www.bisnistoday.co.id
Senin , 11 Mei 2026
Home HEADLINE NEWS Sektor Industri Gagal Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi
HEADLINE NEWS

Sektor Industri Gagal Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi

Pekerja Pabrik
PEKERJA PABRIK Industri Tekstil belum lama ini./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Kementrian perindustrian memegang peranan sentral pada masa pemerintahan mendatang dan menentukan apakah pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6 persen atau lebih. Kegagalan mendorong ekonomi tumbuh di atas 6 persen karena faktor ini, dimana sektor industri tumbuh rendah dan bergerak sangat lambat.  Ini terjadi karena absen dan kekosongan kebijakan industri dan kementrian perindustrian yang dorman.

Selama ini kementrian perindustrian berperan sangat terbatas dengan kebijakan yang lemah dan tidak bernilai signifikan untuk memajukan sektor industri. Secara terus-menerus sektor ini tumbuh di bawah 5 persen sehingga tidak punya daya dorong dan tidak mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi tinggi.

Bahkan sektor ini justru mendeg dengan pertumbuhan bahkan hanya 3-4 persen saja, yang menandakan ketiadaan dan absen kebijakan industri.  Industri dimatikan karena kebijakan yang surut dan tidak memberikan kesempatan, ruang dan dorongn bagi industri nasional.

Jika kebijakan industri terus terjadi seperti selama 1-2 dekade terakhir ini, maka lupakan janji Prabowo untuk memajukan ekonomi yang tumbuh tinggi akan bisa tercapai.  Yang terjadi mungkin bahkan sebaliknya dimana pertumbuhan ekonomi akan selalu di bawah 5 persen karena terhambat pertumbuhan industri yang sangat rendah.

Tumbuh Dibawah Rata-Rata

Sebagai perbadingan di depan maa adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama ini di Vietnam dan India.  Mengapa India dan Vietnam berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi? Jawabnya hanya satu, yakni karena berhasil mendorong industri sebagai lokomotif pertumbuhannya.

Sektor industri di India tumbuh dua digit sehingga menarik ekonomi bertumbuh sampai 7 persen.  Sebaliknya dua dekade terakhir ini, sektor industri Indonesia hanya tumbuh di bawah 5 persen, sehingga mustahil bisa menarik pertumbuhan ekonomi sampai di atas 6 persen.

Mengapa Indonesia selama dua dekade ini gagal mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi? Jawabnya sama, yakni karena gagal menempatkan sektor industri sebagai lokomotif pertumbuhan dan sekaligus karena Kementerian Perindustrian mandeg dan mandul dalam menjalankan kebijakan industrinya. Faktor kritis dalam pertumbuhan ekonomi di masa pemerintahan Prabowo nanti terletak di kementerian ini.

Ekonomi Indonesia mengalami stagnasi pertumbuhan 5 persen atau di bawahnya karena bertumpu pada konsumsi dan sektor jasa, yang bercampur dengan sektor informal.  Dengan sektor jasa yang tidak modern dan hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga, maka ekonomi kehilangan lokomotifnya, yang pada gilirannya ekonomi bertumbuh rendah atau moderat saja.

Janji kampanye Prabowo pertumbuhan ekonomi akan dipacu sampai 8 persen, suatu target yang hampir mustahil dengan kebijakan pada saat ini dan kementerian yang tidak berbuat banyak untuk mengubah keadaan. Jika ingin berbeda dari pemerintahan sebelumnya, maka kunci sukses terletak pada sukses atau tidaknya membenahi kementerian industri dan kebijakan industrinya. Tanpa itu, Indonesia akan menjadi ‘underdog’ di ASEAN.

Jakarta, Juni 2024

Oleh : Prof. Didik J Rachbini, Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Peneliti Indef.

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Hakornas
HEADLINE NEWSSektor Riil

Hakornas 2026, Konsumen Kunci Perbaikan Kualitas Produk Nasional

JAKARTA, Bisnistoday  – Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan pentingnya peran konsumen sebagai...

Menteri PU
HEADLINE NEWS

Menteri PU Pantau Pelaksanaan Pembangunan Sekolah Rakyat di Cilacap

CILACAP, Bisnistoday  - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau progres pembangunan...

Festival Fesyen
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Perputaran Ekonomi Industri Fesyen dan Kriya Capai Rp120 Triliun pada Triwulan I-2026

BALI, Bisnistoday - Kementerian Perindustrian pacu pengembangan sektor industri fesyen dan kriya...

Kapal Tanker (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
EnergiGLOBALHEADLINE NEWS

Perusahaan Kargo Masih Dihantui Lonjakan Biaya Energi

JAKARTA, Bisnistoday - Pembukaan kembali Selat Hormuz (seandainya dibuka) tidak akan berdampak...