JAKARTA, Bisnistoday – Korelasi antara arus modal asing dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tampak semakin menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pergeseran ini terjadi seiring meningkatnya peran Bank Indonesia (BI) dan perbankan dalam pasar obligasi pemerintah, terutama sejak pandemi COVID-19 melanda pada 2020.
Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan bahwa kepemilikan asing di SBN mengalami penurunan signifikan sejak awal 2020, dari sekitar 40% menjadi hanya 13,9% pada Oktober 2025.
“Meski kepemilikan asing menurun drastis, imbal hasil SBN justru tetap stabil dan bahkan menurun. Ini menunjukkan bahwa pengaruh asing terhadap pergerakan yield sudah tidak sekuat dulu,” ujar Rully.
Pada Januari 2020, imbal hasil SBN tenor 10 tahun masih berada di kisaran 7,0%–7,4%, namun kini turun ke level 6,1%–6,3%. Penurunan ini, kata Rully, dipicu oleh meningkatnya partisipasi BI di pasar obligasi.
“Sejak pandemi, BI menjadi pemain dominan melalui kebijakan burden sharing dengan pemerintah. Kepemilikan BI di SBN kini mencapai 24% dari total outstanding, naik drastis dari posisi di bawah 10% pada awal 2020,” jelasnya.
Di sisi lain, porsi kepemilikan perbankan yang sempat menyentuh 40% pada masa pandemi kini cenderung menurun seiring membaiknya pertumbuhan kredit. Ketika kredit menurun, bank biasanya meningkatkan pembelian SBN untuk menyalurkan likuiditas yang berlebih.
Rully menilai, meski keterlibatan BI membawa stabilitas pasar, ada sisi negatif yang perlu diwaspadai.
“Peran besar BI memang membantu menjaga stabilitas imbal hasil, tetapi juga berpotensi mengurangi disiplin pasar. Investor asing biasanya menjadi pihak yang menuntut transparansi dan kehati-hatian dalam kebijakan fiskal maupun moneter,” katanya.
Ia menyambut baik langkah pemerintah untuk mulai mengurangi skema burden sharing antara pemerintah dan BI.
“Pernyataan Menteri Keuangan soal pengurangan burden sharing adalah sinyal positif untuk menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter Indonesia,” tambah Rully.
Dengan perubahan dinamika tersebut, pasar obligasi Indonesia kini memasuki era baru, di mana kekuatan domestik—baik BI maupun perbankan—menjadi pengendali utama, menggantikan dominasi investor asing yang selama ini menjadi motor utama pergerakan yield.//









































