www.bisnistoday.co.id
Rabu , 2 September 2026
Home NASIONAL & POLITIK Humaniora Prof. Komarudin : Pejabat Sibuk Menimbun Kekayaan Lupa Suara Rakyat
Humaniora

Prof. Komarudin : Pejabat Sibuk Menimbun Kekayaan Lupa Suara Rakyat

Prof Komarudin
Prof Komarudin Hidayat./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Akademisi Prof. Komarudin Hidayat mengingatkan para pejabat sekarang tidak hanya berpikir menimbun kekayaan dan kekuasan, tetapi harus lebih peka terhadap rintihan suara rakyat. Sikap tidak teladan ini, hanya akan menghambat suara penderitaan rakyat.

“Indonesia hari ini menghadapi tantangan besar karena elite politik lebih sibuk mengakumulasi kekayaan dan kekuasaan, yang pada akhirnya menghambat mobilitas sosial dan suara dari bawah,” ungkap Prof. Komarudin Hidayat saat Dies Natalis ke-27 di Aula Lt. 8 Gedung Nurcholis Madjid, Kampus Universitas Paramadina Cipayung, Jumat (10/1).

Komarudin juga mengaku bahwa demokrasi tidak selalu melahirkan pemimpin demokrat. Terpenting, Ia menegaskan urgentnya kebijakan yang visioner dan berpihak pada rakyat untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, baik dari segi ekonomi maupun militer.

“Kita perlu pemimpin yang tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga mampu membangun masa depan dengan kebijakan yang adil dan berorientasi pada kepentingan rakyat” tuturnya.

Acara Dies Natalis Universitas Paramadina, turut dihadiri oleh John Riady, CEO PT. Lippo Karawaci, Aminudin, Corporate Secretary Triputra Grup, Ari Dharma Stauss dari Konrad Adenauer Stiftung, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Prof. Komaruddin Hidayat dalam orasinya menyampaikan pandangannya mengenai perjalanan panjang Indonesia sebagai bangsa, mulai dari era penjajahan hingga demokrasi modern. Ia menekankan bahwa kemampuan membaca tanda-tanda zaman menjadi kunci bagi para pendahulu untuk membangun fondasi bangsa.

Komarudin mencatat bahwa masa reformasi belum berhasil mengatasi korupsi secara signifikan. Pada Pemilu 2014, demokrasi Indonesia memasuki babak baru dengan Presiden Jokowi yang menjadi simbol demokrasi sejati. Meski demikian, ia menyoroti lemahnya komitmen pada nilai-nilai demokrasi, seperti terlihat pada dinamika politik terkini, termasuk penempatan Gibran dalam panggung politik.

Melihat ke depan, Prof. Komaruddin mengungkapkan harapannya pada sosok seperti Prabowo, yang memiliki latar belakang militer dan keluarga berpendidikan. Ia berharap pemimpin masa depan dapat belajar dari perjalanan panjang para presiden sebelumnya.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini mengutarakan, perkembangan universitas yang kini telah memiliki 5.800 mahasiswa dengan target mencapai 10.000 mahasiswa, sebagaimana diamanatkan oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Wakaf Paramadina, Jusuf Kalla. Universitas Paramadina juga mencatatkan pencapaian dengan memiliki 7 guru besar, 15 calon guru besar, 57 lektor, dan sejumlah asisten ahli yang terus bertambah./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Humaniora

Anak Sehat Lebih Siap Belajar, UKS Perkuat Tindak Lanjut Cek Kesehatan Gratis

BOGOR, Bisnistoday– Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul...

Kemendikdas
Humaniora

Siswa Tokyo Belajar dari Dunia Nyata, Kemendikdasmen Kenalkan STEM sebagai Pendekatan Pembelajaran

JAKARTA, Bisnistoday - Belajar tentang lingkungan, industri, budaya, hingga persoalan nyata tidak...

Mendikdasmen
Humaniora

Kemendikdasmen Perbaiki Prasarana Lembaga Kursus dan Pelatihan Terdampak Bencana

MEDAN, Bisnistoday - Guna mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua terus dilakukan Kementerian...

Wisuda UPI
Humaniora

Dana Hasil Program Mandiri Seleksi Masuk PTN Harus Diaudit Investigatif

JAKARTA Bisnistoday - Kasus operasi tangkap tangan KPK terhadap Rektor Universitas Jenderal...