PELAKSANAAN Initial Public Offering (IPO) PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berlangsung mulus, hampir tiada cacat. Namun, penawaran saham perdana perusahaan energi ini, entah kenapa mendapat tudingan miring, bahkan dianggap merugikan negara.
Menanggapi IPO PGEO ini, Wamen Kementerian BUMN I, Pahala Nugraha Mansury mengatakan, pelaksanaan IPO PGEO mampu mengumpulkan dana segar senilai Rp9 Triliun dan bukan dana kecil.
Selama ini, perusahaan rerata setiap tahun mampu pendapatan bertumbuh 5-10%. Pendapatan PGE mencapai USD 287 juta hingga akhir Kuartal III 2022 atau tumbuh 3,9 persen year-on-year (yoy) atau hampir 4 persen. Sedangkan, pendapatan tiap tahunnya terus meningkat yakni USD 328 juta pada 2019, USD 354 juta pada 2020, dan USD 369 juta pada 2021.
Dengan pertumbuhan pendapat yang konsisten ini,PGEO mampu mencetak laba bersih naik 67,8% secara tahunan per September 2022 USD 111 juta. Sedangkan untuk Net Profit Margin (NPM) melaju dari 24% pada Kuartal III 2022 menjai 38,8% pada Kuartal III -2022.
Disisi lain, ada kontra dari pendapat tersebut, bahkan meminta untuk membatalkan IPO PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Aksi korporasi anak usaha Pertamina ini dianggap bertentangan dengan UU BUMN dan berpotensi merugikan negara.
Wakil Rakyat memandang, ada dua poin krusial kenapa IPO PGEO yakni, pertama, terkait perubahan status kepemilikan aset di BUMN yang semula sebagai aset negara akan berubah menjadi aset perusahaan.
Kedua, terkait status kepemilikan perusahaan yang semula milik negara nanti akan berubah menjadi milik swasta. Perubahan status aset dan kepemilikan perusahaan ini yang dinilai berbahaya.
Nah, IPO seolah dinilai menjadi strategi pengalihan aset negara di anak perusahaan BUMN. Selain itu, IPO juga bisa menjadi langkah awal privatisasi perusahaan milik negara.
Merasa Dirugikan?
Dari aspek kebijakan, pengamat kebijakan publik bidang politik dan ekonomi menguraikan, kebutuhan IPO perusahan dianggap belum mendesak. Pertama, kalau saja IPO untuk keperluan ekspansi usaha, PGE bisa dapat dana dari dua sumber yakni, dana pinjaman (utang) dan dari penyertaan modal, yang salah satunya dari IPO.
Sementara, apabila dana utang bisa diperoleh dari dua sumber, yaitu utang dari lembaga keuangan komersial atau bisa dari pembiayaan proyek (project financing).
Untuk PGE, kedua sumber pendanaan ini diperkirakan sangat mudah didapat, karena PGE sangat seksi di mata negara maju, dan pasti banyak yang mau memberi project financing. Tentunya, biaya (suku bunga) utang pun relatif sangat murah, terlebih project financing.
Kinerja Sangat Ciamik
Sementara, performance perusahaan cukup meyakinkan dalam beberapa tahun terakhir. Total utang PGE cukup rendah. Rasio utang terhadap modal (ekuitas), atau Debt-Equity-Ratio (DER) hanya 0,57 kali, per 30 September 2022.
Artinya, keuangan PGE sangat sehat sekali. DER sekitar satu atau lebih rendah mencerminkan keuangan perusahaan sangat sehat. DER antara satu dan dua, masih cukup sehat.
Artinya, PGE masih mempunyai kapasitas sangat besar untuk menambah utang, masih bisa menambah utang menjadi dua atau tiga kali lipat dari nilai utang bersih yang hanya sekitar 700 juta dolar AS per 30 Juni 2022.
Apabila, utang PGE bertambah 700 juta dolar AS, rasio utang (DER) PGE hanya naik menjadi sekitar 1,1 saja. Artinya, keuangan PGE masih dalam kondisi sangat sehat.
Jumlah 700 juta dolar AS ini lebih besar dari rencana IPO, yang hanya dapat dana sekitar 600 juta dolar AS, tapi kehilangan 25 persen kepemilikan saham. Jadi, untuk apa IPO?
Sementara, kedua yakni sumber pendanaan bisa diperoleh dari utang dengan menjual saham/IPO.
Kedua jenis pendanaan ini tidak gratis tentu ada biayanya. Biaya untuk utang dinamakan suku bunga. Biaya untuk “jual saham” IPO dinamakan tingkat keuntungan untuk pemegang saham, atau Return on Equity (ROE) atau laba bersih dibagi modal ekuitas.
Biaya utang dinilai akan lebih murah dari biaya “jual saham” IPO. Artinya, sumber dana IPO lebih mahal dari sumber dana utang dan project financing. Karena itu, PGE akan dirugikan kalau dipaksa IPO./
Oleh : Tim Redaksi
(Direngkum dari berbagai sumber)









































