www.bisnistoday.co.id
Wednesday , 24 June 2026
Home NASIONAL & POLITIK Nasional Kemiskinan Picu Peningkatan Perceraian
Nasional

Kemiskinan Picu Peningkatan Perceraian

Permukiman Kumuh
MASYARAKAT MISKIN : Potret permukiman daerah kumuh, belum lama ini.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pasca pandemi, Indonesia menghadapi sebuah paradoks: perekonomian bangkit, namun angka perceraian meroket. Walaupun ekonomi memperlihatkan pemulihan, bukan berarti semua keluarga merasakan keberuntungannya.

“Fenomena ini mengonfirmasi sebuah kontradiksi antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan hubungan rumah tangga,” ungkap Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Ekonom & CEO Narasi Institute di Jakarta, Jumat (25/8).

Merujuk dari Statistik 2022 melukiskan kondisi yang mengerikan sebanyak 516.344 perceraian, naik 15% dari 447.743 kasus pada 2021. Satu dari empat perceraian tersebut disebabkan karena isu-isu keuangan. “Angka ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya memberikan manfaat untuk semua.”

Achmad mengutarakan, tekanan ekonomi yang terus berlarut-larut memicu konflik dalam keluarga. Kesenjangan ekonomi yang jelas antara berbagai kelompok masyarakat memperparah situasi ini. “Meski ekonomi nasional menunjukkan potensi pertumbuhan, banyak keluarga yang masih merasakan ketidakstabilan ekonomi,”cetusnya.

Menurutnya, tantangan ekonomi yang dialami rumah tangga hanya sebagian dari masalahnya. Perubahan sosial, termasuk penelantaran, kekerasan dalam rumah tangga, dan poligami, menandai keretakan dalam norma-norma sosial.

“Akses mudah ke media sosial dan informasi seringkali mempengaruhi persepsi masyarakat tentang pernikahan dan komitmen.”

Tokoh masyarakat dan media sosial, dengan pengaruhnya yang besar, seringkali mempengaruhi norma sosial. Bila tokoh publik memilih bercerai, hal ini bisa memberikan pesan bahwa perceraian adalah pilihan yang normal dan dapat diterima.

Sementara itu, kehidupan pribadi yang sering diumbar di media sosial memberikan tekanan tambahan terhadap institusi pernikahan.

Inti dari fenomena ini adalah adanya ketidakseimbangan besar dalam struktur ekonomi dan sosial nasional. Meski ada pemulihan ekonomi, perubahan sosial yang cepat akibat teknologi dan informasi menambah kompleksitas tantangan dalam mempertahankan hubungan dan nilai-nilai tradisional Indonesia.

“Solusinya bukan hanya terletak pada individu, tapi juga pada kebutuhan untuk pembaruan di sektor ekonomi dan transformasi sosial,” tegasnya.//

Archives

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

PLN ICON
Nasional

PLN Icon Plus SBU Sumbagsel Edukasi Lingkungan bagi Anak-anak Panti Asuhan Nurul Huda

PALEMBANG, Bisnistoday - PLN Icon Plus SBU Sumbagsel menyelenggarakan kegiatan edukasi lingkungan...

Sertipikat Elektronik
Nasional

Warga Kab.Bogor Merasa Aman Dengan Sertipikat Elektronik

BOGOR, Bisnistoday - Masyarakat yang sudah beralih dan memiliki Sertipikat Elektronik mulai...

Menteri PU
Nasional

Ancaman El Nino, Menteri PU Siapkan Pasokan Air untuk Pangan Nasional

JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi...

Batik Air
Nasional

Batik Air Resmi Layani Rute Jakarta-Muara Bungo Jambi

BUNGO, Bisnistoday - Batik Air secara remi melakukan penerbangan rute Jakarta (CGK)...