JAKARTA, Bisnistoday – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) kini hampir menjadi keniscayaan. Sebagian dari kita mungkin telah familiar menggunakannya. Sementara, sebagian lainnya masih gagap atau bahkan was-was dengan kehadiran teknologi canggih tersebut.
Padahal, teknologi hanyalah tools (alat), manusia lah yang mesti mengendalikannya. Jika mampu memahami dan memanfaatkannya secara bijak, perkakas canggih ini dapat membantu memudahkan kita dalam beraktivitas sehari-hari.
Artinya, kita tidak perlu terlampau cemas dengan hadirnya kecerdasan buatan. ‘Santai Aja, Ini Cuma AI’, begitu kata Yudo Dahono, dalam bukunya yang dapat Anda unduh dan baca di Google Play Book, terbitan 2026.
Melalui buku terbarunya, mantan wartawan yang juga lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran, Bandung ini, mengajak pembaca untuk memahami tentang kecerdasan buatan, termasuk bagaimana cara kerja teknologi yang dimitoskan canggih tersebut.
Berbeda dengan buku-buku terkait teknologi pada umumnya, Yudo menggunakan bahasa keseharian yang mudah dipahami pembaca awam. Buku ini memang dirancang untuk masyarakat umum, pelaku UMKM yang kesulitan merancang materi promo, tenaga pendidik yang kekelahan menghadapi tumpukan tugas administrasi, hingga para pekerja yang khawatir posisi mereka tergantikan teknologi canggih tersebut.
Sepuluh bab
Buku yang terdiri dari 10 bab ini, menguraikan dari mulai cara kerja kecerdasan buatan, dampaknya secara sosial, psikologi, maupun ekonomi, hingga bagaimana kita, selaku manusia, berkolaborasi dengan mesin. “Anda tidak akan menyerahkan kunci brankas perusahaan kepada anak magang di hari pertama ia bekerja. Anda akan memberinya tugas, mengevaluasi hasilnya, dan perlahan-lahan memberi kepercayaan lebih seiring berjalannya waktu. Begitu pula kita mempelakukan AI.”
Menurut Yudo, dalam buku ini, tugas kita ke depan bukan lagi cara mengetik perintah (prompt) dengan benar, melainkan belajar cara menarik batas yang tegas: kapan kita membiarkan mesin bekerja, dan kapan kita mengambilalih kemudi karena ada hal-hal yang terlalu manusiawi untuk diotomisasi.
Di tengah perkembangan zaman yang mendorong manusia serbagegas, membaca buku ini sembari menyeruput kopi di akhir pekan, rasanya cukup menyenangkan. Dengan penuturan yang mengalir, disertai analogi dari pengalaman keseharian bersentuhan dengan AI, kita terasa dibawa berpetualang dalam realita sehari-hari, tanpa perlu mengernyitkan dahi berlebihan seperti membaca bahasa pemograman.
Salah satu kekurangan dari buku ini, barangkali ia belum hadir dalam versi cetak. Sebab, biar bagaimana pun, tidak semua penikmat buku senang dalam bentuk digital.//









































