JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar kegiatan Bedah Buku Bermutu berjudul “Presiden Solusi: Problem Solving Ala Prabowo Subianto” di Jakarta, pada Selasa (7/7). Diselenggarakan bertepatan dengan Peringatan Hari Pustakawan Indonesia, acara ini bertujuan untuk memperkuat budaya literasi, nalar kritis, dan kemampuan memecahkan masalah di kalangan generasi muda serta ekosistem pendidikan nasional.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa momentum perayaan ini sangat tepat untuk menegaskan kembali peran penting pustakawan dan perpustakaan dalam dunia pendidikan. “Sebagaimana kita ketahui dengan berkembangnya teknologi, dengan berkembangnya berbagai kebijakan, perpustakaan tidak lagi hanya sebagai tempat untuk menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga berkembang menjadi ruang belajar, menjadi ruang dialog gagasan, dan juga menjadi simpul kolaborasi,” ujarnya.
Suharti menambahkan, buku ini dipilih secara khusus karena mengangkat tema kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan pendekatan berorientasi solusi dalam kebijakan publik. Tema tersebut dinilai sangat relevan untuk didiskusikan dalam rangka membangun kemampuan memahami kebijakan secara jernih. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk gelarwicara ini dihadiri secara luring maupun daring oleh para pejabat, asosiasi pustakawan, pegiat literasi, komunitas perbukuan, hingga perwakilan murid berprestasi dari berbagai sekolah.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, memberikan apresiasi kepada para pustakawan. Ia menolak stigma lama yang memandang posisi pustakawan sebagai penjaga fisik rak buku. Menurutnya, pustakawan adalah penggerak literasi, fasilitator pengetahuan, dan mitra strategis dalam membangun ekosistem pendidikan berkualitas.
“Satu kenikmatan yang tentu saja paling membuat kita bahagia dan bermakna adalah ketika dengan buku kita bisa menginspirasi, dengan perpustakaan kita bisa menggerakkan anak-anak kita untuk menjadi generasi Indonesia hebat, Generasi Emas 2045,” tutur Abdul Mu’ti, yang juga membagikan cerita merintis perpustakaan desa sejak masa muda dan pengalamannya bertugas sebagai pustakawan kampus.
Mendikdasmen kemudian mengaitkan budaya literasi ini dengan keteladanan Presiden Prabowo Subianto. Ia mengisahkan pengalamannya saat berkunjung ke Hambalang dan melihat sebuah ruangan besar yang dipenuhi buku-buku yang aktif dibaca sebagai referensi. “Pemimpin besar adalah pemimpin yang banyak membaca, pemimpin yang senantiasa memberikan inspirasi dengan gagasan-gagasannya yang cemerlang dan keberanian untuk mengambil sikap karena wawasan dan karena ilmu yang dimiliki,” tegas Mendikdasmen.
Abdul Mu’ti menaruh harapan besar agar perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai ruang kaku yang terasing di sudut sekolah atau sekadar formalitas pemenuhan akreditasi. Ia menegaskan komitmennya untuk melakukan transformasi menyeluruh pada perpustakaan kementerian dengan membuka aksesnya secara luas bagi seluruh anak Indonesia dan masyarakat umum.
Dengan fasilitas berakreditasi A yang kini dilengkapi studio multimedia untuk menonton film, membaca, serta berdiskusi, perpustakaan kementerian dirombak menjadi sebuah “Rumah Pendidikan” yang hangat, inklusif, dan menjadi tempat interaksi langsung yang rutin antara pejabat publik, pendidik, dan masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan kementerian pendidikan kini bukan semata-mata sebagai kantor tempat layanan administrasi, tapi menjadi ‘Rumah Pendidikan’ di mana siapapun anak Indonesia dapat belajar dan dapat membaca buku-buku yang ada di perpustakaan,” ujar Abdul Mu’ti./









































