JAKARTA, Bisnistoday – Tiket pertandingan semifinal Liga Champions Putri Asia 2026 antara klub Suwon FC dari Korea Selatan melawan Naegohyang FC (Korea Utara), ludes terjual hanya dalam waktu hitungan jam, sejak dibuka pada Selasa (19/5/2026).
Menurut Asosiasi Sepak Bola Korea, seluruh 7.087 kursi untuk penonton umum untuk laga yang digelar Rabu (20/5/2026) di Suwon, Korea Selatan ini, telah terisi.
Naegohyang Women’s FC adalah tim Korea Utara pertama yang bermain di Korea Selatan sejak 2018. Klub yang didirikan di Pyongyang pada tahun 2012, menginap di hotel yang sama dengan tim tuan rumah.
Kementerian Unifikasi Korea Selatan sebelumnya mengatakan delegasi Korea Utara datang dengan membawa 27 pemain dan 12 anggota ofisial.
Karena Liga Champions Asia adalah kompetisi antarklub dan bukan turnamen internasional, media lokal melaporkan bahwa bendera dan lagu kebangsaan nasional tidak akan ditampilkan selama pertandingan.
Tidak akan ada pendukung Korea Utara, karena umumnya mereka dilarang memasuki Korea Selatan.
Kementerian Unifikasi mengatakan pihaknya berencana memberikan 300 juta won ($200.000) kepada organisasi sipil di Korea Selatan yang mempersiapkan acara dukungan bersama untuk kedua tim.
Pemenang pertandingan ini akan tampil di final pada 23 Mei di Suwon melawan Melbourne City dari Australia atau Tokyo Verdy Beleza dari Jepang.
Korea Utara telah lama menjadi kekuatan besar dalam sepak bola wanita, khususnya dalam kompetisi usia muda. Tim-timnya telah meraih beberapa gelar dunia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk Piala Dunia Wanita U-17 FIFA tahun lalu setelah mengalahkan Belanda 3-0 di final.
Korea Utara baru-baru ini memperbarui konstitusinya untuk menghapus semua referensi tentang reunifikasi dengan Korea Selatan, menandakan pergeseran ke arah memperlakukan kedua Korea sebagai negara yang terpisah.
Diplomasi Olahraga
Para analis mengatakan perubahan tersebut bertujuan untuk menggambarkan Korea Utara sebagai negara yang “normal,”, dan menghindari mengunakan ungkapan-ungkapan yang sangat bernada bermusuhan terhadap negara tetangganya.
Victor Cha, ketua Korea di Center for Strategic and International Studies di Washington, dan Andy Lim, wakil direktur di lembaga think tank Amerika, berpendapat pertandingan tersebut dapat berfungsi sebagai saluran langka untuk keterlibatan antar-Korea pada saat hubungan tegang, melanjutkan sejarah panjang “diplomasi olahraga” antara keduanegara.
“Fakta bahwa Pyongyang mengizinkan atletnya untuk berkunjung ke Korea Selatan sangat signifikan mengingat penutupan semua dialog dengan Korea Selatan oleh Korea Utara dan penegasan deklarasi negara musuh terhadap Seoul,” tulis mereka, seperti dilansir The Independent.
“Dalam hal ini, pertandingan sepak bola dapat menunjukkan potensi untuk memisahkan antara budaya dan olahraga dari politik.”//


