JAKARTA, Bisnistoday – Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya, Kementerian PUPR mencatat sebanyak 59 BUMD atau 15% dari 388 BUMD Air Minum berkekinerja sakit dari hasil pantauan. Sedangkan senbanyak 104 BUMD Air Minum (27%) berkinerja kurang sehat dan terdapat 225 BUMD Air Minum (58%) yang tergolong berkinerja Sehat.
“Penyebab kinerja BUMD Air Minum kurang sehat dan sakit antara lain rata-rata tarif belum memenuhi tarif FCR (full cost recovery), pelanggan di bawah 20.000 sambungan rumah (SR) dan tingkat kehilangan air masih tinggi sekitar 33,24%,” kata Direktur Air Minum, Kementerian PUPR, Anang Mukhlis saat peluncuran Buku Kinerja BUMD Air Minum 2021 di Jakarta, akhir pekan.
Anang Mukhlis berharap pemda dapat memberikan dukungan kepada BUMD Air Minum kurang sehat dan sakit berupa persetujuan untuk menerapkan tarif FCR, penyertaan modal atau memberikan subsidi bagi BUMD yang belum menerapkan tarif FCR. Selain itu BUMD Air Minum dapat melakukan efisiensi biaya operasional dan mengoptimalkan pendapatan serta melakukan pengembangan investasi bekerja sama dengan sesama BUMD Air Minum atau badan usaha lainnya.
Adapun sesuai kewenangannya, pemerintah pusat akan memberikan bantuan program dalam rangka optimalisasi, fungsionalisasi/ rehabilitasi atau pembangunan baru untuk meningkatkan cakupan pelayanan air minum dengan syarat readiness criteria. Pemerintah pusat juga akan memberikan dukungan kebijakan untuk meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia untuk BUMD Air Minum.
Dukungan infrastruktur air minum telah dilakukan Kementerian PUPR salah satunya melalui pembangunan SPAM Regional, baik yang bersumber dari dana APBN atau skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Berita Terkait : Pamsimas Bagian Program Pemberdayaan Masyarakat Bidang Air Minum
Misalnya SPAM Regional Jatiluhur I dengan memanfaatkan air baku dari Bendungan Jatiluhur untuk menyediakan pasokan air minum sebesar 4.750 liter/detik, yang akan didistribusikan kepada sekitar 380.000 sambungan rumah (SR) atau sekitar 1,9 juta jiwa yang ada di Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Buku Kinerja BUMD
Dirjen Cipta Karya, Kementerian PUPR, Diana Kusumastuti menuturkan, Buku Kinerja BUMD Air Minum 2021 baru-baru ini, untuk menjadi referensi mengukur tingkat kinerja pelayanan air minum Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai penyelenggara air minum. Hal ini, utamanya untuk mendukung Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) masyarakat selama masa Pandemi COVID-19.
“Berdasarkan Buku Kinerja BUMD Air Minum 2021 didapatkan bahwa rata-rata cakupan pelayanan teknis air minum perpipaan di daerah baru mencapai 28,85% dan secara administrasi baru mencapai 22,63%, sehingga masih harus ditingkatkan. Hal tersebut dapat dilakukan apabila Pemda memiliki BUMD Air Minum yang berkinerja Sehat dan Mandiri,” kata Dirjen Cipta Karya, Kementerian PUPR, Diana Kusumastuti saat peluncuran Buku Kinerja BUMD Air Minum 2021 di Jakarta, akhir pekan.
Diana Kusumastuti mengatakan Buku Kinerja BUMD Air Minum 2021 dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan, khususnya Pemerintah Daerah. Buku ini sebagai salah satu bahan acuan untuk menyusun kebijakan, strategi program dan kegiatan peningkatan layanan air minum sebagai upaya menjaga kesehatan masyarakat dan pemulihan ekonomi di daerah.
Dirjen Cipta Karya menambahkan, ketersediaan sarana dan prasarana air minum juga sangat penting dalam membantu masyarakat menjaga perilaku hidup bersih serta melaksanakan prosedur kesehatan (prokes) guna mengurangi penyebaran Virus COVID-19, khususnya varian Omicron saat ini.
“Hal tersebut dapat terwujud, apabila pemda menyediakan sarana dan prasarana air minum yang mudah dijangkau masyarakat,” ujar Diana Kusumastuti./




