JAKARTA, Bisnistoday -Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok siapkan empat terobosan baru untuk peningkatan kinerja dalam tiga bulan mendatang Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Balai Karantina Tanjung Priok, Hasrul Sp,MP dalam acara gathering bersama media di Jakarta, Rabu (5/5).
“Untuk mendorong kinerja karantina, ada empat folus strategi yang akan diterapkan. Harus ada perbaikan, jangan sampai kendor,” ungkap, Hasrul kepada media.
Keempat aksi tersebut, lanjut Hasrul, pertama adalah fokua peningkatan SDM. Hal ini bisa ditempuh dengan penguatan kualitas melalui berbagai pelatihan. Kedua, adanya pengembangan sarana kegiatan operasional karantina Tanjung Priok seperti perangkat deteksi tumbuhan ataupun hewan.
Baca juga : Pertanian Jadi Tulang Punggung Perekonomian Saat Pandemi Covid-19
“Ini penting, seperti terjadi varian baru Covid 19 dari India, awalnya tidak bisa terdeteksi. Setelah didatamgkan alat dari India, baru terlihat Covid 19 varian baru.Artinya harus ada pembaruan teknologi,” tuturnya.
Selain itu, menurut Hasrul, Balai Besar Karantina harus menyempurnakan aturan teknis Kakarantinaan dibawah koordinasi Balai Besar Tanjung Priok sebagai garda depan karantina Indonesia. Contohnya, baru-baru ini muncul kasus Jahe yang dimusnahkan, karena tidak sesuai prosedur teknis maupun legal. “Jadi implememtasi teknis permentan harus diterapkan sungguh-sungguh.Pemusnahan Jahe, bukan karena terkait milik siapa, tetapi semata mematuhi aturan, prosedur,” tegas Hasrul.
Meski begitu, Hasrul mengatakan didalam implementasi aturan kekarantinaan perlunya dukungan semua pihak. Masyarakat juga berperan penting dalam mengawal kebijakan karantina. Perlu dipahami bersama, bahwa tidak boleh lengah karena penyebaran penyakit begitu gawat apalagi melanda wilayah Ibukota Negara. “Semua stakeholders diharapkan tergerak untuk mengambil peran masing-masing, dalam menjaga berbagai potensi yang tidak menguntungkan,” paparnya.
Peran Komunikasi
Sementara, Staf khusus Menteri Pertanian bidang Komunikasi Pembangunan Pertanian, Yesiah Ery Tamalagi mengatakan, pemerintah khususnya Balai Besar Karantina Tanjung Priok lebih memberikan informasi yang gampang dicerna bagi masyarakat dan khususnya dunia usaha yang sering bersentuhan dengan kebijakan karantina.
“Palaku usaha dan masyarakat umumnya, harus diberikan informasi secara sederhana dan gampang dimengerti, tanpa memakai iatilah teknis karantina, yang memerlukan penjelasan tersendiri,” tuturnya.
Stakeholders harus diberi pemahaman lebih konkrit termasuk melalui media. Bahkan, mediapun jangan sampai tidak mengetahui apa yang diberitakan, sehingga harus diajak terjun ke lapangan.” Dalam kegiatan patroli misalnya, bisa diajak awak media, biar lebih paham tentang karantina,” tambahnya.//




