JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menekankan pentingnya peran teknologi yang tepat sasaran dalam memastikan berjalannya layanan pendidikan bagi anak-anak di masa pandemi Covid-19. Untuk pertama kalinya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengembangkan platform pendidikan tingkat nasional yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan murid di seluruh Indonesia untuk saling berinteraksi, belajar, dan berbagi.
“Syaratnya adalah teknologi harus dimanfaatkan secara tepat sasaran dan cakap. Tepat sasaran berarti dapat secara langsung mengatasi tantangan yang ada dalam sistem pendidikan kita. Salah satunya adalah kualitas pembelajaran dan akses terhadap pendidikan berkualitas,” terang Mendikbudristek dalam sambutan virtualnya dalam kegiatan peluncuran “Indonesia Makin Cakap Digital” di Jakarta, Kamis (20/5).
Meski begitu, menurut Nadiem, tantangan lain yang masih dihadapi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan berasal dari sisi administrasi. Di mana guru dan kepala sekolah tidak bisa memberikan pelayanan pendidikan yang memprioritaskan kebutuhan pelajar karena masih disibukkan dengan pemenuhan administrasi kinerjanya.
Baca juga : Kemenperin Gandeng Sektor Industri Gelar Pendidikan Vokasi
“Dalam hal ini, teknologi perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja-kerja administratif, sehingga guru dan kepala sekolah bisa memfokuskan perhatian dan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan pelajar, terutama dengan personalized learning untuk memastikan setiap anak berkembang sesuai minat dan kemampuannya,” terang Mendikbudristek.
Sementara itu, pada sesi jumpa pers, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G. Plate mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur transformasi digital saja tidak cukup. Melainkan juga harus didukung oleh kesediaan talenta digital yang memadai.
Oleh karena itu, Kemenkominfo menggagas berbagai pelatihan digital untuk menciptakan generasi bertalenta digital di Indonesia. Adapun pelatihan digital ini akan dilakukan dalam tiga tingkatan. Tingkatan yang paling dasar disebut Gerakan Nasional Literasi Digital dengan melibatkan sebanyak mungkin masyarakat. Program ini bekerja sama dengan Siberkreasi di mana tahun ini akan melibatkan 12,4 juta lebih masyarakat melalui 20.000 kegiatan.
“Karena kegiatan ini melibatkan rakyat dengan jumlah yang besar dan menjangkau seluruh tanah air, maka dibutuhkan kerja sama secara hirarki, baik dari pemerintah pusat kementerian dan lembaga maupun dengan pemerintah daerah. Kita harapkan ini dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan setiap tahun,” ujar Johnny.
Di tingkat menengah, Kemenkominfo menyiapkan 100.000 pelatihan digital setiap tahunnya bagi anak-anak milenial yang berijazah SMA dan sarjana. Hal ini untuk mengisi kebutuhan kecapakan digital tingkat menengah. “Karena Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta digital talent di tingkat menengah,” lanjut Johnny.
Revolusi Industri
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Iwan Syahril menekankan kembali bahwa kemampuan literasi digital sangat penting dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0. Selama pandemi Covid-19, tanpa disadari masyarakat Indonesia semakin terbuka dengan dunia digital dalam melakuakn aktivitas sehari-hari. Dalam filosofi Merdeka Belajar, transformasi pendidikan merupakan sebuah gerakan bersama atau gerakan nasional.
“Sesuai dengan yang diamanatkan oleh Pak Presiden, kita harus mengemban asas gotong royong, tidak hanya kolaborasi, tetapi ada rasa empati, solidaritas, dan gerakan bersama. Ini merupakan sebuah keunikan dari bangsa Indonesia, dan dengan inilah kita ingin melakukan transformasi termasuk dalam bidang pendidikan,” ungkap Iwan./




