www.bisnistoday.co.id
Senin , 11 Mei 2026
Home BURSA & KORPORASI Meski Dibayangi Aksi Ambil Untung IHSG Tetap Menguat
BURSA & KORPORASI

Meski Dibayangi Aksi Ambil Untung IHSG Tetap Menguat

IHSG menguat
IHSG dan rupia pada perdagangan Kamis (21/03) ditutup menguat
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (15/10) ditutup menguat tipis 7,22 poin ke posisi 6.633,34. Sementara indeks LQ45 turun 0,45 poin ke posisi 972,21.

IHSG pada perdagangan akhir pekan bergerak fluktuatif seiring sentimen aksi ambil untung.

“Jelang akhir pekan ini, pergerakan indeks IHSG tampaknya terpengaruh sentimen eksternal dan internal,” tulis Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya di Jakarta, Jumat (15/10).

Dari eksternal, muncul kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi China seiring rilis data inflasi secara tahunan yang turun dari sebelumnya 0,8 persen menjadi 0,7 persen.

Bursa regional Asia sendiri cenderung menguat ditopang oleh rilis kinerja keuangan perusahaan Amerika Serikat (AS) yang lebih baik dari perkiraan dan data ekonomi yang turut membantu meredakan kekhawatiran investor tentang tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan.

Jumlah klaim pengangguran mingguan AS juga menambah sentimen positif pasar. Klaim pengangguran turun dari sebelumnya 329.000 klaim menjadi 293.000 klaim.

Sementara dari internal, IHSG bergerak fluktuatif seiring sentimen aksi ambil untung yang membayangi perdagangan hari ini pada saat neraca perdagangan Indonesia yang dirilis pagi tadi kembali membukukan surplus pada September 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus 4,37 miliar dolar AS pada September 2021 dengan nilai ekspor 20,6 miliar dolar AS dan impor 16,23 miliar dolar AS.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini yang semula 3,9 persen menjadi 3,2 persen secara tahunan. Penurunan proyeksi sebesar 0,7 persen itu seiring dengan adanya perkembangan varian delta di global, termasuk Indonesia.

Meskipun sebenarnya sudah terlihat momentum pemulihan ekonomi dunia, namun pandemi Covid-19 dinilai masih menjadi risiko utama.

Dibuka menguat, IHSG tak lama melemah dan terus berada di zona hijau hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih berada di teritori positif hingga akhirnya naik jelang penutupan bursa saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor meningkat dimana sektor properti & real estat naik paling tinggi yaitu 0,86 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor barang infrastruktur masing-masing 0,66 persen dan 0,6 persen.

Sedangkan tujuh sektor terkoreksi dimana sektor transportasi & logistik turun paling dalam yaitu minus 0,99 persen, diikuti sektor kesehatan dan sektor teknologi masing-masing minus 0,47 persen dan minus 0,44 persen.

Penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing sebesar Rp1,5 triliun.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.319.095 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 21,81 miliar lembar saham senilai Rp17,64 triliun. Sebanyak 244 saham naik, 258 saham menurun, dan 163 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 517,7 poin atau 1,81 persen ke 29.068,63, indeks Hang Seng naik 368,37 poin atau 1,48 persen ke 25.330,96, dan indeks Straits Times meningkat 14,15 poin atau 0,45 persen ke 3.179,01.

Rupiah Menguat

Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta menguat 43 poin atau 0,3 persen ke posisi Rp14.075 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.118 per dolar AS.

“Faktor domestik lebih kuat dan bagus kali ini. Jadi bisa menahan gempuran USD,” kata analis DC Futures, Lukman Leong seperti dikutif Antara.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jumat pagi ini, merilis data neraca perdagangan Indonesia yang tercatat mengalami surplus 4,37 miliar dolar AS pada September 2021 dengan nilai ekspor 20,6 miliar dolar AS dan impor 16,23 miliar dolar AS.

“Harga batubara yang tinggi membantu nilai ekspor dan neraca perdagangan yang baru dirilis hari ini surplus besar 4,37 miliar dolar, lebih tinggi dari perkiraan oleh lonjakan 47 persen pada ekspor,” ujar Lukman.

Selain itu, lanjut Lukman, penguatan rupiah juga ditopang perjanjian pertukaran dana atau swap mata uang Indonesia dengan beberapa negara mitra dagang yang mulai menurunkan permintaan domestik terhadap dolar AS./


Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

eBay (dok: usplash/appshunter-io)
BURSA & KORPORASIEkonomi & BisnisKorporasiOtomotif & Tekno

GameStop Akuisisi eBay Senilai Rp975 Triliun

JAKARTA, Bisnistoday -GameStop, salah satu perusahaan ritel pengecer video game asal Amerika...

BursaBURSA & KORPORASIHEADLINE NEWS

Astra Tebar Deviden Fantastis Rp15,6 Triliun, Pemegang Saham Perseoran Raup Rp292 Per Saham

JAKARTA, Bisnistoday - PT Astra International Tbk  (Astra) berhasil mencetak laba bersih...

Panama City (dok: Unsplash/Sol Cerrud)
BURSA & KORPORASIEkonomi & BisnisGLOBALKawasan Global

Para Konglomerat Sembunyikan Pajak Senilai 3% dari PDB Global

JAKARTA-Bisnistoday: Lembaga nirlaba internasional, Oxfam mengungkapkan orang-orang superkaya di dunia diduga menyembunyikan...

BURSA & KORPORASIKorporasi

BRI Life Luncurkan Logo Baru dan Identitas Visual Perusahan

JAKARTA, Bisnistoday – PT Asuransi BRI Life mengumumkan perubahan logo perusahaan sebagai...