Destinasi wisata yang berada pada kawasan konservasi merupakan sumberdaya yang potensial. Selain menjaga keberlanjutan berbagai spesies, dan daerah resapan air, pengembangan wisata kawasan konservasi akan menambah nilai daya tarik tersendiri, yakni sebagai sarana hiburan sekaligus edukasi.
Salah satu destinsi wisata konservasi di Jawa Timur yang tengah digemari adalah Ekowisata Boonpring. Obyek wisata berupa kampung bambu ini terletak di Jalan Kampung Anyar, Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Malang dengan waktu tempuh sekitar satu jam.
Memang pesona alam kawasan Malang Raya seolah tak ada habisnya. Tak hanya Kota Wisata Batu yang terkenal dengan berbagai museum unik atau jajaran pantai-pantai memukau pesisir selatan Malang, kini wisawatan dapat merasakan sensasi berada dalam Negeri Tirai Bambu dengan datang ke kawasan Ekowisata Boonpring.
“Destinasi ini dibagi menjadi tiga bagian, yakni wahana modern, wahana pendidikan, dan hutan bambu. Hawa sejuk langsung menyambut setiap pengunjung yang baru datang menginjakkan kaki.”
Ekowisata Boonpring sepenuhnya milik dan dikelola oleh warga Desa Sanankerto, karena area ini berupa Tanah Kas Desa. Pengelolaan kawasan ini diatur secara penuh oleh Pemerintah Desa Sanankerto yang dituangkan dalam Perdes dan AD/ART, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh warga Desa Sanankerto.
Awalnya, Desa Sanankerto dikenal sebagai desa miskin. Rata-rata warganya hanya mendapat penghasilan dari pekerjaan sebagai buruh tani. Karena itu, banyak di antara warga yang pergi ke kota untuk mengubah nasib.
Menurut Kepala Dusun Andeman, Djamaludin, dulu pada zaman Belanda nama tempat ini Andeman dan menjadi singgahan orang-orang kelas atas.Kini, kondisi perekonomian warga telah berubah. Sejak diresmikan menjadi desa wisata pada tahun 2017, warga dapat memperoleh rezeki dari kunjungan wisatawan, baik dari pemasukan tiket, pedagang makanan dan lainnya.
Baca juga : Menparekraf Optimistis Semester II/2021 Pariwisata Indonesia Bangkit
Ide membuka desa wisata berawal dari antusias masyarakat di sekitar kawasan Malang Raya yang kerap berkunjung untuk menikmati suasana hutan bambu yang asri. Nama Boonpring sendiri merupakan gabungan dari kata boon yang artinya anugerah dalam bahasa Inggris, dan pring atau bambu dalam bahasa Jawa. Kami rasa nama ini menarik dan mudah untuk diingat wisatawan.
Desa Sanankerto memang dikenal dengan Kampung Bambu, karena sejak tahun 1983 mulai dilakukan penanaman beragam jenis bambu. Saat ini, terdapat lebih dari 70 jenis bambu yang ditanam di atas lahan seluas 36,8 hektare tersebut. Antaralain ada bambu petung, apus, tutul, ampel, kuning, dan banyak lagi.
Setelah melihat banyaknya kunjungan wisatawan lokal dan asing warga mulai bisa membaca pasar. Mereka berinovasi dan berkreasi menghasilkan sesuatu yang bisa dijual, dengan merintis berbagai usaha seperti kerajinan cenderamata, makanan, dan lainnya. Pada tahun 2017, jumlah pedagang di desa wisata itu hanya 12 orang, sekarang sudah bertambah menjadi lebih dari 75 pedagang. Para pedagang ditempatkan di kawasan Pasar Rayat, yang antara lain menjual aneka oleh-oleh khas Malang
Setelah tiga tahun dibuka, warga makin banyak mendapat manfaat. Bisa mengurangi pengangguran, anak muda yang dulu setiap lulus sekolah memilih merantau ke kota, sekarang sudah memilih tetap di desa.
Saat ini, Boonpring terus berbenah diri untuk menjadi tempat wisata unggulan, yang tidak kalah dengan tempat wisata lain. Pengelola dalam hal ini Badan Usaha Desa (Bundes) mencoba memberikan sentuhan-sentuhan agar para pengunjung betah dan ingin datang kembali untuk menikmati suasana alamnya yang asri.
Oleh pihak pengelola, destinasi ini dibagi menjadi tiga bagian, yakni wahana modern, wahana pendidikan, dan hutan bambu. Hawa sejuk langsung menyambut setiap pengunjung yang baru datang menginjakkan kaki. Tersedia beberapa gazebo yang didirikan untuk pengunjung agar dapat lebih nyaman menikmati pemandangan yang serba hijau. Pengunjung juga akan dihibur oleh keberadaan puluhan burung merpati yang dibiarkan berkeliaran bebas, terbang dan hinggap mencari makan di sekitar kawasan itu.
Telaga Andeman
Salah satu bagian obyek wisata Boonpring yang langsung menyita perhatian pengunjung adalah keberadaan telaga Andeman. Waduk alami yang sekilas berwarna kehijauan ini bila didekati akan terlihat memiliki air yang jernih, dengan berbagai jenis ikan seperti tombro, koi, ikan mas, dan nila yang terlihat berenang ke sana kemari. Warna kehijauan permukaan airnya berasal dari bayang-bayang ratusan pohon bambu yang mengelilingi telaga tersebut warna hutan bambu dan pohon besar di sekitarnya.
Banyak kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan pengunjung di telaga Andeman. Selain menikmati pemandangan warna-warni bunga bougenville yang berguguran di permukaan telaga, pengunjung dapat menyewa
berbagai kendaraan air seperti sepeda air, perahu, atau getek (rakit bambu), untuk mengelilingi sebuah pulau kecil di tengah telaga. Sementara tak jauh dari waduk itu juga disediakan di kolam renang anak-anak yang cukup luas.Telaga Andeman bersumber dari enam mata air alami di kawasan tersebut, yakni Sumber Adem, Sumber Gatel, Sumber Maron, Sumber Towo, Sumber Krecek, dan Sumber Seger.
Nama-nama mata air tersebut sesuai dengan ciri dan sifat yang dimiliki masing-masing sumber. Contohnya Sumber Krecek yang selalu mengeluarkan bunyi gemericik air ‘krecek-krecek’, atau Sumber Adem yang memiliki air dengan suhu cukup sejuk, dan membuat pengunjung merasa adem atau tenang perasaannya.
Lain lagi dengan Sumber Gatel, yang dipercaya akan membuat orang yang mandi dengan airnya akan merasa gatal-gatal. Untuk menghilangkan gatal tersebut, seseorang harus berendam di Sumber Towo, yang sekaligus dipercaya dapat mengobati beragam penyakit.
Yang sering dianggap unik oleh pengunjung adalah Sumber Maron. Mata air ini justru akan mati saat datang musim penghujan dan sebaliknya mengeluarkan air pada musim kemarau.
Warga sekitar sangat bersyukur dengan keberadaan sumber air dan telaga yang dapat melengkapi sarana obyek wisata alam tersebut. Tanpa kegigihan para sesepuh desa terdahulu dalam melestarikan lingkungan, mungkin mereka tidak punya mata air./









































