www.bisnistoday.co.id
Senin , 15 Juni 2026
Home EKONOMI Harga Bensin Picu Lonjakan Inflasi di AS
EKONOMI

Harga Bensin Picu Lonjakan Inflasi di AS

Harga rata-rata untuk satu galon bensin (3,78 liter) adalah US$4,42, naik dari US$4,17 pada bulan lalu.

Harga Bensin Picu Lonjakan Inflasi di AS . (Unsplash.com/DawnMcDonald)
Harga Bensin Picu Lonjakan Inflasi di AS . (Unsplash.com/DawnMcDonald)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Kenaikan harga bensin memicu lonjakan inflasi di Amerika Serikat ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Konflik AS-Israel dengan Iran membuat harga BBM melonjak 5,5 persen pada April lalu.

Pengeluaran konsumsi pribadi,  yang nenjadi ukuran Bank Sentral AS untuk menilai inflasi, naik 3,8 persen selama setahun terakhir pada April, setelah kenaikan 3,5 persen pada bulan sebelumnya, menurut laporan Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan, Kamis (28/5/2026).

Lembaga itu menyebutkan, secara bulanan, PCE (Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi) juga naik 0,4 persen pada bulan April setelah kenaikan 0,7 persen pada bulan Maret.

Secara keseluruhan, harga barang naik 0,7 persen. Lonjakan terbesar terjadi pada harga bensin, naik 5,5 persen karena konflik AS dengan Iran menekan pasar energi global.

Harga rata-rata untuk satu galon bensin (3,78 liter) adalah US$4,42, naik dari US$4,17 pada bulan lalu, dan naik dari US$2,98 per galon pada 28 Februari, ketika AS dan Israel menyerang Iran.

Data itu menyebutkan harga makanan juga naik sebesar 0,5 persen, yang merupakan kenaikan harga bulanan terbesar sejak November 2022.

Biaya perumahan dan utilitas juga melonjak sebesar 0,6 persen. Pengeluaran konsumen juga meningkat sebesar 0,5 persen setelah kenaikan 1 persen pada bulan Maret.

Kini banyak warga AS menggunakan tabungan mereka. Berdasarkan data tingkat tabungan turun sebesar 2,6 persen pada bulan lalu.

Tekanan Bank Sentral

Meningkatnya Inflasi memberikan tekanan pada Bank Sentral menjelang pertemuan kebijakan pertama mereka di bawah ketua baru, Kevin Warsh, yang dijadwalkan pada 16-17 Juni.

“Gambaran inflasi semakin tidak nyaman bagi The Fed,” kata Olu Sonola, kepala ekonomi AS di Fitch Ratings, kepada kantor berita Reuters. “Tekanan harga kemungkinan akan berlanjut selama beberapa bulan ke depan, dan meskipun The Fed tidak dapat memperbaiki guncangan pasokan, mereka tidak dapat mengabaikan guncangan yang memicu inflasi mendasar.”

Bank sentral diprediksi mempertahankan inflasi di kisaran 3,50-3,75 persen hingga tahun 2027. Analisis JPMorgan Chase baru-baru ini memproyeksikan suku bunga akan tetap stabil hingga pertengahan 2027.

Hal itu tercermin dalam risalah bank sentral dari pertemuan 28-29 April, yang menunjukkan para pembuat kebijakan cenderung menaikkan suku bunga.

Meskipun laporan menunjukkan inflasi yang meningkat, pasar saham di AS tetap naik. Nasdaq naik 0,6 persen dan S&P 500 naik 0,5 persen, sementara Dow Jones Industrial Average hampir datar — hanya naik 0,05 persen pada perdagangan tengah hari.//

 

 

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Nama Lionel Messi masih menjadi daya tarik, termasuk untuk produk asesoris Piala Dunia 2026. (Unsplash/Dwlly)
EKONOMISport & Health

Meraup Cuan di Piala Dunia Melalui Penjualan Boneka Messi

JAKARTA, Bisnistoday – Timnas Tiongkok memang gagal lolos ke Piala Dunia 2026,...

Mata uang AS, Dolar. (Unsplash/Niconor Brown)
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Dolar AS tetap Perkasa di Tengah Meningkatnya Konflik Timur Tengah

JAKARTA, Bisnistoday - Dolar AS tetap stabil terhadap mata uang utama lainnya...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kokoh di Industri, Regina Realty Menjadi Acuan Memilih Properti Menguntungkan

JAKARTA, Bisnistoday – Membangun bisnis dari pengalaman mengelola dan mengembangkan aset secara...

OpenAI (dok:Unsplash/Levart Phorographer)
EKONOMI

Tidak Mau kalah dari Pesaing, OpenAI Berencana IPO

JAKARTA- Bisnistoday - OpenAI, perusahaan teknologi yang membuat ChatGPT, diam-diam mengajukan penawaran...