiden Prabowo, ayo kembangkan konsep seperti Jepang,” pintanya.“Filosofinya jelas, jangan malu mencontoh yang baik. Apa pun kesulitan di depan,” imbuhnya.
“Yakinlah masyarakat selalu memberikan dukungan terbaik demi kemajuan sepak bola Indonesia menuju pentas dunia,” pungkasnya.Syaiful Amri memberikan pesan optimis bahwa setiap kegagalan hanyalah jeda menuju kebangkitan besar.


