JAKARTA, Bisnistoday – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (25/8) diprediksikan masih mixed dengan peluang penguatan terbuka lebar. Hal tersebut terinspirasi atas penguatan saham di bursa global serta kawasan Asean. Isu paling kuat muncul dari Jerome Powell yang memberi statement yang cenderung dovish.
“Kami merasa bahwa masih ada peluang di awal pekan ini IHSG akan menguat, mengikuti penguatan signifikan di bursa saham AS. Dow Jones, dan Nasdaq menguat, masing-masing sebesar 1,9%, sedangkan S&P500 menguat 1,5%. Dalam pidatonya pada symposium Jackson Hole, pada hari Jumat (22/8), Jerome Powell, di luar perkiraan, memberi statement yang cenderung dovish, mensinyalkan perlunya pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat,” urai Rully Arya Wisnubroto, Senior Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia di Jakarta, Senin (25/8).
IHSG ditutup melemah selama dua hari berturut-turut, di hari Kamis dan Jumat, masing-masing sebesar 0,4% dan 0,7%, setelah mencapai rekor tertinggi pada penutupan hari Rabu (20/08) pada posisi 7.944, dan pada hari Jumat ditutup pada level 7.858,9. Dibandingkan dengan penutupan pekan sebelumnya, IHSG melemah 0,5%.
Namun demikian investor asing kembali melakukan aksi beli terhadap saham-saham di Indonesia. Pada hari Jumat terjadi net inflows sebesar IDR424,6miliar, dan selama dua minggu telah terjadi akumulasi arus modal asing masuk IDR10,7 triliun.
Baca Juga : Tren “Bullish” Masih Terjaga, Diperkirakan IHSG Masih Konsolidasi
Secara teknis, analis PT Mirae Asset Sekuritas, Tasrul Tanar mengatakan, kondisi IHSG berada di oversold ekstrem, karena itu berpotensi untuk rebound. IHSG ditutup di 7,858.85 pada Jumat, 22 Agustus 2025 setelah bergerak di kisaran 7,913.39–7,858.85.
“Secara statistik dikategorikan short term (30 hari) dengan R-squared 0.848, Z-score 1.44, dan slope positif 26.70, menandakan tren menengah masih terjaga. Area teknikal penting berada di resistance 7,917–7,958 dan support 7,829–7,782, dengan critical level 7,782 sebagai batas utama,” urai Tasrul Tanar.
Kendati begitu, sejumlah indikator teknikal masih mengarah bearish. MACD 121.43 vs 123.24 negatif, MFI 18.09 dan RSI 19.42 di zona oversold ekstrem, W%R -75.83 serta CMO -61.17 menegaskan dominasi tekanan jual. Kondisi ini menunjukkan indeks jenuh jual, dengan peluang rebound hanya valid bila menembus resistance terdekat.
Menurut Tasrul, volume harian 399,412,439 lebih tinggi dari rata-rata 276,613,159, mencerminkan transaksi ramai meski didominasi distribusi. Selama bertahan di atas support 7,829 dan critical 7,782, potensi rebound terbuka. Namun bila 7,782 ditembus, risiko koreksi lebih dalam meningkat. Strategi terbaik adalah disiplin menjaga 7,782 sebagai cut loss sambil menunggu konfirmasi rebound di atas 7,917–7,958 menuju 8,072.//


