www.bisnistoday.co.id
Kamis , 2 Juli 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa IHSG dan Rupiah Menguat
Bursa

IHSG dan Rupiah Menguat

IHSG dan rupiah menguat
IHSG MENGUAT: Aksi beli investor asing dorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (23/2)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (27/06) ditutup menguat 62,31 poin ke posisi 6.967,95. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 11,10 poin ke posisi 874,39. Sedangkan bursa regional melemah.

“Bursa regional Asia bergerak melemah yang tampaknya dipengaruhi tumbuh melambatnya data profit industrial China, tren melemahnya nilai mata uang yen Jepang dan hengkangnya bank-bank Eropa dari Rusia,” sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (27/06).

Biro Statistik China menyampaikan bahwa profits earned industrial firms pada Mei 2024 tumbuh 3,4 persen atau lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4,3 persen sebelumnya, tidak terlepas di tengah rapuhnya pemulihan ekonomi akibat lemahnya permintaan domestik, risiko deflasi, dan penurunan properti.

Selain itu, pasar juga menimbang kondisi ekonomi Jepang sehubungan semakin melemahnya nilai kurs yen terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sehingga, pasar menantikan prospek kebijakan moneter Bank of Japan sehubungan dengan depresiasi yen yang tajam.

Sentimen lainnya yaitu pasar khawatir hubungan Rusia dan Eropa semakin memanas sehingga akan merusak tatanan transaksi keuangan layanan perbankan hal ini disebabkan hengkangnya bank-bank Eropa dari Rusia.

Sebelumnya, juru bicara Kremlin Dmitry Pesko mengatakan, bank-bank Eropa yang hengkang dari Rusia akan merugikan perusahaan-perusahaan Barat dan Rusia dan mengungkapkan banyaknya bisnis Barat yang masih beroperasi dan menggunakan layanan perbankan di Rusia. Kondisi ini tentunya akan merugikan blok barat dan Rusia dalam menjalankan fungsi dan layanan perbankan.

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor menguat yaitu dipimpin sektor keuangan yang naik 1,14 persen, diikuti sektor barang konsumen non primer dan sektor teknologi yang naik masing- masing sebesar 1,06 persen dan 0,92 persen.

Sedangkan, dua sektor turun yaitu sektor barang industri turun paling dalam minus 0,06 persen, diikuti sektor transportasi & logistik yang turun sebesar 0,06 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu ARTI, TAYS, FWCT, WIIM dan KKGI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni SBAT, TOPS, BTEK, INOV, dan JARR.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 677.575 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 24,33 miliar lembar saham senilai Rp15,11 triliun. Sebanyak 306 saham naik, 239 saham menurun, dan 239 tidak bergerak nilainya.

Baca juga: Pasar Sambut Positif Penetapan Prabowo-Gibran sebagai Pemenang Pemilu, IHSG Menguat

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 325,60 poin atau 0,82 persen ke 39.341,50 indeks Hang Seng melemah 373,45 poin atau 2,06 persen ke 17.716,47, indeks Shanghai melemah 26,67 poin atau 0,90 persen ke 2.945,85, dan indeks Strait Times menguat 11,65 poin atau 0,35 persen ke 3.343,35.”

Rupiah Menguat

Di pasar uang, kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat di tengah sikap bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang hawkish. Pada akhir perdagangan Kamis (27/06) rupiah naik 7 poin menjadi Rp16.406 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.413 per dolar AS.

“Investor memerlukan data lebih banyak, mengingat serangkaian data ekonomi AS belakangan ini yang lebih lemah namun pejabat-pejabat The Fed masih terus menyuarakan pernyataan yang hawkish,” kata analis mata uang Lukman Leong seperti dikutif Antara.

Selain itu, lanjut Lukman, investor pada umumnya cenderung wait and see menantikan data produk domestik bruto (PDB) AS malam ini yang merupakan revisi ketiga, dan data inflasi PCE AS besok.

Pekan ini data manufaktur Dallas dan Richmond, keduanya lebih lemah dari perkiraan, begitu pula penjualan rumah baru yang dirilis semalam.

Data yang lebih lemah pekan lalu adalah penjualan ritel, izin pembangunan rumah dan klaim pengangguran. Pada rilis sebelumnya, data inflasi AS dan inflasi PCE AS juga lebih lemah.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis meningkat ke level Rp16.421 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.435 per dolar AS.”/

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Rully Arya Wisnubroto
Bursa

Mirae Asset Sekuritas: Investor Tetap Perlu Cermati Tantangan Domestik

JAKARTA, Bisnistoday - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan global...

Bursa

Intercontinental Exchange dan OKX Bentuk Joint Venture, Jembatani Pasar Aset Tradisional dan Digital

JAKARTA, Bisnistoday - Intercontinental Exchange (NYSE: ICE) dan OKX mengumumkan pembentukan joint...

Trading Saham
BursaHEADLINE NEWS

Investor Asing Mulai Berani Masuk Selektif ke Saham Perbankan

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (17/6) kemarin...

Ilustrasi pergerakan saham (dok:Unsplash/jakub Żerdzicki)
Bursa

Dampak Perdamaian AS Iran: Harga Minyak Turun, Saham Naik

JAKARTA, Bisnistoday –Kesepakatan AS-Iran untuk mengakhiri perang berdampak pada melonjaknya harga saham...