BANDUNG, Bisnis Today – Siapa yang mengira usaha Petekres yang awalnya hanya memproduksi 1,5 kilogram ikan pepetek dari rumah, kini berkembang menjadi perusahaan berbentuk PT(Perseroan Terbatas -red) dengan kapasitas produksi ratusan kilogram per bulan.
Berawal dari usaha kecil saat pandemi Covid-19, Rizki Maulana (32) berhasil membangun bisnis olahan ikan yang kini memasok produk ke supermarket hingga distributor luar daerah, berkat ketekunannya.
Awalnya, ia memanfaatkan bahan baku lokal berupa ikan pepetek yang melimpah di wilayah Danau Saguling, Cililin. Dalam sehari, hasil tangkapan ikan pepetek bahkan bisa mencapai tiga kuintal.
“Waktu pertama bikin Petekres itu kami memanfaatkan bahan baku lokal ikan pepetek yang banyak di Cililin. Dari situ muncul ide membuat produk olahan agar nilai jualnya meningkat,” kenang Rizki, kepada Bisnis Today, Jumat (22/5/2026).
Produksi awal dilakukan secara sederhana dari rumah dengan bahan baku sekitar 1,5 kilogram ikan. Produk tersebut dipasarkan melalui status WhatsApp menggunakan kemasan plastik sederhana.
“Ternyata ada yang beli. Dari situ saya jadi optimis usaha ini bisa berkembang,” ujar Rizki.
Menurut Rizki, perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Selama empat tahun pertama, Petekres lebih fokus mengenalkan produk terlebih dahulu ke pasar. Namun strategi tersebut dinilai kurang efektif.
“Kami belajar ternyata kalau bisnis dimulai dari produknya dulu lalu baru mencari pasar, itu lebih sulit. Setelah evaluasi, kami akhirnya fokus melihat kebutuhan konsumen,” katanya.
Berangkat dari persoalan stunting dan kurangnya konsumsi ikan pada anak-anak, Petekres kemudian mengembangkan produk frozen food berbahan dasar ikan, seperti nugget ikan, tahu bakso ikan, dan siomay ikan.
“Motivasi awal kami memang ingin anak-anak Indonesia gemar makan ikan supaya kebutuhan gizinya terpenuhi,” ujarnya.
Namun, menjalankan usaha lagi-lagi bukanlah perkara mudah. Selain harus mengenalkan produk baru ke pasar, Rizki juga menghadapi keterbatasan modal untuk membeli alat produksi dan memperbaiki kemasan.
Di tengah proses merintis usaha itulah Rizki memanfaatkan fasilitas KUR BRI sebesar Rp25 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli mesin sealer, kebutuhan pengemasan, hingga menunjang produksi awal.
Menurut Rizki, proses pengajuan KUR yang mudah menjadi alasan dirinya memilih BRI. Apalagi di wilayah tempat tinggalnya, layanan BRI dinilai paling mudah dijangkau masyarakat.
“Modal dari KUR sangat membantu untuk awal usaha. Alhamdulillah sekarang sudah lunas dan usaha juga berkembang,” katanya.
Kendati demikian Rizki berpesan, pelaku UMKM perlu memastikan arus kas dan permintaan pasar sudah jelas sebelum mengambil pembiayaan usaha.
“Kalau cash flow sehat, peluang berkembang juga lebih besar,” ujarnya.
Seiring waktu, usaha Petekres mulai berkembang. Produk ikan crispy pepetek yang awalnya hanya dijual ke teman dekat kini telah masuk ke supermarket dan distributor luar daerah.
Tidak Hanya Ikan Pepetek
Saat ini Petekres tidak hanya memproduksi olahan ikan pepetek saja, tetapi juga mengembangkan berbagai produk frozen food berbahan dasar ikan laut seperti nugget ikan.
Berbagai inovasi tersebut dibuat dengan satu misi utama, yakni membuat anak-anak lebih gemar mengonsumsi ikan sebagai sumber protein dan gizi.
“Karena saya juga melihat ternyata enggak semua anak suka makan ikan, tapi ketika ikannya diolah seperti cemilan ikan krispy, nugget itu anak-anak cenderung lebih suka, ” kata Rizki.
Tak hanya mendapatkan dukungan modal, Rizki juga aktif mengikuti pelatihan kewirausahaan di Rumah BUMN Bandung. Dari pelatihan tersebut, ia belajar mengenai branding, pemasaran, pengelolaan keuangan, hingga penyusunan pitch deck bisnis.
“Saya benar-benar nol soal bisnis. Di Rumah BUMN saya belajar branding, marketing, manajemen keuangan, sampai pitch deck. Banyak ilmu yang akhirnya kepakai untuk mengembangkan usaha,” katanya.
Salah satu pelatihan yang paling berkesan baginya adalah kelas pitch deck bersama mentor Rumah BUMN. Dari sana, ia belajar memahami market size, target pasar, hingga strategi pengembangan usaha.
Kini kapasitas produksi Petekres terus meningkat dengan jumlah produksi mencapai ratusan kilogram per bulan. Tempat produksi pun sudah terpisah dari rumah dan memiliki tim kerja tersendiri mulai dari produksi, quality control, hingga keuangan.
Rizki berharap ke depan Petekres dapat terus berkembang dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
“Harapan saya usaha ini bisa terus tumbuh dan memberi manfaat untuk banyak orang,” ujarnya.


