www.bisnistoday.co.id
Kamis , 25 Juni 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Menkeu Purbaya Menuai Kritik : Gelontoran Rp200 Triliun Dinilai Mirip BLBI
Ekonomi & Bisnis

Menkeu Purbaya Menuai Kritik : Gelontoran Rp200 Triliun Dinilai Mirip BLBI

Direktur CBA
DIREKTUR Center for Budget Analysis (CBA),Uchok Sky Khadafi.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Kebijakan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menyalurkan dana sebesar Rp200 triliun ke sektor perbankan menuai kritik tajam dari Center for Budget Analysis (CBA). Langkah ini dinilai berisiko tinggi dan berpotensi mengulang kesalahan sejarah BLBI.

Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, menegaskan bahwa kebijakan Menkeu Purbaya tidak sesuai dengan kondisi masyarakat. “Sebagai Menkeu, Purbaya paham ekonomi, tapi tidak paham budaya, tidak belajar sejarah, dan tidak bisa membaca karakter masyarakat serta para bankir yang mencari keuntungan pribadi,” ujarnya, Minggu (14/9).

Menurut CBA, masalah utama bukanlah likuiditas perbankan, melainkan ketiadaan proyek produktif. “Bank itu punya duit, tapi tidak punya proyek untuk dibiayai. Pemerintah justru melakukan efisiensi anggaran, banyak proyek dipangkas karena pajak menurun,” jelas Uchok.

Data Perbankan Diduga Dimanipulasi

CBA juga mengkritisi kepercayaan Purbaya terhadap data perbankan yang dinilai tidak transparan.

“Banyak data perbankan yang dipublikasi tidak jujur, banyak dimanipulasi,” tegas Uchok.

Hal ini dianggap berbahaya karena dana Rp200 triliun berisiko mengalir ke pihak-pihak berkuasa yang enggan mengembalikan pinjaman. “Dana itu bisa jadi kredit macet karena peminjamnya orang berkuasa yang sesuka hati,” tambahnya.

Utang Negara Tembus Rp9.105 Triliun

Kebijakan Purbaya makin dipertanyakan karena dilakukan saat beban utang negara mencapai Rp9.105 triliun. CBA menilai, langkah ini tidak hanya mengulang sejarah BLBI, tetapi juga dapat menjadi bom waktu bagi stabilitas ekonomi.

Selain itu, minat investor menurun akibat instabilitas politik dan keamanan. Dari demo anarkis, penjarahan rumah elit politik, hingga campur tangan militer, semua menjadi sinyal negatif bagi investasi di Indonesia.

Alarm Bagi Pemerintah

CBA menegaskan bahwa optimisme Menkeu Purbaya perlu diimbangi dengan pemahaman sosial-ekonomi di lapangan. Tanpa itu, stimulus kilat Rp200 triliun justru berpotensi menambah beban, bukan menyelamatkan perekonomian.

“Ini mengulang kebijakan BLBI, padahal sejarah sudah mengajarkan betapa mahalnya biaya bailout perbankan,” sindir Uchok.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kementerian UMKM Sinergikan Tiga Program untuk Capai Target 10 Juta Wirausaha Baru

JAKARTA, Bisnistoday – Lembaga inkubator berperan strategis untuk mencetak wirausaha baru yang...

GT Banyudono
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Kementerian PU Pastikan Sepuluh Ruas Tol Baru Beroperasi Fungsional Jelang Nataru

JAKARTA, Bisnistoday– Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menargetkan sedikitnya 10 ruas jalan tol...

Komponen Otomotif
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menperin Menepis Tudingan Adanya Relokasi Sejumlah Perusahaan Komponen Otomotif

JAKARTA, Bisnistoday -Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita memerintahkan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin,...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Aturan Baru: Platform E-commerce Wajib Cantumkan Seluruh Biaya Dalam Perjanjian Kemitraan

  JAKARTA, Bisnistoday - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) resmi...