JAKARTA, Bisnistoday – Polusi udara bukan lagi sekadar angka statistik, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan. Setiap pagi, puluhan ribu pengendara motor dan mobil memadati jalan-jalan utama Jakarta, menyisakan jejak asap yang menyesakkan. Data Institute of Development of Economics and Finance (INDEF) tahun 2023 mencatat, emisi gas buang dari kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 81,17 juta ton CO₂ per hari. Angka fantastis yang jika tidak segera ditangani, akan membebani generasi mendatang.
Siti Rahma (34), seorang karyawan swasta yang tinggal di kawasan Kemayoran, mengaku hampir setiap hari harus memakai masker meskipun sedang tidak pandemi. “Udara pagi sudah terasa berat, apalagi kalau macet. Rasanya paru-paru cepat sekali lelah,” tuturnya. Kisah Rahma hanyalah satu dari sekian banyak wajah masyarakat yang berhadapan langsung dengan dampak polusi.
Di tengah tantangan itu, secercah harapan muncul dari dunia sains: microalgae. Organisme mikroskopis ini belakangan disebut-sebut sebagai “mesin hijau” penyerap karbon. Potensinya bahkan jauh melampaui pepohonan. Jika pohon berusia 10–20 tahun hanya mampu menyerap 60 gram CO₂ per hari, microalgae bisa menyerap 10 hingga 50 kali lipat lebih banyak, dengan masa pertumbuhan yang jauh lebih singkat, hanya sekitar empat minggu.
“Microalgae memang bukan material konstruksi, tetapi perannya sangat signifikan dalam konteks keberlanjutan. Organisme ini mampu menyerap karbon dioksida dengan cepat, sehingga dapat menjadi solusi praktis bagi industri, termasuk konstruksi,” ujar Nyiayu Chairunnikma, Head of Marketing Semen Merah Putih.
Semen Merah Putih menjadi salah satu perusahaan yang mencoba mengintegrasikan microalgae ke dalam strategi keberlanjutan. Selain menekan jejak karbon industri semen, langkah ini juga membuka peluang pemanfaatan lebih luas, mulai dari bahan pangan, energi alternatif, hingga material ramah lingkungan.
“Bagi kami, pemanfaatan alternatif ramah lingkungan seperti microalgae adalah bagian dari komitmen untuk mendorong efisiensi, keberlanjutan, dan tanggung jawab lingkungan. Eksplorasi inovatif ini bukan sekadar tren, melainkan investasi bagi generasi mendatang,” tambah Ayu.
Bagi Rahma, mendengar kabar adanya inovasi ini memberi sedikit rasa lega. “Kalau benar bisa membantu mengurangi polusi, tentu saya mendukung. Kita butuh solusi cepat, karena rasanya sulit berharap hanya pada pohon di kota besar seperti Jakarta,” ujarnya.
Dengan dukungan teknologi, gaya hidup berkelanjutan tidak lagi sebatas wacana, tetapi bisa menjadi jalan keluar nyata. Microalgae hanyalah salah satu contoh bagaimana inovasi bisa menjadi jembatan antara kebutuhan pembangunan dan kelestarian bumi. Pada akhirnya, keberlanjutan bukan sekadar jargon, melainkan pilihan sadar untuk menanam kebaikan bagi masa depan.//




