SAMPANG, Bisnistoday – Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM), warga Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Jawa Timur mulai merasakan keuntungan usahanya. Salah satunya Syaifullah (35 tahun) yang mengaku yakin usaha yang dirintisnya, berkat dukungan PPM, bakal berkembang serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Pertama kali, mencoba usaha peternakan Lele, hanya saja sudah tiga kali percobaan masih gagal. Selanjutnya mencari informasi tentang berternak bebek petelur, bahwa pasarnya masih kurang, sehingga saya tertarik dan serius menekuni usaha ini,” ujar Syaifullah (35 tahun), penerima manfaat Program PPM, SKK Migas-Medco, di Sampang, Rabu (18/6).
Syaifullah yakin usahanya bisa berjalan baik, karena dibekali pelatihan yang memadahi atas dukungan Medco, tentang bagaimana berternak bebek di Blitar, Jawa Timur sebagai sentra ternak bebek petelur. Selain itu, juga bibit serta pakan mendapat dukungan dari Medco.”Jadi ini, membuat saya yakin usaha berjalan dan sekarang berencana untuk menambah kendang,” katanya.
Di kampungnya, Syaifullah merupakan warga satu-satunya yang berusaha menekuni bisnis bebek petelur. Selain itu, menurut dia, bahwa warga lainnya yang melakukan usaha bebek berada di Pamekasan.”Sekarang ini, saya dibantu dengan keluarga sekitar delapan orang, berusaha telur asin ini.”
Didalam kisahnya, Syaifullah melanjutkan, sebagai pemula, bebek piaraannya sebanyak 300-an ekor. Setiap hari, bebek petelur ini mampu menghasilkan telur sekitar 250 butir telur. “Awalnya bebek petelur ini umur lima bulan, terus dimasukkan dalam kendang, dan pertama kali bertelur pada minggu kedua,” tuturnya.
Telur pertama yang dihasilkan ini, sebagai telur kemujuran, sehingga disimpan diatas tiang atas dibawah genteng kendang bebek.”Ini kata orang tua, jadi kalau telur pertama itu harus ditaruh diatas kadang, supaya memberikan kemujuran usaha.”
Selanjutnya, telur yang sudah dipanen ini, masuk ke pemrosesan dengan diawali pembersihan telur dari kendang. Pembersihan dengang menggunakan air biasa, dan masuk proses pengasinan. “Campuran tumbukan halus bata merah, dan garam dengan perbandingan 2 kg bata merah, dan 3 kg garam.”
Proses pengasinan ini disesuaikan pemintaan pasar, seperti permintaan telur mentah saja atau original, selanjutnya ada telur mentah tetapi sudah diproses pengasinan, serta telur matang melalui proses pengasinan sedang, maupun telur matang melalui proses pengasinan hingga 15 hari.“Ini tergantung permintaan di pasar, bisa original telur bebek atau sudah proses pengasinan.”
Menurut Syaifulah, bahwa telur original dari kendang langsung dan sudah dibersihkan dijuall seharga Rp2.000, sedangkan untuk harga di pasar sekitar Rp2.500.”Hanya saja, kalau harga telur original ini mengikuti harga pasar telur di Blitar, kalau turun ikut turun dan sebaliknya.”
Sedangkan untuk telur sudah proses pengasinan mentah dijual Rp3.000, dan telur asin yang sudah matang serta proses pengasinan seharga Rp4.500 per butir. Dari hasil berjualan telur ini, Syaifullah mampu meraup keuntungan bersih per hari sekitar Rp50.000-Rp100.000 serta sebulan pendapatan sekitar Rp2,5 juta sampai Rp3 juta.”Ada potongan juga untuk komunitas,” ujarnya.
Bagi Syaifullah, berternak bebek petelur ini juga tidak bebas dari risiko. Ia mengaku pernah kehilangan bebeknya sekitar 15 ekor akibat banjir. Begitupun juga tidak bisa dipandang remeh apabila ada bebek mulai sakit. “Begitupun penyediaan pakan harus memadai agar bebek tetap berproduksi telur berkualitas.”
Apabila bebek petelur ini sudah tidak produktif lagi, lanjut Syaifullah, akan dijual ke pembeli yang sudah siap menampung. Per bebek yang disebut Apkir ini, dijual berkisar harga Rp60-Rp70 ribu.” Bebek yang sudah tua ini akan dijual dan sudah ada pembelinya nantinya. Apabila bebek bibit unggul ini, mampu produksi hingga 2 tahunan.”/









































