CILEGON, Bisnistoday – Industri kimia nasional kembali mencatat tonggak penting dengan diresmikannya pabrik baru PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten. Pabrik senilai hampir Rp60 triliun ini menjadi simbol kebangkitan sektor petrokimia hulu Indonesia sekaligus menandai salah satu investasi asing terbesar di sektor manufaktur dalam beberapa dekade terakhir.
Peresmian fasilitas produksi bertaraf global ini dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, didampingi oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Chairman LOTTE Group Shin Dong-bin.
“Pembangunan pabrik ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi utama investasi global di sektor manufaktur, khususnya industri kimia dasar,” ujar Menperin Agus dalam keterangannya, Kamis (6/11).
Menperin menegaskan, pembangunan kompleks Lotte Chemical Indonesia New Ethylene (LINE) merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan kimia dasar. Saat ini, kebutuhan bahan kimia nasional mencapai 53 juta ton per tahun, sementara impor petrokimia masih mendekati USD 11 miliar per tahundan terus meningkat sekitar 10% setiap tahunnya.
Dengan kapasitas produksi naphtha cracker sebesar 3 juta ton per tahun, fasilitas baru ini akan menghasilkan berbagai produk penting seperti etilena, propilena, polipropilena, butadiena, dan BTX (benzena, toluena, xilena). Semua produk tersebut merupakan bahan baku vital bagi industri farmasi, otomotif, elektronik, dan makanan-minuman.
Investasi Korea Selatan Perkuat Mitra Strategis
Dalam sambutannya, Chairman LOTTE Group Shin Dong-bin menyampaikan bahwa proyek ini merupakan simbol kemitraan kuat antara Korea Selatan dan Indonesia.
“Investasi ini menjadi tonggak kemitraan ekonomi kedua negara serta fondasi penting bagi penguatan daya saing industri petrokimia nasional,” ujarnya.
Kompleks industri LCI yang berdiri di lahan seluas 110 hektare ini dirancang dengan teknologi mutakhir dari Korea Selatan, menggabungkan efisiensi energi tinggi dan sistem rendah karbon. Bahkan, fasilitas tersebut mampu menggunakan hingga 50% LPG selain naphtha sebagai bahan baku utama untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Menurut data Kementerian Perindustrian, sektor manufaktur masih menjadi motor utama perekonomian Indonesia, menyumbang Rp366,6 triliun investasi pada semester I 2025 atau 38,9% dari total investasi nasional. Dari sisi ekspor, sektor industri pengolahan nonmigas juga menyumbang hampir 80% dari total ekspor nasional.
Dengan mulai beroperasinya pabrik baru LCI secara komersial pada Oktober 2025, nilai ekonomi yang tercipta diperkirakan mencapai USD 2 miliar per tahun. Selain memperkuat rantai pasok industri dalam negeri, keberadaan pabrik ini diharapkan mendorong pertumbuhan berbagai industri turunan baru berbasis petrokimia.
Menuju Industri Berdaya Saing dan Berkelanjutan
Agus Gumiwang menambahkan, pengembangan industri kimia sejalan dengan Asta Cita pemerintah dalam memperkuat struktur industri nasional, meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, dan memperluas potensi ekspor.
“Investasi Lotte Chemical Indonesia ini bukan hanya tentang membangun pabrik, tetapi juga membangun ekosistem industri yang kuat, berdaya saing global, dan berkelanjutan,” tegas Menperin.
Dengan kehadiran pabrik raksasa ini, Indonesia kini selangkah lebih maju menuju kemandirian industri kimia nasionaldan memperkokoh posisinya sebagai pusat manufaktur strategis di kawasan Asia Tenggara./




