JAKARTA, Bisnistoday – Sejak menjadi pelajar, seorang Retno LP Marsudi telah menanamkan dibenaknya dengan bercita-cita sebagai diplomat. Tidak mudah sosok seorang wanita menjadi diplomat, banyak tantangan yang harus dihadapi yang mana profesi diplomat mayoritas dunia kerja laki-laki. Bagaimana sepak terjang Retno Marsudi untuk menaklukan tantangan, dalam menggapai cita-citanya.
“Saya coba bekerja lebih keras dari yang lain, karena sadar bahwa saya bukan siapa-siapa dan saya seorang perempuan.”
Dengan niat yang teguh, Retno muda mulai menjadi pelajar telah mensetting dirinya dengan sasaran utamanya sebagai diplomat sejak duduk di bangku SMA, di Yoyakarta. Kemudian dengan gigih, dan jerih payahnya diberikan kesempatan untuk mengeyam pendidikan Hubungan Internasional, di UGM.
“Dengan semangat kerja keras, dan syukurlah, selanjutnya mendapatkan kesempatan belajar lagi menjadi diplomat atas dukungan dari Kementerian Luar Negeri.”
Selama masa kuliah, Retno dalam kesehariannya sering melakuan tiga hal wajib yakni kuliah, belajar, sholat dan berpuasa, serta ketiga adalah naik gunung. Tiga hal inilah yang menjadi warna dalam hidupnya. “Saya pecinta alam, dan sekarang juga masih rutin jalan kaki sekitar 7-12 km, seperti yang saya geluti sejak mahasiswa.”
Retno L. P. Marsudi
Lahir : Semarang, 27 November 1962.
Jabatan : Menteri Luar Negeri dilantik pada 27 Oktober 2014.
Pendidikan : Hubungan Internasional, UGM, Yogyakarta.
Suami : Agus Retno Marsudi
Anak : Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi
Dengan semagat kuat dan kerja keras, akhirnya lulus dari UGM dengan waktu cepat. Sehingga kerja keras menjadi kunci dan telah tertanam dalam hidupnya. Termasuk sekarang menjadi diplomat yang umumnya merupakan dunia laki-laki.
“Saya sebagai perempuan memiliki tantangan lebih berat, sehingga harus bekerja keras, berlipat ganda, agar survive, selain menghadapi tantangan juga pengembangan networking sangat penting. Dan sangat penting yang diperhatikan adalah keluarga. Jangan pernah, meremehkan peran keluarga.”
Sulitnya Damai di Lingkungan Berkonflik
Mengenai perannya sebagai diplomat, Retno mengaku paling sulit ketika dihadapkan konflik sekaligus upaya menciptakan perdamaian dunia. Perdamaian itu tidak turun begitu saja, dari langit, tetapi terus dilakukan berbagai upaya yang bertahap dan berkelanjutan.
Seperti sekarang ini yang terjadi situasi dunia ditengah ketidakpastian dan tidak sedang baik-baik saja. Revalitas geopolitik semakin tajam, dan dampaknya tidak hanya politik tetapi meluas ke ekonomi.”Pendekatan zero sum malah banyak digunakan ketimbang win-win.”
Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa perang itu sulit diketahui kapan berakhir, dan kalaupun tercapai perdamaian, maka butuh waktu lama untuk mengembalikan kehidupan seperti sebelumnya.
“Harga konflik dan perang, sangat mahal. Kawasan ASEAN, syukurlah termasuk damai, dan kawasan Indo Pasifik, sebagai kawasan strategis, mulai banyak yang berlomba untuk menancapkan pengaruhnya.”
Peran Penting Indonesia
Indonesia telah memberikan kontribusinya sejak tahun 2019, bahwa Indonesia mengharapkan terciptanya kawasan terkendali, menurunkan revalitas serta menwujudkan kemakmuran bersama dalam kawasan ASEAN.
Sedangkan dalam skala global, saat ini dua konflik terbuka terjadi yang memberikan implikasi luar biasa, seperti perang Ukraina, sudah berjalan tiga tahun, dan perang Gaza sudah berjalan 8 bulan. Konflik ini, menyebabkan 36 ribu jiwa terbunuh,, dan separuhnya adalah anak-anak.
Terdapat sebanyak 10 kuburan massal di Gaza serta infrastruktur lumpuh. Setiap hari anak kehilangan orang tuanya, dan sebaliknya. “Kedua konflik dunia ini, merupakan tragedy kemanusiaan terburuk di zaman modern ini.”
Sikap Indonesia tegas dan konsisten membela hak Palestina, karena amanah konstitusi dan kedua untuk menciptakan keadilan dan menghentikan tragedi kemanusiaan. Apa yang terjadi, kalau keadilan dan kemanusiaan tidak ada, maka yang terjadi, yang kuat akan memakan yang lainnya.
Wujudkan Perdamaian
Seperti diakui bersama, tidak mudah untuk menyelesaikan suatu konflik kawasan. Sedangkan kalau konflik terjadi, membutuhkan peran mediator dan negosiator. Perdamaian merupakan barang mahal, dan sebuah perdamaian harus diupayakan dan tidak turun begitu saja dari langit. Pihak yang berkonflik tentu tidak mudah berdamai, karena damai adalah identik dengan menyerah. “Sedangkan kedamaian sulit tercipta tanpa melibatkan pihak berkonflik.”
Perdamaian mesti dilakukan secara infklusif serta mediator harus punya pengaruh (influent). Begitupun kekuatan pengaruhnya tidak boleh juga digunakan untuk menekan pihak yang berkonflik.
“Perdamaian ini, tidak turun dari langit dan harus diupayakan, dan sikap damai harus disemai. Indonesia sangat majemuk, dan mudah terpicu konflik, dan syukurlah sampai sekarang masih Indonesia yang satu.”/
Sumber: Sambutan dalam HUT Untar, di Jakarta.




