JAKARTA, Bisnistoday – Indonesia kembali mencatatkan kabar menggembirakan di sektor perdagangan. Pada November 2025, neraca perdagangan nasional membukukan surplus USD 2,66 miliar, meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar USD 2,39 miliar. Dengan capaian ini, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, kinerja positif tersebut didorong kuat oleh sektor nonmigas. Pada bulan yang sama, surplus nonmigas mencapai USD 4,64 miliar, sementara sektor migas masih mencatat defisit USD 1,98 miliar.“Capaian ini melanjutkan tren surplus yang konsisten. Nonmigas terus menjadi penopang utama,” ujar Budi Santoso.
Meski ekspor November turun 7,08 persen secara bulanan, performa sepanjang Januari–November 2025 tetap solid. Total ekspor mencapai USD 256,56 miliar, tumbuh 5,61 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Tiga komoditas nonmigas yang mencatat pertumbuhan paling tinggi diantaranya, Aluminium dan turunannya, naik 57,69 persen, produk kimia naik 48,02 persen dan Kakao dan olahannya mengalami kenaikan 44,06 persen
Industri pengolahan masih mendominasi struktur ekspor dengan kontribusi lebih dari 80 persen, menunjukkan nilai tambah manufaktur yang terus meningkat bagi ekonomi nasional.
Di sisi lain, diungkapkan Budi Santoso, impor November 2025 tercatat USD 19,86 miliar, turun 9,09 persen dibanding Oktober. Namun secara kumulatif, impor tetap tumbuh 2,03 persen menjadi USD 218,02 miliar.
Peningkatan terlihat jelas pada barang modal, termasuk CPU, ponsel pintar, kendaraan listrik non-CKD, serta perangkat base station. Kenaikan ini dipandang sebagai indikator aktivitas investasi dan produksi dalam negeri yang terus bergerak.
Menjaga Momentum 2026
Budi Santoso menuturkan, surplus perdagangan yang berkelanjutan memberi ruang bagi stabilitas ekonomi: menopang cadangan devisa, menjaga nilai tukar, dan memperkuat kepercayaan pasar.
Sedangkan tantangannya kini adalah, memperluas diversifikasi pasar ekspor, meningkatkan daya saing industri pengolahan, dan mengelola impor secara selektif agar tetap mendukung produktivitas.Dengan tren positif yang terjaga, Indonesia memasuki 2026 dengan optimisme sekaligus pekerjaan rumah untuk memastikan surplus bukan hanya besar, tetapi juga berkelanjutan./






































