JAKARTA, Bisnistoday – Ditengah kondisi pasar global dihantui perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China, pasar industri kayu global masih menjanjikan. Sekarang, tren pasar produk kayu yang laku di pasar Eropa dan Amerika adalah produk industri berbahan kayu alami serta kayu olahan.
“Seperti mau masuk ke pasar AS atau Eropa, produk kayu Indonesia harus memenuhi kebutuhan pasar mereka. Pasar kayu di nagara maju, memperlihatkan tren konsumen terhadap produk kayu berbahan alami serta produk kayu olahan. Untuk bahan kayu alam juga mereka pilih-pilih, serta kayu olahan, dengan mengedepankan lingkugan berkelanjutan dan tidak merusak hutan,” ujar Krisna Septiningrum, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Kemenperin, di Jakarta, Kamis (13/2).
Lebih lanjut Krisna menuturkan, sekarang ini ekspor produk kayu terbesar untuk tujuan Amerika Serikat. Pasar negara maju menginginkan produk kayu yang ramah lingkungan. Prinsip keberlanjutan bagi konsumen negara maju sangat dijaga. “Materi kayu harus penuhi legalitas, bahan-bahan ramah lingkungan, kayu, rotan dan lainnya dan penting juga less chemical (tidak berbahan kimia),” tambahnya.
Bagi Indonesia, lanjut Krisna, sebenarnya Indonesia memiliki kekuatan ketersediaan material bahan kayu yang melimpah. Hanya saja, para eksportir kayu ini memproduksi skala besar sehingga butuh teknologi modern untuk produksi yang efisien. Dengan begitu untuk masuk ke pasar global memerlukan produk berkualitas dan selektif dari perubahaan mumpuni.
“Perang dagang China -AS, malah ada kecenderungan investor dari China khususnya untuk memanfaatkan momentum dengan berinvestasi pabrik di Indonesia. Sebab, Indonesia kaya material kayu serta apabila ekspor melalui Indonesia terhindar dari tarif tinggi masuk AS akibat perang dagang. Ini salah satu siasat dagang investor China untuk menghindari tarif bea masuk ke AS yang tinggi.”
Berdasarkan data Kemenperin, bahwa peran industri agro termasuk industri kayu didalamnya /terhadap PDB Industri Pengolahan Non Migas pada Kuartal IV-2024 lalu, sebesar 51,81%. Kemudian disusul Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional porsi 10,25%. Begitupun, untuk industri Barang Logam Computer, Barang Elektronik, Optic dan Peralatan Listrik sebesar 9,39%, serta Industri Alat Angkutan tercatat porsinya 8,11% maupun Industri Tekstil dan Pakaian Jadi berkontribusi 5,79%.
LIGNA 2025 di Hanover Jerman
Beberapa bulan lagi, para pelaku industri kayu dunia akan berkumpul di LIGNA 2025 di Hanover, Jerman. Paula Yahya, Managing Director Representative Indonesia penyelenggara pameran LIGNA mengutarakan, pemeran industri kayu dunia akan digelar di Hanover Jerman pada 26-30 Mei 2025 mendatang.
“Diperkirakan, sekitar dua pertiga peserta pemeran serta pengunjung berasal dari luar Jerman. Diajang ini merupakan momentum untuk melihat langsung berbagai peralatan, permseian dan sistem tercanggih untuk pengerjaan dan pemrosesan kayu,” ujar Paula Yahya.
Ia menambahkan, hingga Januari 2025 kemarin, peserta yang berkomitmen hadir sekitar 1.200-an peserta. Diharapkan masih ada waktu lagi menjelang pameran di bula Mei nanti, kemungkinan bisa melebihi LIGNA 2023 lalu yang pesertanya mencapai 1.300-an peserta.
“Kali ini, LIGNA 2025 mengusung tema LIGNA Connectivity, LIGNA Sustainable, LIGNA Production, dan LIGNA Engineered Wood. Ini merupakan kesempatan langka bagi pelaku industri kayu,” tambahnya./






































