SURABAYA, Bisnistoday – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) launching program Yuk Kenal Teknologi. Program untuk sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan teknologi kepada para siswa. Lunching kali ini, bersamaan dengan penerimaan kunjungan perdana siswa siswi KB TK Yaa Bunayya Surabaya.
“Selama ini sebenarnya kami sering menerima kunjungan dari siswa SMA, SMK dan MA maupun mahasiswa, namun untuk kali ini kami lebarkan range nya mengingat saat ini teknologi menjadi salah satu penggerak perubahan,” ungkap Aliridho Barakbah S.Kom, Ph.D. Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, kemarin.
“Dan, PENS harus menjadi bagian dari proses edukasi maupun sosialisasi teknologi dalam lingkup belajar yang paling sederhana hingga level yang lebih advanced ,”kata Aliridho di sela-sela acara kunjungan pagi ini,” terangnya.
Program yang digagas oleh Humas PENS ini menjadi salah satu alternatif bagi siswa/i maupun komunitas yang ingin mengenal teknologi, khususnya yang berhubungan dengan teknologi elektronika.
Sebagai Politeknik teratas di Asia Tenggara untuk Bidang Teknik, menurut Aliridho sudah seharusnya PENS menjadi pioneer pula untuk memulai gerakan ini.
“Teknologi selalu melekat pada DUDI, Dunia Usaha dan Dunia Industri. DUDI ini menggerakkan ekonomi bangsa kita. Nah, anak-anak inilah yang nantinya menjadi penerus kita, dalam mengembangkan teknologi sekaligus menggerakkan perekonomian. Sebuah pemikiran sederhana, namun harus dimulai dari sekarang,”ujarnya.
Kunjungan ke PENS
Trend data pengunjung PENS per awal tahun 2023 ini relatif meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Selain dipengaruhi oleh berakhirnya masa pandemi, hal ini ditengarai karena pengembangan relasi dan kolaborasi yang dikoordinasi di bawah Wakil Direktur Bidang Kerjasama dan Teknologi.
“Pengunjung kampus hampir 75% berasal dari DUDI, sementara sisanya masyarakat umum dan siswa/i SMA, SMK,”kata Andri Suryandari, Humas PENS.
Andri pun menyampaikan jika program ini merupakan salah satu program unggulan Humas di antara beberapa program lain. “Teknologi identik dengan stigma rumit dan sulit. Bahkan, banyak di antara anak-anak yang belum mengenal sudah mundur dulu. Ini menjadi tantangan kita bersama untuk membuat bagaimana anak-anak tertarik belajar teknologi. Intinya kami ingin mendekatkan teknologi, “kata Andri./










































