JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menyatakan, pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing sebagai jembatan pembuka pengetahuan budaya serta ekonomi dunia.
“Perlu semangat atau rasa keseruan yang bisa tertular kepada para pemelajar. Inilah dasar pendidikan bahasa Indonesia yang bisa membuka gerbang pada kebinekaan dan budaya Indonesia. Hal ini membuka gerbang budaya Indonesia dan langkah terbaik menjalin hubungan-hubungan budaya dan ekonomi di kancah dunia,” tutur Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim, saat berbincang kasual dengan para pengajar Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) secara virtual, Rabu (30/6).
Diskusi santai yang diberi tajuk “Mas Menteri Ngobrol dengan Pengajar BIPA” tersebut dihadiri sekitar 500 orang peserta yang meliputi pengajar dan pegiat BIPA, pemelajar BIPA, pejabat perwakilan Republik Indonesia di luar negeri, serta masyarakat umum yang mendaftar secara daring.
“Saya mengapreasiasi atas dedikasi para pengajar BIPA, terus berkarya dalam memperkenalkan bahasa Indonesia ke kancah dunia,” demikian disampaikan Menteri pada acara dialog tersebut yang juga dihadiri oleh pejabat Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di luar negeri dan para peserta program BIPA.
Baca juga : Warga Jepang Antusias Ikuti Lomba Pidato Bahasa Indonesia
Menteri Nadiem mengatakan, peran pengajar BIPA lebih dari sekadar mengajarkan bahasa Indonesia. “Lebih dari itu, pengajar BIPA adalah duta bangsa kita. Cara terbaik meresapi budaya kita, membuka pintu agar masyarakat dunia mencintai Indonesia adalah lewat Bahasa Indonesia,” ucapnya.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, E. Aminudin Azis, menilai, pengajar BIPA adalah duta bahasa negara. Keberadaan, peran, dan pengaruh mereka, apa pun kewarganegaraannya patut untuk diapresiasi dan terus dimotivasi. Dijelaskannya, pelaksanaan dialog ini bertujuan memperluas dan memperkuat jejaring kemitraan program BIPA melalui kontribusi pengajar BIPA, baik di dalam maupun luar negeri.
“Keberadaan pengajar BIPA, baik yang secara formal terafiliasi pada lembaga penyelenggara program BIPA maupun secara mandiri melaksanakan aktivitas pengajaran BIPA, merupakan akses dan aset diplomasi bahasa yang berharga dalam menyebarluaskan nilai-nilai keindonesiaan, serta mengenalkan jati diri bangsa Indonesia kepada masyarakat internasional,” kata Aminuddin.
Acara diskusi virtual berdurasi sekitar 90 menit itu juga diisi oleh sejumlah penampilan, seperti pembacaan puisi oleh Elisebeth Doty dari Amerika Serikat dan mendongeng singkat oleh Mariam Ashraf dari Mesir yang merupakan pemelajar BIPA di negaranya masing-masing.
Baca juga : Mahasiswa Indonesia di Belanda Gelar Dialog Relevansi Pancasila
Selain itu, para pengajar BIPA berkewarganegaraan asing yang berada di luar negeri juga turut mendampingi jalannya diskusi. Boburjon Samigov dari Uzbekistan yang ditunjuk sebagai pewara, Antonia Soriente dari Italia dan Karen Bailey dari Australia yang ditunjuk sebagai pemandu cukup lancar berbahasa Indonesia selama diskusi ini berlangsung.
Diminati Warga Asing
Beberapa pengajar BIPA pun turut memberikan kesan-pesan mereka pada acara dialog bersama Mendikbudristek. Sejumlah wakil pengajar BIPA dari enam Kawasan, yakni Asia, Asia Tenggara, Australia, Eropa, Amerika, dan Afrika menyampaikan kesan dan pesannya selama menjadi pengajar BIPA di negaranya masing-masing.
Pengajar BIPA asal Jepang, Kyoko Funada, mengakui dirinya memanfaatkan berbagai cara untuk membuat pembelajaran menarik. “Kami belajar membuat nasi goreng secara daring dari rumah masing-masing. Sambil masak, kita belajar bahasa Indonesia dengan mengenal bumbu,” tutur Kyoko. Ia pun berterima kasih pada Atdikbud RI di Tokyo yang terus mendukung para pengajar BIPA dengan dukungan kegiatan dan beragam materi ajar.
Baca juga : Gema Indonesia di Negara Swiss
Pengajar BIPA dari Indonesia di Mesir, Nidhol, mengatakan dirinya mendapatkan pemelajar BIPA yang jumlahnya meningkat di masa pandemi. “Alasan belajarnya macam-macam, mulai dari keinginan jadi penerjemah, ingin berbisnis di Indonesia, ingin melanjutkan studi, bahkan ada pemelajar yang mengambil kelas BIPA karena akan menikah dengan orang Indonesia,” jelas Nidhol tersenyum.
Senada dengan itu, Pengajar BIPA di Washington DC, Amerika Serikat (AS), Nona K. Noris mengatakan bahwa kelas BIPA di AS juga mengalami lonjakan peserta setelah kelas digelar daring. “Tadinya hanya tiga kelas, sekarang jadi delapan. Dulu hanya warga Washington DC yang bisa mengikuti karena kelasnya tatap muka. Sekarang, warga AS dari mana saja bisa mengikuti kelas BIPA karena diadakan secara daring,” tutur Nona.
Ia mengatakan, banyak warga AS belajar bahasa Indonesia untuk studi, penelitian, pekerjaan, wisata, dan urusan keluarga. “Ada juga yang sudah pernah mengenal bahasa Indonesia, tapi ingin mempertahankan kelancaran, bahkan ada yang ingin belajar bahasa baru,” ucap Nona.
Sementara itu, pengajar BIPA asal Italia, Antonia Soriente, mengungkapkan dirinya berupaya mempertahankan minat belajar para mahasiswa, terutama di masa pandemi Covid-19. “Kekhawatiran saya bukan pada jumlah mahasiswanya, tapi bagaimana menjaga minat mahasiswa, karena tugas kami sebagai pengajar tidak hanya memberi informasi, tapi mendidik mahasiswa agar punya pengetahuan mendalam tentang Indonesia,” ujar Antonia./




