TANGERANG, Bisnistoday – Kota Tangerang punya mimpi setinggi tumpukan sampah di Rawa Kucing. Sampah 1.600 ton per hari bakal berubah jadi listrik. Investasinya fantastis, Rp 2,5 triliun. Realitanya? Baru ribut di atas meja administrasi.
Pemerintah menggadang-gadang proyek ini sebagai solusi, padahal TPA sudah 80 persen penuh dan warga gratis menikmati bau busuknya. PT Oligo Infra Swarna Nusantara sudah janji sejak 2022, tapi sampai sekarang hasilnya masih sebatas kertas.Ya, kabarnya pengelolaan nanti bisa keluar listrik 13,5 MW dari Rawa Kucing dan 25 MW lagi dari Jatiuwung.
“Hebat, ya. Sampah yang sekarang bikin pusing, besok-besok bisa nyetrum rice cooker,” ujar Gugun warga Cipondoh.
Realisasinya Kapan?
Janji manis masih membekas. Katanya, timbunan sampah bakal berkurang 70 persen. Emisi gas rumah kaca ditekan. Tangerang jadi kota hijau. Sayangnya, bau sampah tetap jadi parfum khas warga tiap hari. Sementara, masyarakat masih diminta rajin memilah sampah dari rumah. Katanya biar sistem modern ini jalan.
“Jadi, kalau listrik dari sampah belum juga nyala, sabar saja dulu. Bau busuknya kan sudah menyala duluan,” tandas Rudi warga Perumahan Citra Raya.
Kerja Sama OISN-Pemda
Pemerintah Kota Tangerang bersama PT Oligo Infra Swarna Nusantara (OISN) terus mendorong terwujudnya pengelolaan sampah terpadu ramah lingkungan di TPA Rawa Kucing, Neglasari. Proyek strategis nasional ini menargetkan konversi sampah menjadi energi listrik dengan nilai investasi Rp2,58 triliun.
Kerja sama yang menggunakan skema Build-Operate-Transfer (BOT) selama 25 tahun ini masih dalam tahap administrasi.Meski begitu, sejak dua tahun lalu OISN sudah membantu pengelolaan sampah di Rawa Kucing dengan sistem sanitary landfill.
Program PSEL
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang, Wawan Fauzi, menegaskan program Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik (PSEL) tetap berjalan meski sempat terkendala birokrasi. “Oligo sudah menyampaikan secara tertulis kemampuan pembiayaan proyek dan memperpanjang jaminan Rp 21 miliar hingga 2027,” ujar.
Direktur PT Oligo, Bobby Roring, optimistis proyek ini segera terwujud.“Kami ingin menjadikan sampah sebagai sumber daya, bukan lagi masalah,” kata dia, Minggu 23 Agustus 2025. “Sampah menjadi energi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
TPA Rawa Kucing saat ini menampung 1.600 ton sampah per hari dari 13 kecamatan dengan ketinggian timbunan mencapai 25 meter.Kapasitasnya sudah 80 persen, sehingga teknologi baru dianggap sangat mendesak.
Apa Manfaatnya PSEL?
PSEL mengolah sampah hingga 2.100 ton per hari dan menghasilkan listrik 13,5 MW, serta menambah 25 MW dari fasilitas RDF di Jatiuwung. Selain menekan timbunan sampah hingga 70 persen, fasilitas baru ini juga akan mengurangi emisi gas rumah kaca.
PT Oligo pakai teknologi waste to energy (WtE) dan memadukannya dengan RDF serta anaerobic digester. Sementara sistem integrasi penjualan listrik ke PLN. Pemkot dan PT Oligo juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lewat edukasi pemilahan sampah sejak dari rumah. “Tanpa kesadaran dari hulu, sistem modern tidak akan optimal,” ujar Bobby Roring.
Langkah ini sejalan dengan amanat Perpres No. 35 Tahun 2018 tentang percepatan pembangunan PSEL berbasis teknologi ramah lingkungan. Pemerintah menargetkan Tangerang menjadi kota percontohan dalam pengelolaan sampah modern dan energi terbarukan di Indonesia.//


