JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan, Senin (20/12) ditutup melemah 54,82 poin ke posisi 6.547,11. Sementara indeks LQ45 turun 7,24 poin ke posisi 932,17. Pelemahan kali ini karena tertekan sentimen kenaikan suku bunga acuan sejumlah bank sentral global.
“Terkoreksinya bursa Wall Street di akhir minggu lalu akibat tekanan dari kemungkinan kenaikan suku bunga acuan beberapa negara secara global akibat inflasi naik, terkoreksinya beberapa komoditas seperti timah, batu bara serta aksi jual bersih investor asing, menjadi katalis negatif,” tulis Tim Riset Ajaib Sekuritas dalam ulasannya di Jakarta, Senin (20/12).
Pekan lalu, The Fed mengatakan akan mempercepat pengurangan stimulus pembelian obligasi untuk mengakhiri program pada Maret, sementara bank sentral Inggris juga mengejutkan pasar dengan menjadi bank sentral global besar pertama yang menaikkan suku bunga.
Sedangkan China memangkas suku bunga acuan pinjaman (LPR) untuk pertama kalinya dalam 20 bulan, dalam upaya untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Dibuka melemah, IHSG terus berada di zona merah hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih tak mampu beranjak dari teritori negatif sampai penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor terkoreksi dimana sektor perindustrian turun paling dalam yaitu minus 1,52 persen, diikuti sektor barang konsumen non primer dan sektor barang baku masing-masing minus 1,48 persen dan minus 1,29 persen. Sedangkan dua sektor meningkat yaitu sektor teknologi dan sektor kesehatan masing-masing sebesar 0,95 persen dan 0,13 persen.
Penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing di seluruh pasar yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing di seluruh pasar sebesar Rp543,38 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.217.634 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 24,2 miliar lembar saham senilai Rp11,86 triliun. Sebanyak 167 saham naik, 390 saham menurun, dan 120 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 607,87 poin atau 2,13 persen ke 27.937,81, indeks Hang Seng turun 447,77 poin atau 1,93 persen ke 22.744,86, dan indeks Straits Times terkoreksi 38,66 atau 1,24 persen ke 3.072,97.
Rupiah Melemah
Sementara itu,nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah 47 poin ke posisi Rp14.402 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.355 per dolar AS. Pelemahan dipicu sentimen meluasnya varian Omicron.
Tim Riset Monex Investindo Futures dalam kajiannya menyebutkan, pelaku pasar khawatir terhadap virus varian Omicron yang penyebarannya semakin memburuk.
Di Denmark, Afrika Selatan, dan Inggris, jumlah kasus virus varian Omicron telah berlipat ganda setiap dua hari. Perdana Menteri Denmark Mette Frederisken mengatakan bahwa pemerintahannya akan mengusulkan pembatasan baru untuk membatasi penyebaran.
Sementara itu, di Amerika Serikat, cepatnya penyebaran varian Omicron telah membuat beberapa perusahaan berencana menghentikan sementara.
Di sisi lain, ada spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve. Gubernur Federal Reserve Chris Waller mengatakan bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan akan dijamin segera setelah The Fed mengakhiri pembelian obligasi pada Maret.
Sebelumnya, Presiden Fed New York John Williams mengatakan bahwa The Fed akan mendapatkan opsi untuk menaikkan suku bunga pada 2022 dengan mengakhiri pembelian obligasi pada Maret./










































