www.bisnistoday.co.id
Jumat , 5 Juni 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa IHSG dan Rupiah Ditutup Menguat
Bursa

IHSG dan Rupiah Ditutup Menguat

IHSG dan rupiah menguat
IHSG dan rupiah pada perdagangan Rabu (07/08) ditutup menguat
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (06/06) ditutup menguat 27,22 poin ke posisi 6.974,89. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 10,40 poin ke posisi 892,10. Penguatan mengikuti bursa global.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya menyebut, IHSG dan bursa regional Asia cenderung menguat mengikuti penguatan bursa global.

Dari mancanegara, pelaku pasar mendapatkan keuntungan di tengah tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja di Amerika Serikat (AS), dengan pasar hampir sepenuhnya memperkirakan akan ada penurunan suku bunga The Fed pada tahun ini.

Berdasarkan CMEgroup Fedwatch tool, bahwa probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed pada September 2024 dengan probabilitas sebesar 56,8 persen.

Selain itu, pelaku pasar bersiap menghadapi perkiraan penurunan suku bunga Bank Sentral Eropa.

Selain itu, pelaku pasar menantikan hasil pertemuan dari China, dengan regulator negara tersebut sedang bersiap untuk meluncurkan langkah kebijakan terkait pasar modal pada forum penting di Shanghai pada Sabtu (8/6).

Pelaku pasar berharap regulator tersebut mengungkapkan langkah-langkah kebijakan terkait pasar modal, sehingga meningkatkan harapan untuk peningkatan kebijakan lebih lanjut.

Dari dalam negeri, defisit Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 melebar sebesar 2,45 persen hingga 2,82 persen dari produk domestik bruto (PDB) tahun 2024 defisit dipatok hanya 2,29 persen dari PDB, dan pada tahun 2023 sebesar 1,82 persen dari PDB.

Dibuka menguat, IHSG bertahan di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor meningkat, yaitu dipimpin sektor barang baku yang naik sebesar 1,23 persen, diikuti sektor teknologi dan sektor barang konsumen nonprimer yang masing-masing naik sebesar 0,96 persen dan 0,83 persen.

Sedangkan dua sektor terkoreksi, yaitu sektor infrastruktur paling dalam minus 1,55 persen, diikuti sektor industri yang minus sebesar 1,32 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar, yaitu AKSI, OKAS, HYGN, IBOS dan VKTR. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni PPRI, BREN, SURI, KAEF dan FREN.

Baca juga: Pemberian Insentif Fiskal Kepada Sektor Pariwisata Disambut Positif, IHSG Menguat

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 816.303 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 15,17 miliar lembar saham senilai Rp8,21 triliun. Sebanyak 290 saham naik 265 saham menurun, dan 230 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini, antara lain indeks Nikkei menguat 213,30 poin atau 0,55 persen ke 38,703,50, indeks Hang Seng menguat 51,83 poin atau 0,28 persen ke 18.476,80, indeks Shanghai melemah 16,60 poin atau 0,54 persen ke 3.048,79, dan indeks Strait Times menguat 0,80 poin atau 0,02 persen ke 3.330,81.

Rupiah Menguat

Sementara itu, kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 24 poin menjadi Rp16.263 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.287 per dolar AS.

“Kalau melihat pergerakan dolar AS yang saat ini kembali tertekan melemah karena data tenaga kerja AS Non Farm Payrolls (NFP) versi ADP bulan Mei menunjukkan penambahan di bawah ekspektasi pasar, rupiah bisa bergerak menguat hari ini,” kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra seperti dikutif Antara.

Data tenaga kerja NFP AS versi ADP bulan Mei 2024 tercatat sebesar 152 ribu, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 173 ribu dan posisi sebelumnya pada April 2024 sebesar 188 ribu.

Ariston menuturkan secara keseluruhan, rupiah masih mengalami tekanan terhadap dolar AS, karena keraguan pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan AS belakangan ini setelah komentar petinggi bank sentral AS atau The Fed dan notulen rapat moneter AS yang terakhir masih membuka peluang kenaikan suku bunga acuan AS.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi karena konflik yang masih terjadi di Timur Tengah dan Ukraina juga membantu penguatan dolar AS sebagai salah satu aset aman.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis meningkat ke level Rp16.279 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.282 per dolar AS./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Pasar Saham
BursaHEADLINE NEWS

Dibanding Pasar Emerging Market, Pasar Saham Indonesia Bergerak Anomali

JAKARTA, Bisnistoday - PT Samuel Sekuritas Indonesia menilai bahwa pasar saham Indonesia...

GEDUNG BEI
BursaBURSA & KORPORASI

Investor Masih Selektif, Tren “Bearish” Masih Menyelimuti IHSG

JAKARTA, Bisnistoday – Tekanan pasar saham diperkirakan masih berlanjut pasca rebalancing MSCI...

MIRAE ASSET
Bursa

Pasca Guncangan MSCI, Rebound IHSG Dinilai Masih Rapuh

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik...

Bappebti
BursaHEADLINE NEWS

Pantau Pelaku Usaha, Bappebti Umumkan Rating Pialang Berjangka Triwulan I-2026

JAKARTA, Bisnistoday - Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan kembali...