JAKARTA, Bisnistoday – Pengamat ekonomi internasional memperkirakan konflik Rusia -Ukraina akan memperberat pemulihan ekonomi global. Pemerhati internasional dari INDEF memperkirakan inflasi global akan meningkat, harga komoditas membubung tinggi serta prediksi pertumbuhan global dibawah target.
“Pemulihan ekonomi dunia post covid, dengan ancaman Inflasi yang telah terlihat di beberapa negara maju (AS, juga Indonesia), dan kenaikan harga komoditas dunia. Jika perang berlanjut, pemulihan ekonomi global juga terancam akan lebih rendah dari prediksi awal,” Eisha M Rachbini, Peneliti INDEF dalam diskusi Ekonomi bertajuk “Dampak Perang Rusia-Ukraina : Ekonomi dan Politik Global” pada Sabtu (26/2).
Menurut Eisha, pertumbuhan ekonomi global diprediksi 4.4% pada tahun 2022 dan selanjutnya 3.8% pada 2023. Kontribusi pertumbuhan negara maju sebesar 3.9% (2022) dan 2.6% (2023) sedangkan negara berkembang bertumbuh 4.8% tahun ini dan sebesar 4.7% tahun lalu 2021. ASEAN sendiri diperkirakan bertumbuhan -5 5.6% tahun ini dan 6% tahun 2023. Untuk Indonesia prakiraan awal tumbuh 5.6% tahun ini 2022 dan geliat 6% pada 2023 mendatang.
Seementara, harga komoditas dunia pada 2022 telah mengalami kenaikan, sebab, Russia adalah salah satu produsen dunia minyak bumi dan industri pertambangan seperti nikel, alumunium dan palladium. Rusia dan Ukraina adalah eksporter utama gandum. Rusia juga produsen kalium karbonat (potash) bahan baku pupuk.
“Risiko perang akan dapat berdampak pada kenaikan harga minyak bumi yang diperkirakan meningkat mencapai lebih dari $100/barrel (the price of Brent oil) (24/2). Sementara harga bahan bakar minyak meningkat di AS dan Eropa sebesar 30%,” ujarnya.
Supplay Chain Terdampak
Seandainya konflik berkepanjangan, Eisha mengatakan, akan berdampak terhadap global supply chain. (supply chain saat ini telah mengalami hambatan logistik akibat covid-19 yang memicu kenaikan harga komoditas). Jika supply komoditas dan logistik pengiriman terhambat, serta infrastruktur utama, seperti Pelabuhan di area Black Sea jika rusak akibat perang, maka negara maju dapat memberikan sanksi banned atas komoditas Rusia. Hal itu pasti akan memperburuk harga komoditas (karena global supply rendah, by excluding Russia natural resources commodity)
Kedua, dampak terhadap Financial Market. Terkait sanksi yang diberikan AS terhadap pemain pasar keuangan dan tech companies Rusia. “This is a serious economic impact to Russia, but not fatal, as Russia might be possible to get help from China (finance and trade relationship). Harga komoditas meningkat, inflasi, situasi ekonomi global akan merubah skenario the Fed to increase interest rate,” terang Eisha.
Eisha berpendapat, dampak terhadap Indonesia, akan terpengaruh perekonomian global (growth), dan memperlambat pemulihan ekonomi, terutama Emerging market seperti Indonesia. Berbagai permasalahan ekonomi bakal timbul satu-per satu.
“Financial Market domestik pada nilai tukar, IHSG Inflasi tinggi akibat commodity shock, akan mendorong The Fed menaikkan suku bunga (Inflasi AS 7.5% Jan’22, tertinggi dalam 40 tahun).
Safe Havens Currencies (US, JPY). Berdampak ke depresiasi nilai tukar (Rp), potensi capital outflow, balance of payment (BoP). Di pasar keuangan, juga dapat terdampak pada penyaluran kredit, dan kinerja korporasi.”/




