www.bisnistoday.co.id
Jumat , 6 November 2026
Home NASIONAL & POLITIK Humaniora Prof. Komarudin : Pejabat Sibuk Menimbun Kekayaan Lupa Suara Rakyat
Humaniora

Prof. Komarudin : Pejabat Sibuk Menimbun Kekayaan Lupa Suara Rakyat

Prof Komarudin
Prof Komarudin Hidayat./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Akademisi Prof. Komarudin Hidayat mengingatkan para pejabat sekarang tidak hanya berpikir menimbun kekayaan dan kekuasan, tetapi harus lebih peka terhadap rintihan suara rakyat. Sikap tidak teladan ini, hanya akan menghambat suara penderitaan rakyat.

“Indonesia hari ini menghadapi tantangan besar karena elite politik lebih sibuk mengakumulasi kekayaan dan kekuasaan, yang pada akhirnya menghambat mobilitas sosial dan suara dari bawah,” ungkap Prof. Komarudin Hidayat saat Dies Natalis ke-27 di Aula Lt. 8 Gedung Nurcholis Madjid, Kampus Universitas Paramadina Cipayung, Jumat (10/1).

Komarudin juga mengaku bahwa demokrasi tidak selalu melahirkan pemimpin demokrat. Terpenting, Ia menegaskan urgentnya kebijakan yang visioner dan berpihak pada rakyat untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, baik dari segi ekonomi maupun militer.

“Kita perlu pemimpin yang tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga mampu membangun masa depan dengan kebijakan yang adil dan berorientasi pada kepentingan rakyat” tuturnya.

Acara Dies Natalis Universitas Paramadina, turut dihadiri oleh John Riady, CEO PT. Lippo Karawaci, Aminudin, Corporate Secretary Triputra Grup, Ari Dharma Stauss dari Konrad Adenauer Stiftung, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Prof. Komaruddin Hidayat dalam orasinya menyampaikan pandangannya mengenai perjalanan panjang Indonesia sebagai bangsa, mulai dari era penjajahan hingga demokrasi modern. Ia menekankan bahwa kemampuan membaca tanda-tanda zaman menjadi kunci bagi para pendahulu untuk membangun fondasi bangsa.

Komarudin mencatat bahwa masa reformasi belum berhasil mengatasi korupsi secara signifikan. Pada Pemilu 2014, demokrasi Indonesia memasuki babak baru dengan Presiden Jokowi yang menjadi simbol demokrasi sejati. Meski demikian, ia menyoroti lemahnya komitmen pada nilai-nilai demokrasi, seperti terlihat pada dinamika politik terkini, termasuk penempatan Gibran dalam panggung politik.

Melihat ke depan, Prof. Komaruddin mengungkapkan harapannya pada sosok seperti Prabowo, yang memiliki latar belakang militer dan keluarga berpendidikan. Ia berharap pemimpin masa depan dapat belajar dari perjalanan panjang para presiden sebelumnya.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini mengutarakan, perkembangan universitas yang kini telah memiliki 5.800 mahasiswa dengan target mencapai 10.000 mahasiswa, sebagaimana diamanatkan oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Wakaf Paramadina, Jusuf Kalla. Universitas Paramadina juga mencatatkan pencapaian dengan memiliki 7 guru besar, 15 calon guru besar, 57 lektor, dan sejumlah asisten ahli yang terus bertambah./

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Lawang Sewu
Humaniora

Mengenal Warisan Perkeretaapian Melalui Petilasan Lawang Sewu dan Museum Ambarawa

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Melalui Rail Heritage Forum 2026 di Lawang Sewu, KAI...

Tes TKA
Humaniora

Gelombang Pertama TKA SMA/SMK 2026 Tuntas, Diikuti Lebih dari 1,6 Juta Murid

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menuntaskan pelaksanaan...

Mendikdasmen
Humaniora

Puncak Bulan Bahasa 2026, Kemendikdasmen Luncurkan 16 Produk Bahasa-Sastra dan 2 Program Wiyata Kinarya

JAKARTA, Bisnistoday.co.id— Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan...

Wamendikdasmen
Humaniora

Momentum Sumpah Pemuda, Wamendikdasmen Fajar Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter Sejak Dini

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Pendidikan karakter perlu dibangun sejak dini melalui keterlibatan keluarga,...