JAKARTA, Bisnistoday – Pengamat internasional menilai belum ada titik terang perdamaian antara Rusia dan Ukraina dalam jangka pendek. Sedangkan, upaya damai dengan beberapa perundingan yang sudah ditempuh antara kedua negara tersebut, belum mendapatkan hasil. Dampak perseteruan Rusia akan berbuntut panjang dan menghancurkan sendi-sendi yang telah dibangun usai Perang Dunia II.
“Perang ini tidak ada yang pegang kendali penuh, belum terbaca arahnya,” ungkap Ketua Umum Partai Gelora Indonesia dalam diskusi Gelora Talks, bertajuk Membaca Akhir Konflik Rusia versue Ukraina dan Bagaimana Posisi Indonesia? di Jakarta, Rabu (9/3).
Menurut Anis, dampaknya terhadap Indonesia begitu banyak, karena perang tidak hanya dipandang aspek pengaruh dua negara yang berseteru saja, tetapi pengaruh Kawasan dan global. Seperti harga minyak dunia, bahkan kalau perang berkepanjangan harga minyak bakal melangit, dan disisi lain, Indonesia bergantungan 500 ribu barel per hari. Belum lagi, kebutuhan pangan juga banyak yang impor karena belum mandiri.
Lebih lanjut Anis Matta mengatakan, sebagian besar masyarakat berpikir Rusia dapat saja menyelesaikan perang dengan cepat untuk Ukraina. Secara defacto Rusia dapat melakukan penyerangan skala militer penuh dan dapat ditaklukkan dalam beberapa hari kota Kiev.
“Hanya saja, siapa yang bisa membaca arah pikiran Vladimir Putin. Apa yang dipikir orang, kenyataanya tidak terjadi, malah sebagian berpikir sebaliknya karena kehebatan Ukraina. Saya yakin ada rencana yang belum dipahami banyak orang,” tuturnya.
Berita Terkait : Anis Matta : Butuh Mitigasi Segera Dampak Perang Rusia-Ukraina
Perkembangan terakhir, sudah sekitar 2 juta orang mengungsi dan terus bertambah. Bahkan ada kemungkinan pengungsi hingga 5 juta jiwa, seperti banyaknya penduduk Singapura.”Kalau ini terjadi, menimbulkan permasalahan sosial yang komplek.”
Disisi lain, menurut Anis, negara barat ramai-ramai menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia yang skalanya terus meningkat. Terakhir, Presiden Joe Biden juga menyatakan tidak mengimpor minyak dari Rusia. Sebaliknya, Putin mananggapi dengan serius yang menganggap pernytaan tersebut seperti pernyataan perang. “Konflik Rusia dan Ukraina sebenarnya konflik Rusia dan negara-negara barat,” tuturnya.
Turut Mengecam
Perang Rusia Ukraina ini, ditanggapi serius Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Viada Hafid. Sebenarnya, menurut Meutya, merupakan cermin kegagalan diplomasi Amerika Serikat. Sementara anggota aliansi barat, seperti Jerman dan Perancis seperti tidak banyak berbuat dan tidak banyak mendukung keinginan NATO.
“Komisi I DPR mendorong inisitif untuk mewujudkan forum damai, sudah tepat. Kecaman terhadap invasi Rusia ke Ukraina yang menimbulkan korban warga sipil. Ini paling utama. Kita harus konsisten mengecam adanya invasi seperti yang dilakukan di Palestina, Irak juga tegas, turut mengecam, dan ini kolektif,” tutur Meutya.
Disisi lain, lanjut Meutya, mendorong peran lebih banyak PBB dalam menjaga perdamaian dunia. Reformasi organisasi PBB dianggap penting, karena momentumnya sudah tepat dan beberapa kali sudah digaungkan. “Kita tak hanya kecam Rusia, dan juga berupaya menjaga ketertiban dunia yang lebih adil,” terangnya.
Begitupun, menurut Meutya, pemerintah harus mendorong keterlibatan Amerika Serikat untuk melakukan langkah nyata dalam menjaga perdamaian dunia. Sekarang ini, seolah-olah Amerika Serikat membiarkan perang berkecamuk berlarut-larut. “Perlu dorong AS, seolah membiarkan perang, bagaimana menjaga ketertiban dunia yang baik,” terangnya.
Bersikap Abstain
Menurut Connie Rahakundini Bakrie, Pengamat Militer dan Ketahanan, tindakan Rusia intinya bukan menganeksasi, ataupun invasi. Bergabungnya Ukraina ke NATO sepertinya tidak berkeberatan. Namun ketika NATO berada di Ukraina disitu Rusia marah. Belum lagi ada statement sebelumnya Eropa bebas melakukan apa saja termasuk di Ukraina.
“Harusnya Indonesia abstain dan Indonesia harus tampil, karena memiliki peran penting sebagai Presidensi G-20. Kita tak boleh menghakimi. Jangan lupa, dibuka kembali dokumen perjanjian dengan Rusia, jangan ada yang merasa tersakiti,” terangnya.
Connie menuturkan, menyikapi adanya kecamuk perang Rusia -Ukraina, PBB harus bersikap tegas. Selain itu, menghimbau kepada NATO untuk saling menjaga perasaan terutama kepada Rusia. Demikian juga untuk Amerika Serikat harus memiliki peran perdamaian dalam menjaga stabilitas kedamaian dunia. “Ini juga bisa terpecah Uni Eropa, terlihat Jerman atau Hongaria, juga tidak sependapat dengan NATO,” tambahnya.
Tidak Dibenarkan
Rizal Sukma, Mantan Dubes Indonesia untuk Inggris periode 2016-2020 berpandangan, agresi apapun terhadap negara yang berdaulat tidak dibenarkan. Hal yang dilakukan Rusia sudah melanggar Piagam PBB. “Beberapa alasan Rusia dapat dipahami, namun apapun agresi terhadap negara berdaulat tidak dibenarkan,” ujarnya.
Alasan sebagai buffer zone Rusia, menurut Rizal Sukma tetap tidak bisa dibenarkan. Tidak boleh mengerahkan kekuatan militer terhadap negara yang berdaulat apapun alasanya. “Bagaimana alasan ini misalnya terjadi untuk Indonesia. Bagaimana misalnya terjadi di Natuna karena ada kepentingan terus diduduki, dan begitupun wilayah lain seperti Papua,” tuturnya./




