JAKARTA, Bisnistoday – Pasca serangan Iran dengan drone serta rudalnya ke Israel, memberikan tensi politik kawasan Timur Tengah makin memuncak. Apabila ekskalasi yang terjadi terus meningkat, maka dampak paling dirasakan meningkatnya harga minyak mentah dunia. Bagi Indonesia, perlu diwaspadai karena selama ini masih net importir.
“Komoditas khususnya dan instrumen energi itu juga mengalami apresiasi karena faktor potensi peningkatan kondisi global supply chain disruption akibat adanya peningkatan geopolitical tension itu,” ujar Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, Senior Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia di Jakarta, Selasa (16/4).
Hanya saja, lanjut pengamat ekonomi Nafan Aji Gusta ini, belum bisa dipastikan sejauh mana gejolak harga minyak dunia apabila terjadi serangan berkelanjutan konflik Iran-Israel. Apabila kedua negara yang bertikai ini, mampu meredam, atau menahan diri setidaknya maka gejolak harga minyak dunia bisa terkendali.”Jadi ini tergantung sejauh mana ekskalasi yang terjadi,” ucapnya.
Terlabih menurut Nafan, bahwa seperti yang sudah diketahui bersama bahwa harga minyak dunia begitu sensitive terhadap situasi geopolitik. Begitupun seperti apa yang terjadi di kawasan Timur Tengah tentu sudah direspon sejak awal para trader industri energi.
“Diakui bersama, bahwa harga minyak ini kan memang sangat sensitif dimana berkaitan dengan kawasan Timur Tengah,” tuturnya.
Sedangkan dari sisi pasar saham, lanjut Nafan, bakal juga lebih volatile dengan bergerak dinamis. Dengan begitu, para palaku pasar diperkirakan cenderung memilih instrument yang safe heaven. “Tentunya ini membuat para pelaku pasar lebih cenderung prudent bahkan mereka mengalihkan instrumen investasinya ke bersifat safe haven ya misalnya gold, harga komoditas dari gold.”/









































