JAKARTA, Bisnistoday – Lembaga survei yakni Mahardhika Paripurna memperlihatkan masih banyaknya guru belum mengetahui informasi terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para guru malah masih mengandalkan media sosial dalam mendapatkan informasi mengenai pelaksanaan MBG.
Minimnya sosialisasi dari Dinas Pendidikan maupun Badan Gizi Nasional (BGN) membuat banyak sekolah belum memahami teknis pelaksanaan program tersebut. Secara umum implementasi Program MBG 2025 dinilai masih belum optimal di sejumlah daerah, termasuk Jawa Barat.
Terlebih informasi MBG ini, terdapat sejumlah persoalan dari permasalahan teknis hingga kasus keracunan makanan. Adi Wibowo, Manajer Program Mahardhika Paripurna Media, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (4/9) mengusulkan untuk dikelola melalui dapur sekolah.
“Banyak sekolah yang kami temui lebih menyambut baik jika MBG dijalankan dengan konsep dapur sekolah. Dengan begitu, guru bisa ikut mengontrol kualitas menu,” terang Adi Wibowo.
Sependapat dengan yang dikatakan, Ketua Lembaga Sosial Kemasyarakatan Bekasi Peduli, bahwa pengelolaan makanan langsung di sekolah lebih efektif dan efisien.“Keberadaan dapur MBG di lingkungan sekolah akan lebih baik jika dikelola bersama komite dan warga sekitar. Selama ini, dapur umum justru kurang efektif, biayanya tinggi, dan menunya kurang diminati siswa,” kata Bachtiar.
Menurut Bachtiar, dapur umum yang harus melayani ribuan siswa sering membuat makanan kurang segar dan berisiko kesehatan. “Banyak kasus makanan diolah sejak malam, lalu baru dikonsumsi siang hari. Hal ini rawan keracunan dan menyebabkan banyak sisa makanan terbuang,” tuturnya.
Bachtiar menegaskan bahwa program MBG yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto harus segera dievaluasi agar tujuan mulia meningkatkan gizi anak bangsa benar-benar tercapai.
Dukungan Lintas Sektor
Anggota Komisi IX DPR RI dari Partai Gerindra, H. Nuroji, menambahkan pentingnya sinergi lintas sektor dalam pelaksanaan MBG.“Program ini tujuannya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Jadi harus ada kolaborasi antara sekolah, pemerintah, dan masyarakat,” ujar Nuroji.
Hingga Agustus 2025, tercatat sudah ada 169 dapur MBG di Bekasi, masing-masing melayani sekitar 4.000 penerima manfaat. Program ini diharapkan mampu menekan angka stunting serta meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.//




