JAKARTA, Bisnistoday – Di sebuah ruang kecil di Indonesia, seorang perempuan asal Mesir menatap layar gawainya dengan penuh kesadaran: budaya bisa melintasi jarak, bahasa, bahkan benua, asal ada cinta dan ketekunan. Namanya Noha Gharib Ahmed, perempuan Arab pertama yang menciptakan aplikasi gamelan Jawa berbasis Augmented Reality (AR) untuk dunia.
Noha bukan orang Indonesia. Ia lahir dan besar di Mesir. Namun kecintaannya pada Indonesia tumbuh perlahan, bermula dari hal sederhana: belajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) secara daring. Dari pelajaran bahasa itu, ia justru menemukan pintu menuju kebudayaan Nusantara yang mengubah arah hidupnya
Lulusan S1 Seni Musik Universitas Helwan, Mesir, Noha melanjutkan studi magister Seni Musik dan Budaya di Universitas Negeri Yogyakarta dan lulus cumlaude. Kini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral di Universitas Negeri Jakarta. Sejak 2022, Indonesia bukan lagi sekadar tujuan studi, tetapi rumah kedua baginya.
Ketertarikan Noha pada gamelan Jawa tidak muncul karena keunikan bunyinya semata. Ia menemukan nilai-nilai filosofis yang terasa dekat dengan budaya Arab: harmoni, disiplin, kebijaksanaan, dan semangat kolektif.
“Nilai moral gamelan sangat bagus dan sesuai dengan nilai budaya Arab. Ia bisa membangun karakter generasi muda,” ujar Noha suatu ketika
Namun, ia menemukan satu persoalan besar: masyarakat Timur Tengah hampir tidak memiliki akses untuk mempelajari gamelan Indonesia. Aplikasi gamelan yang ada sulit diakses dari kawasan tersebut, sementara membawa instrumen asli dari Indonesia membutuhkan biaya besar dan logistik rumit. Dari kegelisahan itulah, sebuah ide besar lahir.
MNI Gamelan Jawa: Musik Nusantara, Menyatu Dua Bangsa
Noha kemudian mengembangkan aplikasi MNI Gamelan Jawa, sebuah platform pembelajaran gamelan berbasis Augmented Reality. Nama MNI bukan sekadar singkatan dari Musik Nusantara Indonesia, tetapi juga melambangkan dua negeri yang kini menyatu dalam hidupnya: Mesir dan Indonesia.
Lewat aplikasi ini, pengguna cukup memindai dan memainkan gamelan dalam bentuk visual 3D yang interaktif. Tanpa alat musik fisik, anak-anak dan pelajar di Timur Tengah dapat belajar gamelan hanya melalui gawai. Aplikasi ini juga mendukung tiga bahasa—Arab, Indonesia, dan Inggris, sehingga menjadikannya inklusif dan edukatif lintas budaya
Tak hanya sebagai media musik, MNI Gamelan Jawa dirancang sebagai media pembelajaran budaya. Bahkan, praktik bermain gamelan dapat dilakukan secara daring bersama pengajar asli dari Indonesia. Fitur ini membuatnya relevan dengan kurikulum sekolah internasional di Mesir yang mulai memasukkan unsur budaya global.
Buku, Anak-Anak, dan Diplomasi Budaya
Keseriusan Noha dalam melestarikan gamelan tidak berhenti pada aplikasi. Ia juga menulis buku panduan “Warisan Dunia Gamelan Jawa” yang ditujukan bagi guru-guru di Timur Tengah. Buku ini mengulas sejarah, filosofi, instrumen, hingga nilai moral gamelan sebagai pegangan pembelajaran budaya
Untuk anak-anak, ia menulis buku cerita bergambar berjudul “Keajaiban Nusantara di Mata Pemuda Mesir”. Cerita ini terintegrasi langsung dengan aplikasi AR, memungkinkan anak-anak menjelajahi dunia gamelan dalam format visual interaktif.
Namun, perjalanan itu tidak mudah. Selama lebih dari 1,5 tahun, Noha mengembangkan aplikasi dan buku dalam keterbatasan finansial. Ia bahkan sempat dua kali ditipu pengembang aplikasi, nyaris membuat mimpinya berhenti di tengah jalan. Tapi ia bertahan.
Belum Sempurna, Tapi Penuh Harapan
Saat ini, aplikasi MNI Gamelan Jawa sudah dapat digunakan meski masih terus dikembangkan. Noha bermimpi aplikasinya bisa menjadi alat diplomasi budaya Indonesia, digunakan oleh kedutaan dan pusat kebudayaan Indonesia di seluruh dunia—tanpa perlu membawa gamelan fisik.
“Saya benar-benar membutuhkan partner dan dukungan, termasuk dari Kementerian Kebudayaan Indonesia, agar aplikasi ini bisa berkembang secara resmi,” ujarnya penuh harap
Bagi Noha, MNI bukan sekadar proyek akademik atau teknologi. Ia adalah wujud cinta.“Saya orang Mesir yang sangat mencintai Indonesia. Itulah sebabnya saya membuat MNI,” katanya.
Dari Kairo ke Jawa, dari layar gawai ke panggung dunia, Noha Gharib membuktikan bahwa budaya Indonesia dapat hidup dan tumbuh di tangan siapa pun yang mencintainya, bahkan dari negeri yang ribuan kilometer jauhnya.//








































