JAKARTA, Bisnistoday – Terpuruknya perekonomian nasional, mendorong elemen masyarakat yang tergabung dalam Asosiasi PKL Indonesia (APKLI Perjuangan) untuk menginisisai Gerakan Nasional Saweran Rakyat Kecil Indonesia (Saraki). Hal tersebut dinilai APKLI Perjuangan sangat penting karena mengigat jutaan perut rakyat kecil sekarang merasakan kelaparan.
“Perut rakyat kecil, jutaan penduduk Indonesia tidak boleh keroncongan, kelaparan, karena dihisap haknya oleh para angkara murka di negeri ini. Gerakan Saraki sangat penting untuk membangun kepedulian sosial di lingkungan kita masing-masing. Mereka tak mau meminta, apalagi mengemis, tetapi menggugah kepedulian kita bersama,” urai Ketua Asoasiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Perjuangan, Ali Mahsun Atmo, di Jakarta, Senin (27/4).
Gerakan saweran bersama ini, lanjut Ali Mahsun, merupakan gerakan yang dilandasi keiklasan, yang melibatkan segala bentuk elemen bangsa di seluruh pelosok negeri maupun yang berada di luar negeri.”Kita mampu, asal mau,” tegasnya.
Menurut Ali Mahsun, bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kuat. Sejak nenek moyang dahulu, terbiasa cucuran keringat tertumpah untuk membela perjuangan rakyat. “Bangsa di negeri ini sudah diajarkan konsep dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat bersama, jadi sudah terpatri dalam hidupnya.”
Begitupun, tambah Ali Mahsun, bagi pelaku UMKM diharapkan terus mempertahankan eksistensi untuk kemajuan dan peningkatan kesejahteraan. UMKM harus hidup yang sejahtera dan berkeadilan. Apalagi negeri ini, kaya sumber daya alam, kaya keunggulan, namun hidup rakyatnya belum tercukupi.
“Kita bangsa Ayam Jago, semangat di medan perang, dan pantang pulang sebelum menang. Lebih baik menanggung wirang (malu), daripada hidup membebek ke negara lain.”
Korban Dominasi Bisnis Korporasi
Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) berpendapat bahwa, penyebab terjadinya kemiskinan yang dapat dilihat secara kasat dalam keseharian dan terang benderang adalah kegiatan bisnis oleh korporasi. “Baik oleh korporasi kapitalis lokal, nasional maupun asing.”
Menurutnya, para pemilik korporasi kapitalis yang menekan harga petani, nelayan, perajin, peternak dan petambak dan pedagang kecil. Mereka menghisap daya beli rakyat yang sudah sangat kering serta menggencet tarif gaji buruh./



