JAKARTA, Bisnistoday- Minimnya penyerapan beras dari tingkat produsen oleh Bulog lebih dikarenakan perusahaan BUMN pangan tersebut tidak mau membeli dengan harga yang ditawarkan oleh pihak penggilingan.
“Kenapa Bulog tidak bisa memenuhi tambah stok, karena harga di luar (penggilingan) sudah Rp10.300 per kilogram (kg), sementara Bulog mau ngambilnya Rp9.700 per kg,” kata Direktur Serealia Kementerian Pertanian (Kementan), Ismail Wahab di Jakarta, Jumat (18/11).
Ismail menyampaikan, karena Bulog hanya mau mengambil dengan harga Rp9.700 per kg, pihak penggilangan akhirnya menjual kepada pihak lain yang membeli dengan harga di atas Rp9.700 per kg. “Saya kira itu wajar orang punya barang akan memasarkan barangnya pada penawar yang lebih tinggi,” tambahnya.
Sebelumnya Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Rabu (16/11) menyatakan bahwa stok cadangan beras pemerintah (CBP) menipis. Bulog mengalami kendala dalam penyerapan beras di tingkat produsen karena ketersediaan terbatas dan harga jual yang tinggi.
“Kami (Bulog) kesulitan mendapatkan beras atau gabah di tingkat produsen karena keterbatasan pasokan di tingkat penggilingan maupun petani,” kata Budi Waseso.
Ia mengatakan, saat ini stok CBP di gudang Bulog hanya 651 ribu ton dari yang ditargetkan seharusnya 1,2 juta ton. “Dari target yang kita alokasikan, kita sudah kumpulkan semua penggilingan dengan mitra kita. Yang tadinya sudah disepakati sampai Desember 2022 kita bisa serap 500 ribu ton sudah ada kontraknya, tapi sampai hari ini kita hanya bisa mampu menyerap 92 ribu ton dari target 500 ribu ton,” kata Budi Waseso yang akrab di sapa Buwas itu.
Buwas menambahkan, penyebab langkanya beras atau gabah di tingkat produsen dikarenakan produksi yang menurun.
Stok Beras Aman
Terkait hal tersebut, pihak Kementerian Pertanian menyebutkan sebanyak 1,8 juta ton beras tersedia di penggilingan dan dapat diserap oleh Bulog untuk memenuhi stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sehingga dinilai tidak perlu impor.
Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Ismail Wahab mengatakan, stok beras nasional hingga saat ini sebanyak 8,05 juta ton dengan rincian sebanyak 1.868.414 ton terdapat di penggilingan, 831.805 ton di pedagang, dan sisanya berada di rumah tangga.
Ismail menjabarkan bahwa dari seluruh wilayah Indonesia penghasil beras menyanggupi menyediakan pasokan untuk pengadaan beras Bulog sebanyak 353.620 ton.
“Memang kalau dilihat beras tidak banyak di penggilingan, tidak banyak di pedagang, banyaknya di rumah tangga. Kenapa banyak di rumah tangga, karena kita tahu Bantuan Pangan Nontunai langsung ke rumah tangga. Sehingga beras lebih banyak di rumah tangga,” kata Ismail./








































