JAKARTA, Bisnistoday – Industri makanan dan minuman (F&B) Indonesia sedang menanjak, dengan proyeksi nilai pasar food service mencapai US$62,4 miliar (Rp1,01 triliun) pada 2025. Pertumbuhan tahunan 13% hingga 2030 ini didorong oleh permintaan produk halal, teknologi pengolahan modern, dan ekspansi pasar digital.
Sebagai pasar halal terbesar dunia, Indonesia memiliki peluang emas dengan konsumsi produk halal senilai US$135 miliar (2023). Namun, tantangan seperti akses distribusi, regulasi, dan koneksi bisnis masih menghambat pelaku usaha lokal untuk go global.
Melihat potensi tersebut, MoreFood Expo 2026 hadir untuk menjembatani sekaligus memberi solusi kepada para pelaku industri F&B di Tanah Air. Pameran ini akan digelar pada 7–10 Mei di JIExpo Kemayoran Jakarta. Pameran B2B ini akan mempertemukan pelaku industri F&B, buyer terkurasi, dan pakar teknologi pengemasan dari dalam dan luar negeri.
“MoreFood Expo 2026 bukan sekadar pameran, tapi platform strategis untuk menjembatani pelaku usaha dengan pasar global, khususnya di sektor halal yang tumbuh pesat,” ujar Carrie Wang dari Huamo Expo, saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (24/7/2025).
Selain pameran, acara ini menawarkan business matching, seminar regulasi halal, dan kolaborasi dengan Café Brasserie Expo serta Franchise & License Expo Indonesia. Tujuannya, menciptakan sinergi antar-sektor dan memperluas jaringan bisnis.
Siti Nur Azizah Ma’ruf Amin, Ketua Asosiasi Pecinta Rempah Nusantara, menambahkan, “Edukasi dan pendampingan sertifikasi halal adalah kunci. MoreFood Expo akan jadi wadah memperkuat ekosistem halal nasional.”
Dukungan dari asosiasi dan kurasi buyer global diharapkan bisa membuka peluang ekspor bagi UMKM hingga industri besar. Acara ini menjadi momentum untuk mempercepat transformasi digital dan sertifikasi halal di sektor F&B.




