www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 23 Mei 2026
Home EKONOMI Ekonomi Rakyat Dari Tak Paham Transfer, Kini Euis Jadi Andalan Warga untuk Akses Keuangan
Ekonomi Rakyat

Dari Tak Paham Transfer, Kini Euis Jadi Andalan Warga untuk Akses Keuangan

Social Media

KAB. GARUT, Bisnis Today – Jauh sebelum layanan keuangan digital menjamur seperti sekarang, akses transaksi perbankan di tingkat masyarakat masih terbatas. Di Cibatu, Kabupaten Garut, kebutuhan itu mulai terjawab sejak Euis Masriani memutuskan membuka layanan BRILink pada 2015.

Di masa itu, konsep BRILink masih asing bagi banyak orang, termasuk bagi Euis sendiri. Ia menerima tawaran dari pihak bank tanpa benar-benar memahami sepenuhnya sistem layanan yang akan dijalankan.

“Awalnya ditawari oleh pihak bank. Waktu itu saya juga belum tahu soal transfer, setor tunai, atau pembayaran,” ujar Euis, kepada Bisnis Today, Jumat (22/5/2026).

Namun, keputusan untuk mencoba justru menjadi titik awal perjalanan panjang. Dari ketidaktahuan, Euis perlahan belajar memahami sistem, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang ia jalankan.

Seiring waktu, usahanya berkembang dan menjadi salah satu yang pertama hadir di wilayah tersebut. Ia bahkan menjadi pelopor BRILink di Cibatu, saat layanan serupa belum banyak ditemukan.

“Iya, dulu termasuk yang pertama buka BRILink di Cibatu,” katanya.

Dari tempat usahanya, Toko Solihin dan Prioritas, Euis melayani berbagai kebutuhan transaksi warga. Mulai dari transfer uang, tarik tunai, hingga pembayaran menjadi bagian dari aktivitas harian yang kini semakin mudah dijangkau masyarakat.

Kehadiran BRILink yang ia kelola membawa perubahan nyata, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi lingkungan sekitar. Warga yang sebelumnya harus pergi ke bank atau ATM kini memiliki alternatif yang lebih dekat dan praktis.

“Untuk masyarakat sangat membantu, terutama kalau ATM error atau butuh tarik tunai,” ujarnya.

Di pasar, tempat ia juga membuka layanan, peran BRILink bahkan menjadi semakin penting. Pedagang membutuhkan akses cepat untuk transaksi pembayaran kepada pemasok, terutama di luar jam operasional bank.

“Di pasar juga banyak yang butuh untuk pembayaran ke sales, jadi BRILink sangat membantu,” kata Euis.

Di balik manfaat tersebut, perjalanan yang ia jalani tidak selalu mulus. Euis pernah mengalami berbagai dinamika, mulai dari pengalaman menyenangkan hingga kendala teknis dalam transaksi.

Ia masih mengingat momen ketika seorang pelanggan memberikan tambahan biaya secara sukarela setelah dilayani. Hal kecil itu menjadi salah satu pengalaman yang membekas selama menjalankan usaha.

Namun, ada pula pengalaman kurang menyenangkan, seperti transaksi yang gagal tetapi saldo terpotong. Kondisi itu sempat menjadi tantangan sebelum sistem penanganan semakin baik.

“Sekarang sudah lebih tertangani, sudah ada sistemnya,” ujarnya.

Tantangan lain datang dari sisi operasional, terutama dalam menjaga keseimbangan antara saldo dan uang tunai. Sebagai agen, Euis harus memastikan keduanya tersedia agar layanan tetap berjalan lancar.

“Kalau saldo kurang, transfer tidak bisa. Kalau uang tunai kurang, penarikan juga jadi masalah,” katanya.

Selain itu, persaingan usaha juga semakin ketat seiring bertambahnya jumlah agen. Perbedaan tarif transaksi antar agen menjadi salah satu faktor yang sering dihadapi di lapangan.

“Persaingan banyak, apalagi soal harga. Ada yang lebih murah, sementara kita harus menyesuaikan dengan potongan dari mesin,” ujar Euis.

Meski demikian, ia tetap bertahan dengan mengandalkan pengalaman dan kepercayaan yang telah dibangun sejak awal. Bagi Euis, BRILink bukan sekadar usaha, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang telah ia rintis sejak awal kemunculannya di daerah tersebut.

Kini, di tengah semakin berkembangnya layanan keuangan digital, peran BRILink tetap relevan bagi masyarakat. Kedekatan layanan dan kemudahan akses menjadi nilai yang tidak tergantikan.

Euis berharap ada pengaturan yang lebih baik dalam pengembangan agen, terutama terkait jarak dan distribusi. Ia ingin persaingan yang terjadi tetap sehat dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Harapannya ada pengaturan yang lebih baik, supaya tidak terlalu berdekatan dan persaingan bisa lebih sehat,” katanya.

Kisah Euis menunjukkan bahwa inklusi keuangan tidak selalu lahir dari sistem besar yang rumit. Ia tumbuh dari keberanian mencoba, dari proses belajar, dan dari konsistensi melayani masyarakat sejak awal.E2

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Usaha kecil ikan pepetek
Ekonomi Rakyat

Dulu Sempat Kesulitan Modal, Kini Petekers jadi PT Olahan Ikan

BANDUNG, Bisnis Today - Siapa yang mengira usaha Petekres yang awalnya hanya...

Caption: Asna, pengelola agen BRILink Anna Tri Putra di Cibatu, Kabupaten Garut, membantu memperluas akses layanan keuangan di lingkungan warga.
Ekonomi Rakyat

Agen Jadi Penggerak Inklusi Keuangan di Tingkat Warga

GARUT, Bisnis Today - Di tengah masih terbatasnya akses dan literasi layanan...

Iman Sulaeman, pemilik agen BRILink “Iman” di Cibatu, Kabupaten Garut.
Ekonomi Rakyat

Kemudahan Layanan Keuangan Bantu Perputaran Ekonomi dan UMKM di Tingkat Lokal

GARUT, Bisnistoday- Keberadaan agen BRILink tidak hanya mempermudah layanan transaksi masyarakat, tetapi...

RCEO BRI Region 9 Bandung, Dewi Hestiningrum S. (Instagram @bri_regionalbandung)
Ekonomi Rakyat

BRI Dorong Masyarakat Naik Kelas Lewat Inklusi dan Digitalisasi Keuangan

BANDUNG, Bisnistoday -PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus memperkuat inklusi keuangan dengan...