JAKARTA, Bisnistoday – Bangsa Indonesia rasanya patut berbangga memiliki sosok pemimpin yang sederhana yang ditunjukkan Dr. (H.C) Drs. H. Mohammad Hatta, salah satu proklamator bangsa. Sosok wakil presiden RI pertama lahir di sebuah daerah bernama Bukittinggi, Sumatra Barat ini, membuat gemas semua orang, karena kesederhanaan perilakunya dalam memimpin negara.
Kesederhanaan seorang Wakil Presiden RI pertama ini, bahkan membuat bangga keluarga sampai sekarang. Sejumlah sekelumit cerita, disaat beliau wafat, sang keluarga terkejut sekaligus bersedih tatkala membuka dompet Bung Hatta. Diceritakan saat wafat, terdapat potongan kertas koran yang bertuliskan alamat tukang sepatu impiannya.
Sang proklamator ini menyimpan sobekan kertas tersebut ketika sewaktu-taktu punya rezeki bermaksud agar bisa membeli sepatu impiannya. Hanya saja, sampai akhir masa hidupnya uang di tabungannya tidak mencukupi untuk membeli sepatu impiannya yakni sepatu bermerk Bally.
Seperti diketahui, bahwa bally shoes sejatinya merek sepatu legendaris asal Swiss yang diperkirakan sudah berproduksi sejak tahun 1850-an. Penampilan sepatu yang nyaman, fashionable, dan stylish membuat Bally jadi impian banyak orang termasuk Bung Hatta.
Sikap kesederhanaan Bung Hatta juga terungkap ketika memberikan emas kawin sang istri tercitanya, Rahmi. Saat itu, Bung Hatta menghadiahi pujaan hatinya denga sebuah buku tulisannya sendiri berjudul “Alam Pikiran Yunani”. Begitupun masa akhir hayatnya pada tahun 1980, Bung Hatta mewariskan hartanya termahal yakni perpustakaan pribadinya berisi 30 ribu judul buku didioramanya.
Masih banyak sikap yang ditauladaninya, seperti halnya begitu disiplin tentang penggunaan alat negara. Saat menjabat sebagai Wapres RI, terekam kemarahanya saat ajudan menggunakan tiga lembar kertas dari Setneg, untuk membuat Surat atas nama Wakil Presiden. Si ajudan, yang bernama I Wangsa Wijaya, harus mengganti tiga helai kertas Setneg yang dipakainya dengan uang dari kantong pribadi Bung Hatta.
Bahkan di akhir hayatnya, Bung Hatta berpesan melalui Surat Wasiatnya agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Baginya pemakaman itu terlalu mewah dan tidak pantas untuk Hatta yang berjiwa merakyat. Ia tidak ingin punya keistimewaan yang melebihi rakyatnya. /
Jakarta, Oktober 2024
Tim Redaksi


