Pertumbuhan industri mebel atau furniture Indonesia relatif stagnan dalam beberapa tahun terakhir, karena terganjal minimnya penggunaan teknologi serta dukungan regulasi. Lalu, bagaimana upaya para pengusaha mebel untuk tetap bersaing di pasarnya sendiri di tengah hambatan tersebut. Bisnistoday mewancarai pelaku usaha mebel sekaligus Sekjen Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur di Jakarta, baru-baru ini.
Seperti apa harapan Anda tentang pengembangan industri mebel di tanah air?
Sepertinya pengelolaan mebel di Indonesia bisa belajar dari bagaimana Negara Thailand mengembangkan industri mebel di tingkat dunia. Ironisnya, mereka tidak berorientasi kepada target ekspor. Tetapi kuncinya bagaimana menghadirkan para turis mancanegara, hingga 38 juta per tahun, sehingga ini mendorong kebutuhan hospitality, café, resort, dan ataupun kolaborasinya, mampu mendongkrak pasar mebel menjadi booming.
Menurut Anda seberapa besar pasar mebel di Indonesia?
Sepertinya di Indonesia memiliki segudang potensi untuk pengembangan mebel, seperti di Bali, DKI Jakarta dan sekitarnya, banyak pembangunan rumah campact, sehingga butuh mebel yang praktis atau compact juga. Pasar mebel di Indonesia sekitar 10 triliun per tahun, dan trennya juga terus meniingkat. Karena begini, setelah kebutuhan tempat tinggal terpenuhi, tentu butuh isinya yakni mebel.
Dibilang indonesia marketnya sangat gede. Besarnya pasar, artinya merupakan modal utama dan bagian daya saing domestik. Karena apa, ketika masyarakat sudah bekerja tentu prioritas adalah kebutuhan rumah tinggal dan pasar Indonesia sangat giant yakni 260 juta orang. Ini masa depan pasar sudah keliahatan betapa besarnya.
Sejauh mana pertumbuhaan industry mebel atau furniture nasional?
Saya bilang, pertumbuhan industri masih stagnan pada level 10 persen per tahun, tetapi Cina, mampu sekitar 12 persen dan begitujuga India. Rata- rata pasar domestik sekitar 40 triliun dengan 15 triliun merupakan pasar impor dan 30 triliun pasar lokal. Kue sebagian sudah direbut asing. Pasar asing sudah masuk dan mengambil ceruk lokal. Produk asing dapat masuk ke Indonesia karena mereka sudah efisien.
Apa yang harus menjadi perhatian pemerintah untuk memacu industry mebel nasional?
Bagaimana untuk produk dalam negeri, kuncinya adalah pemerintah, bagaimana regulasi diciptakan semata agar produksi lebih efisien. Gerakan efisiensi ini dimotori oleh pemerintah, seperti dengan pembangunan zona industri mebel, logistic secara terintegrasi. Pemerintah harus tegas membatalkan aturan yang tak mendukung industry. Seperti di TIongkok, pemerintahnya menggelar pameran sekitar 20 kali selama setahun.
Pasar asing yang masuk seperti Informa, IKEA, Ace Hardware sudah mulai berinvestasi dimana-mana.
Produksi barang-barang mebel mereka yang ada di gerainya sudah efisien. Sedangkan produksi lokal, contohnya membuat gebyok (ukiran dindin Jawa), butuh waktu tiga bulan dengan tenaga kerja 3 orang. Sedangkan dengan teknologi yang efisien butuh hanya tiga hari. Lebih cepat dan investasi murah hanya sekitar 30 jt mesinya. Belum lagi, persoalan tinggainya UMP setiap provinsi.
Pemerintah harus mampu mendukung, para produsen mebel lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Regulasi yang memicu high cost economic harus dipangkas.
Gerai asing itu seharusnya memamerkan produk lokal dengan content 80 persen, dan 20 asing. Tetepi kenyataanya, hanya dibawah 50 persen produk lokal, dengan alasan efisiensi, dan memiliki standar dunia.


