BANDUNG, Bisnistoday- Bagi jutaan warga perkotaan, panas berlebih kini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan, konsumsi energi, dan kualitas hidup.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan International Symposium and Workshop on Sustainable Buildings, Cities, and Communities (SBCC 2025) di Jakarta, Senin (15/12), guna merumuskan solusi pendinginan kota dan hunian rendah emisi yang adaptif terhadap iklim tropis.
Forum internasional ini mengusung tema “A Sustainable Cooling for Cities: Designing for Hot and Humid Climates”, sebagai respons terhadap tantangan perubahan iklim, khususnya di kawasan tropis.
“Perubahan iklim global ditandai oleh peningkatan suhu bumi yang memicu cuaca ekstrem, seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas. Di Indonesia, dampaknya terlihat dari kenaikan muka air laut, meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, hingga ancaman terhadap wilayah pesisir dan ketahanan pangan,” kata Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., dalam keterangan resminya, Kamis (18/12).
SBCC 2025 merupakan bagian dari komitmen UPI melalui Pusat Keunggulan Universitas untuk Bahan Bangunan dan Energi Rendah Emisi (PUU MEB) dalam mendorong pembangunan kota dan hunian yang rendah karbon, adaptif iklim, dan berkelanjutan.
Forum ini mempertemukan pemangku kebijakan, akademisi, peneliti, dan praktisi dari dalam serta luar negeri.
“UPI tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga agen transformasi yang mengubah ilmu pengetahuan menjadi ketahanan sosial dan lingkungan,” ujar Didi.
Ia menekankan bahwa tantangan kota tropis seperti urban heat island, tekanan energi, dan dampak kesehatan masyarakat membutuhkan pendekatan lintas disiplin dan kolaborasi global.
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Fahri Hamzah, sebagai pembicara kunci, menyatakan pembangunan perumahan nasional harus segera bertransformasi menuju hunian yang tangguh terhadap bencana dan rendah emisi karbon.
“Pembangunan perumahan tidak bisa hanya mengejar kuantitas. Rumah harus aman, adaptif terhadap bencana, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Ia juga mendorong pemanfaatan arsitektur lokal, material ramah lingkungan seperti kayu dan bambu, serta desain pendinginan pasif untuk menekan konsumsi energi.
Ketua Konferensi SBCC 2025, Ar. Dr. Eng. Beta Paramita, IAI., GP, menjelaskan bahwa forum ini dirancang untuk menghasilkan solusi pendinginan kota yang aplikatif dan inklusif, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Topik yang dibahas meliputi pendinginan pasif, material rendah emisi, perencanaan kota adaptif iklim, efisiensi energi, tata kelola pentahelix, serta pemanfaatan data dan pemodelan perkotaan.
Forum ini berkontribusi langsung pada pencapaian SDGs, khususnya:
• SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan),
• SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab),
• SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta
• SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau).
Selain mendorong kolaborasi lintas sektor, SBCC 2025 juga menghasilkan luaran akademik berupa publikasi ilmiah pada jurnal dan prosiding terindeks internasional, hasil riset inovasi, juga sekaligus memperkuat peran UPI dalam pembangunan kota dan hunian yang lebih sejuk, berkelanjutan, dan tangguh terhadap perubahan iklim./E1-DINNI/



















![Seorang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di wilayah Lege-Cap-Ferret, Prancis barat, pada 24 Juli 2026 [Caroline Blumberg/AP]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/07/Karhutla-680x533.jpg)




















