JAKARTA, Bisnistoday – Masyarakat di tanah air diimbau tidak terpancing secara berlebihan merespon konflik pertempuran Palestina dan Israel. Konflik tersebut sebenarnya sudah berlangsung cukup lama di kawasan Gaza, Palestina.
“Kita semua sepakat, sebenarnya konflik Hamas dan Israel. Emosi rakyat sekarang juga gampang terbakar,” ujar Connie Rahakundini, Pengamat Militer dan Pertahanan, saat Gelora Talks, bertajuk “Badai Al-Aqsa : Kejutan Palestina Dan Dampak Geopolitiknya” di Jakarta, Rabu (11/10).
Connie merespon terjadinya serangan mendadak Hamas kepada Israel, baru-baru ini. Sebagian berpandangan, bahwa serangan Hamas sebagai simbol terhadap perlawasan Islam. Memang diketahui, jalur Gaza khususnya menjadi markas kekuasaan Hamas. Sedangkan Hamas sendiri, menurut AS dan sekutunya, Kanada, Jepang dicap sebagai organisasi teroris.
Sebenarnya, lanjut Connie, wilayah Gaza sendiri sebelumnya dikendalikan melalui dominasi kepemimpinan Yasir Arafat dari kelompok Fatah. Lalu lambat laun setelah masa Yasir Arafat bergeser ke kelompok Hamas.”Serangan Hamas kemarin, merupakan kategori serangan besar,” ucapnya.
Serangan Mematikan
Serangan Hamas,menurut Connie, begitu rahasia, mendadak dan cepat. Ketiga hal ini, yang menjadikan Israel kedodoran. Serangan roket Hamas meninggalkan lubang besar, lalu diduduki bulldozer serta sembunyi paralayang untuk menyerang ke jantung lawan. “Setidaknya 3.000 roket diluncurkan, benar-benar mendadak dan cepat.”
Padahal, lanjut Connie, pertahanan Israel jauh lebih kuat ketimbang kelompok Hamas. Apakah kedodoran dalam hal intelligent atau sistemnya atau asapek manusianya. Mengapa tidak ada langkah seperti pencegahan dini.
“Teknologi Israel sangat canggih, seperti penggunaan laser, terowongan, serta pemanfaatan robot. Tapi semua itu bisa saja kedodoran. Serangan Hamas seperti menonaktifkan semua, bisa kegagalan intel, karena tidak mungkin Israel tak tahu,” ucapnya.
Lalu siapa yang berada di belakang Hamas, yang dicap sebagai organisasi teroris. Bisa saja, Hamas mendapat dukungan dari Iran yang selama ini juga dekat dengan Rusia. “Siapa yang mendukung peralatan senjata? Ini jadi fenomena perang yang menarik.”
Dugaan juga bisa, Iran sengaja memberi pelajaran terhadap Israel atau NATO. Karena seperti diketahui, dukungan Israel yakni AS dan sekutunya juga mengalami problem kepentingan terhadap perang Rusia Ukraina.
“Bagaimana memperdamaikannya, terlebih Washington sendiri juga tengah memasuki pemilihan presiden. Apabila figurnya tidak mempersatukan dan kuat, agak sulit mendamaikan.”
Kedepan, lanjut Connie, pastinya Israel akan memburu pimpinan Hamas serta menyelamatkan para sanderanya. Nah, hal yang agak sulit diperkirakan akan terjadi eskalasi konflik bisa merembet ke Iran, Yordania, Saudi Arabia.
Resolusi DK PBB
Imron Cotan, MA mantan Duta Besar Indonesia Untuk Australia dan Tiongkok menuturkan, kedua belah pihak harus menjunjung tinggi resolusi Dewan Keamanan PBB, No.242 sebagai dasar Palestina dan Israel.”Maklumat Presiden Jokowi sudah benar, harus menggelorakan perdamaian serta hentikan kekerasan.”
Hanya saja, lanjut Imron, bahwa kemarahan Hamas juga beralasan, karena sudah hampir 50 tahun berbagai kesepakatan tidak ada realisasinya. Serangan Hamas, bukan kemenangan militer Hamas. Karena Hamas kecil kemungkinan menang atau tidak akan menang. “Serangan ini hanya kejutan membuat terbuka mata dunia terhadap persoalan ini.”
Sedangkan untuk Indonesia, sudah wajar untuk menyuarakan perdamaian. Karena Indonesia sendiri banyak keterbatasan dengan pertimbangan persoalan domestik yang belum kunjung usai. “Lebih dari 3 mil laut saja, sudah sulit diprediksikan bagi Indonesia, dan bagaimana mungkin proyeksi ke timur tengah,” cetusnya.
Imran Muslim, Asia Middle East Centre for Research and Dialogue, masyarakat Gaza telah dikepung oleh Israel dengan pembetonan sehingga tidak bisa keluar dari wilayah. Hampir setiap hari, dan ribuan warga Gaza mendapatkan perlakuan tidak manusiawi.
”Itu yang diserang adalah desa-desa, mereka tak bisa keluar, sedangkan air dan listrik diatur dari Israel.Sudah tak kuat lagi. Pemberitaan dukungan demo di berbagai kota di Indonesia, sudah cukup untuk menguatkan moral mereka berjuang,” cetusnya. Menurut Imran, pengepungan warga Gaza ini sudah berlangsung sekitar 16 tahun lebih./








































