YOGYAKARTA, Bisnistoday – Menjelang dimulainya tahun ajaran baru dan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, mengajak seluruh satuan pendidikan menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan sebagai fondasi bagi tumbuh kembang peserta didik. Lingkungan belajar yang positif diharapkan menjadi pengalaman pertama yang berkesan bagi setiap anak dalam memasuki dunia sekolah.
Guna mewujudkan hal itu, sinergi antara sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat sangat diharapkan agar setiap anak memperoleh pengalaman belajar pertama yang aman, nyaman, dan menyenangkan sebagai bekal untuk menempuh jenjang pendidikan berikutnya.
“Sesuai dengan arahan dari Bapak Presiden tentang membangun gerakan budaya yang ASRI: Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Maka kami mengajak semua pihak yang menyelenggarakan pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, baik lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan spiritual, dan lingkungan intelektual. Mudah-mudahan dengan pendekatan itu, semua dapat belajar dengan gembira dan sekolah dapat menjadi rumah kedua bagi anak-anak kita,” ujar Abdul Mu’ti, Mendikdasmen di Yogyakarta, Rabu (9/7).
Menurut Mendikdasmen, bagi peserta didik, khususnya anak usia dini, hari-hari pertama di sekolah merupakan masa transisi yang penting. Pada fase ini, anak tidak hanya mulai mengenal lingkungan baru, tetapi juga membangun rasa aman, percaya diri, serta kedekatan dengan guru dan teman sebaya. Oleh karena itu, pelaksanaan MPLS perlu dirancang sebagai proses adaptasi yang ramah anak dan berorientasi pada kebutuhan perkembangan mereka.
Lingkungan belajar yang dimaksud tidak hanya diwujudkan melalui sarana dan prasarana yang memadai, tetapi juga melalui interaksi yang hangat antara guru, peserta didik, dan orang tua. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, melainkan juga ruang yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Salah satu implementasi pendekatan tersebut dapat dilihat di TK ABA Semesta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menyambut murid baru pada tahun ajaran ini, sekolah merancang pelaksanaan MPLS sebagai masa adaptasi yang berfokus pada kenyamanan anak sebelum memasuki proses pembelajaran secara penuh.
Kepala TK ABA Semesta, Shofia Amalia, menjelaskan bahwa sekolah menyiapkan masa adaptasi selama dua minggu. Pada periode tersebut, anak-anak diajak mengenal lingkungan sekolah, membangun kedekatan dengan guru, dan mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
“Selama dua minggu pertama belum ada pembelajaran yang terstruktur. Fokus kami adalah mengenalkan lingkungan sekolah, membangun kedekatan antara anak dan guru, serta menghadirkan berbagai kegiatan bermain dan eksplorasi agar anak merasa nyaman. Pada masa ini, guru juga melakukan observasi awal untuk memperoleh gambaran mengenai kemampuan, kebutuhan, dan karakteristik setiap anak sebagai dasar penyusunan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangannya,” jelas Shofia.
Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai kegiatan yang membantu anak beradaptasi secara bertahap dengan lingkungan sekolah. Selama masa pengenalan, anak-anak mengikuti beragam aktivitas, seperti bermain bersama, kegiatan fisik motorik, mendengarkan dongeng, hingga membuat karya sederhana yang dapat dibawa pulang setiap hari. Sekolah juga menyediakan waktu bermain bebas (free play) pada awal kegiatan sebagai bagian dari upaya membantu anak menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar yang baru./









































