www.bisnistoday.co.id
Selasa , 26 Mei 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Karakteristik Kelas Menengah Perlahan Berubah. Seperti Apa? Ini Penjelasannya
Ekonomi & Bisnis

Karakteristik Kelas Menengah Perlahan Berubah. Seperti Apa? Ini Penjelasannya

Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Hakuhodo International Indonesia melalui Sei-katsu-sha Lab menyingkap hasil studi terbaru berjudul Navigating the In Between – Living as Indonesian Middle Class.

Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan jumlah kelas menengah di Indonesia menyusut, semula berjumlah 57,3 juta menjadi 47,85 juta orang pada tahun 2024. Padahal, kelas menengah memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia.

Berdasarkan data BPS yang sama, kombinasi segmen ‘kelas menengah’ (middle class) dan segmen ‘menuju ke kelas menengah’ (aspiring middle class), mencakup 66,35 persen dari total populasi dan berkontribusi terhadap 81,49 persen konsumsi domestik Indonesia.

Devi Attamimi, Group CEO Hakuhodo International Indonesia menuturkan bahwa, di dunia yang terus bergerak tanpa henti, kita semua dituntut beradaptasi. Kelas menengah sedang berada di pusaran perubahan, mereka membawa mimpi yang mendorong Indonesia untuk maju sekaligus menanggung tekanan yang terbentuk oleh zaman.

“Kami mempelajari manusia bukan sebagai tren, melainkan sebagai kisah hidup yang terus berkembang. Dan bagi para pelaku industri pemasaran, peran kita adalah mendengarkan, memahami, dan membangun hubungan yang membuat hidup terasa lebih bermakna.” ujarnya di Jakarta, Rabu (7/11).

Dari Penuh Mimpi Menjadi Realistis

Dulu, kelas menengah adalah segmen yang selalu berlomba-lomba naik tangga sosial-ekonomi, kini mereka lebih berpijak pada kenyataan. Mimpi untuk maju tetap ada, tetapi kini diimbangi dengan ketidakpastian hidup dan sikap yang lebih realistis.

89 persen responden mengatakan mereka tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan, yang menunjukkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi terhadap tantangan hidup.

“Mereka menemukan makna di balik ketidaksempurnaan. Bagi banyak orang, pengalaman sulit menjadi titik balik pribadi, sesuatu yang mereka sebut sebagai  My Scar, My Strength. Prioritas diri kini bergeser dari Look Good menjadi Feel Good. Mereka tidak lagi mengejar validasi, melainkan ketenangan dan keseimbangan dalam hidup,” kata Devi

Sistem dukungan dari sekitar juga berubah. 72 persen responden menyebut memiliki jaringan sosial yang kuat, menunjukkan bahwa komunitas kini bisa juga berperan sebagai penopang stabilitas hidup, yang sebelumnya, role ini biasanya hanya datang dari keluarga. Ini menjadi bentuk baru dari “Social Insurance.”

From Proving to Improving

Kesuksesan tidak lagi diukur dari kekayaan ataupun kesuksesan finansial semata, tetapi mengutamakan kemampuan diri untuk bisa bertahan dan berkembang, serta mampu menjaga martabat dan rasa percaya diri mereka dalam menghadapi situasi yang sulit dan tidak menentu.

Diantara hasil 57 persen berencana memulai usaha sendiri, 42 persen ingin memberi dampak positif bagi sekitarnya, dan 38 persen berfokus meningkatkan pendidikan atau keterampilan.

Rian Prabana, Senior Director of Strategy & Head of Sei-katsu-sha Lab mengungkapkan bahwa,  responden muda menunjukkan kedisiplinan finansial yang lebih baik dengan rutin membuat anggaran atau rencana keuangan setiap bulan.

“Muncul pandangan baru tentang kesuksesan yang berakar pada semangat Siri’ na Pacce dari Bugis-Makassar, yang mencerminkan martabat dan empati. Banyak yang merasa bahagia bukan karena menerima bantuan, tetapi karena mampu membantu orang lain,” ungkapnya.

Persentase kelas menengah yang menyisihkan 10 persen dari pendapatan untuk zakat atau donasi meningkat dari 10 persen secara jumlah orang pada 2024 menjadi 15 persen pada 2025, menandakan bahwa memberi tetap menjadi bagian penting dari nilai diri mereka.

Dari Konsumsi untuk Flexing Jadi Konsumsi untuk Feeling Good

Kelas menengah tidak lagi belanja semata untuk menunjukkan status mereka. Belanja kini mempunyai fungsi yang penting dalam bertahan di tengah-tengah ketidakpastian. Belanja yang tepat ditujukan untuk memprioritaskan diri mereka sendiri agar bisa merasa nyaman dan cukup.

90 persen menyebut kualitas yang konsisten sebagai alasan utama loyalitas terhadap Brand, mencerminkan bahwa menghargai kualitas berarti juga menghargai diri sendiri. Mereka membeli bukan untuk pamer, tetapi untuk mengisi kembali semangat diri. Seorang responden bahkan menyebut motornya sebagai “penyemangat hidup,” simbol keberanian dalam menjalani hari.

70 persen merasa terhubung dengan Brand yang mampu meningkatkan suasana hati mereka, membuktikan bahwa kedekatan emosional kini menjadi faktor utama. Meski anggaran terbatas, banyak yang tetap menyisihkan sebagian pendapatan untuk kebutuhan “Mental Therapy” seperti hobi, hiburan, atau waktu pribadi.

61 persen mengaku rutin memberi hadiah kecil untuk diri sendiri sebagai cara menjaga ‘kewarasan’ di masa penuh ketidakpastian.

“Studi ini memberikan warna dan perspektif baru tentang Kelas menengah di mana mereka terus tumbuh, tanpa kita sadari. Mereka tidak lagi sekadar mencari aspirasi, tetapi mencari keseimbangan,” pungkas Rian./

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Koperasi Kana meresmikan kantor cabang baru di kawasan Menara Syariah, Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang, Banten, Senin (25/5).
Ekonomi & Bisnis

Perkuat Ekosistem Bisnis, Koperasi Kana Resmikan Cabang Baru PIK 2

TANGERANG, Bisnistoday - Koperasi Kana meresmikan kantor cabang baru di kawasan Menara...

Tambang Nikel
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Aturan Monopoli SDA Dinilai Bisa Dorong Reindustrialisasi Nasional

JAKARTA, Bisnistoday – Ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai kebijakan pemerintah...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Pengurus Baru Masyarakat Ekonomi Syariah dikukuhkan, Menkop Sebagai Ketua Harian

JAKARTA, Bisnistoday - Struktur Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (PP MES) periode...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menkop: Koperasi Alternatif Platform Masa Depan

JAKARTA, Bisnistoday - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengatakan koperasi merupakan platform...