JAKARTA, Bisnistoday – Selain membahas situasi terkini kondisi global, pertemuan antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan pemimpin Rusia, Vladimir Putin, juga membicarakan kerja sama di sektor energi.
Putin menyebut sektor ini sebagai kekuatan pendorong kerja sama ekonomi dalam hubungan Rusia-Tiongkok.
Tiongkok menegaskan dirinya sebagai pembeli utama minyak Rusia dan mitra dagang, setelah sebagian negara-negara Barat memutuskan hubungan ekonomi dengan Moskow sebagai tanggapan atas invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Katrina Yu dari Al Jazeera, yang meliput pertemuan itu di Beijing, mengatakan meskipun kedua pemimpin berencana untuk menandatangani sekitar 40 perjanjian yang mencakup segala hal, mulai dari ekonomi dan pariwisata hingga pendidikan, keamanan energi tetap menjadi prioritas Putin.
“Sejak perang di Ukraina, penjualan gas apa pun yang sebelumnya menuju Eropa, semuanya telah terhenti, dan Rusia sangat membutuhkan pendapatan untuk menggantinya,” katanya.
Namun, pembicaraan tersebut tidak menghasilkan konsensus baru tentang Power of Siberia 2, proyek pipa gas yang selama ini jadi pembahasan kedua negara.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kepada media Rusia bahwa kedua pihak telah mencapai pemahaman dasar tentang pipa tersebut, termasuk rutenya, tetapi tidak ada “jadwal waktu yang jelas” untuk pembangunannya.
Xi mengatakan bahwa kerja sama di bidang energi dan konektivitas sumber daya harus menjadi bandul pengikat antara kedua negara, tetapi tidak menyebutkan tentang pipa gas tersebut.
Sino-Rusia
Meskipun mereka menerima sambutan karpet merah yang sama, kunjungan Putin sejauh ini sangat kontras dengan kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing, pekan lalu.
Kunjungan Presiden Rusia kali ini menandai 25 tahun persahabatan Sino-Rusia dan Putin telah mengunjungi Tiongkok puluhan kali, bertemu dengan Xi lebih dari 40 kali. “Jadi kunjungan ini benar-benar akan memperdalam koordinasi dan kerja sama yang ada,” kata Yu dari Al Jazeera.
Putin berjanji bahwa Rusia dan Tiongkok akan menjalankan kebijakan luar negeri yang independen dan berdaulat bersama-sama untuk memainkan “peran penstabil di panggung global”.//


